Krisis di Selat Hormuz Bikin Premi Asuransi Kapal Melonjak Tajam
Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran(TASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP)
11:08
10 Mei 2026

Krisis di Selat Hormuz Bikin Premi Asuransi Kapal Melonjak Tajam

- Selat Hormuz masih menjadi jalur berisiko tinggi bagi industri pelayaran global lebih dari dua bulan setelah perang Iran pecah.

Kondisi keamanan yang belum stabil membuat biaya asuransi kapal melonjak tajam.

Profesor manajemen rantai pasok University of Texas, Ed Anderson, mengatakan premi asuransi risiko perang kini naik dari di bawah 1 persen menjadi 3 persen hingga 10 persen dari nilai barang yang diangkut.

Menurut dia, banyak perusahaan pelayaran masih menganggap Selat Hormuz terlalu berbahaya meski sejumlah kapal mulai kembali melintas.

“Mengangkut beberapa kapal sebenarnya tidak memengaruhi industri pelayaran sama sekali,” kata Anderson.

Baca juga: Qatar Kembali Kirim LNG Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

Ketidakpastian bertambah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (4/5/2026) mengumumkan “Project Freedom”, operasi yang disebut bertujuan “membimbing” kapal keluar dari Selat Hormuz.

Dua kapal sempat berhasil melintas. Namun, Trump menghentikan operasi tersebut dua hari kemudian untuk memberi ruang diplomasi mengakhiri perang Iran.

Meski ada jeda konflik, ancaman keamanan di kawasan belum mereda.

Perusahaan pelayaran asal Perancis, CMA CGM Group, mengatakan salah satu kapal kontainernya rusak akibat serangan saat mencoba melintasi selat tersebut.

Ancaman kapal cepat dan drone Iran juga membuat operator kapal tetap berhati-hati.

“Pada akhirnya, semuanya akan kembali pada isu utama risiko dan keselamatan,” kata pengacara maritim Holland & Knight di Washington DC, Sean Pribyl.

“Sepertinya kita belum mendekati kondisi lalu lintas dan navigasi yang lancar melalui selat tersebut,” lanjut dia.

Baca juga: Trump Ancam Iran usai Serangan di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Ribuan kapal masih tertahan

Sebelum perang pecah, sekitar 100 hingga 135 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari, menurut data Lloyd’s List Intelligence.

Kini lalu lintas melambat tajam setelah Iran mewajibkan kapal menjalani pemeriksaan oleh Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebelum mendapat izin berlayar.

Kapal juga diminta melewati rute dekat pantai Iran, menyerahkan data awak dan muatan, bahkan dalam beberapa kasus membayar biaya tertentu.

Pembayaran kepada IRGC berpotensi melanggar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang telah menetapkan kelompok tersebut sebagai organisasi teroris.

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine mengatakan terdapat lebih dari 1.550 kapal dengan sekitar 22.500 pelaut yang masih berada di Teluk Persia.

Berbagai komoditas penting ikut tertahan di kawasan, termasuk minyak mentah, pupuk, dan produk energi lainnya.

Perusahaan pelayaran mulai rugi

Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag Lloyd AG, mengungkapkan krisis Hormuz membuat mereka rugi sekitar 60 juta dollar AS per pekan atau sekitar Rp 1,04 triliun.

Kerugian berasal dari kenaikan harga bahan bakar, premi asuransi, serta gangguan operasional.

Hapag Lloyd memiliki 301 kapal, termasuk empat kapal yang masih terjebak di Teluk Persia.

Perusahaan juga mulai mengalihkan sebagian pengiriman lewat jalur darat dan pelabuhan alternatif.

“Namun, pilihan-pilihan ini terbatas kapasitasnya dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan rute maritim reguler melalui wilayah tersebut,” tulis perusahaan.

Sementara itu, Maersk mengatakan kapal pengangkut kendaraan berbendera Amerika Serikat miliknya, Alliance Fairfax, berhasil keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS.

“Transit selesai tanpa insiden, dan semua awak kapal selamat dan tidak terluka,” kata Maersk.

Pemulihan diperkirakan lambat

Analis energi Verisk Maplecroft, Kaho Yu, menilai pasar energi dan pelayaran global belum akan kembali normal dalam waktu dekat.

“Bahkan dengan keterlibatan diplomatik yang berlanjut, pasar energi kemungkinan tidak akan cepat kembali ke asumsi pra-krisis,” kata Yu.

Menurut dia, perusahaan penyulingan minyak, operator kapal, dan pedagang komoditas masih akan berhati-hati sampai ada bukti nyata situasi benar-benar stabil.

CEO perusahaan manajemen rantai pasok Kinaxis, Razat Gaurav, memperkirakan pemulihan jalur pelayaran akan berlangsung lambat meski gencatan senjata tercapai.

“Bahkan ketika kondisi membaik, operator, perusahaan asuransi, dan pengirim barang membutuhkan keyakinan bahwa stabilitas akan bertahan sebelum kapasitas dan rute sepenuhnya normal,” ujar Gaurav.

Tag:  #krisis #selat #hormuz #bikin #premi #asuransi #kapal #melonjak #tajam

KOMENTAR