Wakil Ketua Komisi V DPR Soroti Mayoritas Pelintasan Sebidang yang Tak Dijaga
- Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda, menyebut terdapat sekitar 3.000 sampai 4.000 pelintasan sebidang pada jalur kereta api di seluruh Indonesia.
Huda mengatakan, selama ini pelintasan sebidang kerap menjadi persoalan yang mengganggu lalu lintas kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line.
Kebanyakan pelintasan sebidang itu tidak dijaga sehingga kerap terjadi kecelakaan.
Baca juga: Investigasi Kecelakaan Kereta Stasiun Bekasi Timur, KNKT: Masih dalam Proses
“Ada sekitar 3.000-4.000 pelintasan sebidang di seluruh Indonesia, di mana mayoritas pelintasan sebidang ini tanpa penjagaan sehingga kerap memicu kecelakaan kereta,” kata Huda dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).
Hal itu disampaikan Huda merespons peristiwa kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Catatan Komisi V sebagai mitra kerja Kementerian Perhubungan, dari 4.000-an pelintasan sebidang itu hanya 1.200 titik yang dijaga.
Penjagaan dilakukan PT KAI, Dinas Perhubungan (Dishub) setempat, maupun pemerintah daerah.
“Sementara ada 2.600 titik yang tanpa penjagaan. Sedangkan sisanya adalah pelintasan liar,” ujar Huda.
Huda mengaku mendapatkan informasi, peristiwa tabrakan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur juga menyangkut pelintasan sebidang yang tidak dijaga.
“Informasi yang kami terima pelintasan sebidang JPL 85 dekat Stasiun Bekasi Timur adalah pelintasan tanpa penjagaan,” kata dia.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga menyoroti tingginya angka ketidakpatuhan masyarakat yang tidak mengutamakan perjalanan kereta.
Pihaknya menyayangkan banyak masyarakat yang memaksakan diri melewati pelintasan sebidang dengan menerobos palang penjagaan.
Padahal, di lokasi tersebut sudah terdapat pemberitahuan bahwa kereta api hendak melintas.
“Akibatnya banyak mobil dan motor yang karena terburu-buru macet di tengah pelintasan dan memicu insiden kecelakaan,” tutur Huda.
“Ini juga yang mungkin terjadi pelintasan JPL 85 di mana taksi ijo nekat melintas dan mogok di tengah rel sehingga tertemper KRL 5181,” tambahnya.
Di sisi lain, Huda juga menyoroti persoalan persinyalan Argo Bromo Anggrek.
Kereta itu seharusnya menurunkan kecepatan atau bahkan menghentikan perjalanannya setelah mendapatkan sinyal gangguan perjalanan kereta akibat persoalan taksi yang tertemper KRL.
“Pertanyaannya kenapa KA Argo Bromo Anggrek tidak menghentikan perjalanannya. Apakah ini persoalan sinyal atau kelalaian manusia (human error),” ujar Huda.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto telah mengecek langsung kondisi kecelakaan tersebut.
Prabowo menyebut, persoalan perlintasan sebidang memang sudah menjadi masalah puluhan tahun.
Di Pulau Jawa saja, kata Prabowo, terdapat 1.800 titik perlintasan sebidang yang belum dijaga.
Prabowo berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut dengan menggelontorkan anggaran Rp 4 triliun melalui skema pembangunan flyover maupun penempatan petugas penjagaan.
“Kita perhitungkan sekitar hampir Rp 4 triliun ya demi keselamatan dan demi karena kita sangat penting sangat perlu kereta api jadi kita keluarkan itu,” kata Prabowo.
Sebelumnya, kereta api jarak jauh Argo Bromo menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi, Kota Bekasi pada Senin (27/4/2026) malam.
KRL tersebut tertahan karena terdapat KRL lain yang menemper taksi sehingga perjalanannya terganggu.
Berdasarkan informasi sementara, taksi itu disebut mati di tengah jalur kereta pada perlintasan sebidang.
Per pukul 08.45 WIB pagi ini, jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan ini mencapai 14 orang dengan 84 korban lainnya luka-luka.
Imbas kecelakaan tersebut, PT KAI membatalkan 19 perjalanan kereta jarak jauh pada hari ini dan menyampaikan permohonan maaf.
Baca juga: Mensos Pastikan Keluarga Korban Kecelakaan Kereta Akan Didampingi, Kemensos Siapkan Asesmen Bantuan
Tag: #wakil #ketua #komisi #soroti #mayoritas #pelintasan #sebidang #yang #dijaga