Inflasi April Diprediksi Turun karena Efek Lebaran Mereda, tapi Daya Beli Masih Lemah
- Badan Pusat Statistik akan mengumumkan data ekonomi nasional April 2026 pada Senin (4/5/2026) pukul 11.00 WIB.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperkirakan inflasi tahunan atau year on year April 2026 berada di kisaran 2,9 persen hingga 3,1 persen.
“Inflasi April ini secara yoy akan lebih rendah dari itu, estimasi saya di kisaran 2,9-3,1 persen,” ujarnya kepada Kompas.com pada Senin (5/5/2026).
Baca juga: Harga Minyak Sempat Tembus 126 Dollar AS per Barrel, Kini Turun Tajam, Risiko Inflasi Mengintai
Wijayanto melihat inflasi yoy cenderung menurun dibandingkan Maret. Efek musiman Lebaran mulai mereda. Daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih.
Ia menilai dampak kenaikan harga energi global masih tertahan. Harga BBM dan LPG subsidi tidak naik. Penyesuaian yang terjadi juga terbatas.
Porsi BBM sekitar 5 persen dari total konsumsi. Porsi LPG sekitar 20 persen. Kondisi ini menahan tekanan harga secara umum.
“Inflasi YoY akan menurun dibandingkan bulan Maret, karena dampak efek seasonal Lebaran mulai melandai, selain itu daya beli masyarakat masih belum kembali,” kata dia.
Wijayanto menambahkan proyeksi inflasi rendah sudah diperkirakan. Perhatian pasar juga terbagi ke isu lain.
Isu tersebut meliputi defisit fiskal, arus keluar modal, pelemahan rupiah, serta penurunan IHSG. Pasar juga mencermati rencana peninjauan indeks MSCI dan peringkat dari S&P.
Baca juga: Harga Emas Dunia Bangkit, Investor Disarankan Cermati Suku Bunga dan Inflasi
Ia melihat risiko kenaikan inflasi pada kuartal II 2026. Tekanan datang dari pangan akibat El Nino. Penyesuaian harga energi juga berpotensi terjadi.
Ia juga menyinggung kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.
“Ada potensi (kuartal II) besar meningkat. Faktor utama adalah inflasi pangan akibat El Nino, dan kapasitas keuangan Pertamina sudah tidak mampu lagi menahan harga LPG dan BBM,” tutupnya.
Data sebelumnya menunjukkan inflasi tahunan mulai melandai pada Maret 2026. Angka inflasi tercatat 3,48 persen. Februari berada di level 4,76 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.
“Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan IHK,” ujar Amalia dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
Tag: #inflasi #april #diprediksi #turun #karena #efek #lebaran #mereda #tapi #daya #beli #masih #lemah