Industri Otomotif Berubah, Teknologi dan AI Jadi Kunci Persaingan
Ilustrasi manufaktur. (SHUTTERSTOCK/JASEN WRIGHT)
21:16
4 Mei 2026

Industri Otomotif Berubah, Teknologi dan AI Jadi Kunci Persaingan

Peta persaingan industri otomotif global mulai mengalami pergeseran mendasar.

Dominasi pabrikan Jepang yang selama puluhan tahun menguasai pasar Indonesia kini menghadapi tekanan baru dari produsen asal China, seiring perubahan kompetisi dari aspek produksi menuju penguasaan teknologi kendaraan.

Produsen kendaraan listrik asal China dinilai unggul dalam otomatisasi pabrik, integrasi perangkat lunak, serta kecepatan inovasi.

Baca juga: GPSO Masuk Industri Komponen Otomotif, Akuisisi Aset Pabrik Besi Tuang Rp 78,5 M

Ilustrasi pabrik BYD. Dok. BYD Ilustrasi pabrik BYD.

Kondisi ini mendorong perubahan lanskap industri, di mana persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada harga dan kapasitas produksi, melainkan pada kemampuan teknologi dan digitalisasi kendaraan.

CEO Honda Motor Toshihiro Mibe, misalnya, mengungkapkan pengalamannya saat mengunjungi fasilitas produksi di Shanghai, China.

Ia menilai tingkat otomatisasi yang diterapkan di pabrik tersebut jauh melampaui ekspektasi, sehingga menimbulkan keraguan untuk mengejar ketertinggalan dalam waktu singkat.

Pandangan serupa disampaikan CEO Volkswagen Oliver Blume. Menurut dia, kekuatan industri otomotif China tidak hanya terletak pada skala pasar, tetapi juga pada kecepatan dalam mengeksekusi transformasi menuju elektrifikasi dan digitalisasi kendaraan.

Baca juga: Bisnis Logistik Otomotif Menguat, IPCC Catat Laba Rp 256 Miliar

“Hal yang sangat positif yang kami alami di China adalah tingkat disiplin yang tinggi dan kemauan untuk mengeksekusi,” kata Blume.

Ilustrasi kendaraan melintas di tol layang Jakarta-Cikampek II, Bekasi Jawa Barat. Dok. ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH Ilustrasi kendaraan melintas di tol layang Jakarta-Cikampek II, Bekasi Jawa Barat.

Di pasar domestik, perubahan ini mulai tercermin pada kinerja penjualan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales kendaraan elektrifikasi pada Februari 2026 meningkat 25 persen dibandingkan Januari, menjadi 18.721 unit.

Salah satu merek yang menunjukkan agresivitas di Indonesia adalah BYD. Secara retail, penjualan perusahaan tersebut naik sekitar 42,9 persen, dari 2.516 unit pada Januari 2026 menjadi 3.596 unit pada Februari 2026.

Namun, kompetisi tidak berhenti pada kendaraan listrik. Industri otomotif global kini bergerak menuju penguasaan perangkat lunak, sensor, dan kecerdasan buatan.

Baca juga: Perang AS–Iran Ancam Industri Otomotif Global, Toyota hingga Chery Terdampak

Riset Mobility Foresight memproyeksikan pasar software-defined vehicle (SDV) di Indonesia akan tumbuh hampir empat kali lipat, dari 18,2 miliar dollar AS pada 2025 menjadi 69,5 miliar dollar AS pada 2031.

Indonesia: pasar besar yang diperebutkan

Di tengah perubahan tersebut, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis sebagai pasar potensial.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebutkan bahwa rasio kepemilikan mobil nasional masih relatif rendah, yakni sekitar 99 unit per 1.000 penduduk. Angka ini jauh di bawah Malaysia yang mencapai 450 unit dan Thailand sebesar 270 unit.

Kondisi tersebut membuka ruang pertumbuhan sekaligus meningkatkan intensitas persaingan di seluruh segmen kendaraan, baik listrik, hybrid, maupun konvensional. Pemerintah pun merespons dengan memperkuat kebijakan lokalisasi industri otomotif.

Baca juga: Buruh Otomotif-Sparepart Tolak Impor 105.000 Pikap India

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) saat ini tengah menyiapkan skema insentif otomotif untuk 2026 dengan pendekatan yang lebih rinci. Kebijakan ini mencakup pengaturan terkait tingkat komponen dalam negeri (TKDN), standar emisi, hingga segmentasi kendaraan.

“Perbedaannya terdapat pada segmen, teknologi, dan bobot TKDN dalam setiap kendaraan. itu yang sekarang kami buat lebih detail,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Ilustrasi pabrik mobil. Dok. Shutterstock Ilustrasi pabrik mobil.

Meski demikian, penguatan komponen lokal dinilai belum cukup untuk menjaga daya saing dalam jangka panjang.

Industri juga dituntut meningkatkan kemampuan teknologi, integrasi sistem, serta penguatan rantai pasok agar tetap sesuai dengan standar global yang terus berkembang.

Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis Tembus Sektor Otomotif, Pertanian, dan Pangan

Persaingan bergeser ke teknologi

Perubahan lanskap industri turut mendorong perusahaan teknologi otomotif global untuk memperbesar investasi pada pengembangan perangkat lunak kendaraan.

Laporan MarketsandMarkets mencatat bahwa kendaraan premium saat ini dapat memuat hingga 150 juta baris kode perangkat lunak yang tersebar di ratusan komponen digital.

Bosch menjadi salah satu perusahaan yang melihat tren ini sebagai peluang pertumbuhan. Perusahaan tersebut memproyeksikan pasar perangkat lunak otomotif global akan mencapai sekitar 200 miliar euro pada 2030.

“Dalam kompetisi internasional, faktor penentu bukan hanya biaya, melainkan kemampuan diferensiasi,” ujar Chairman Robert Bosch GmbH Stefan Hartung dalam pernyataan tertulis, Senin (4/5/2026).

Baca juga: Emiten Komponen Otomotif Indospring (INDS) Bidik Pasar Timur Tengah

Bosch telah mengembangkan berbagai teknologi berbasis kecerdasan buatan dan sensor untuk kendaraan. Salah satunya melalui Bosch AI Extension Platform yang memungkinkan kendaraan mengenali pengemudi dan menyesuaikan fitur secara otomatis.

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan sensor inersia untuk kendaraan otonom agar tetap mampu membaca posisi secara presisi tanpa bergantung penuh pada GPS.

“Sensor ini bekerja seperti indra keseimbangan di telinga bagian dalam manusia,” kata Hartung.

Di Indonesia, Bosch memperkuat pengembangan ekosistem lokal melalui teknologi seperti electronic control unit (ECU), battery management system (BMS), serta sistem mobilitas terhubung.

Baca juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi RI, BCA Expoversary 2026 Tebar Promo Properti hingga Otomotif

“Prioritas kami adalah membangun kapabilitas, memperkuat kemitraan, dan menghadirkan teknologi lebih dekat ke pasar,” jelas Managing Director Bosch Indonesia Pirmin Riegger.

Tag:  #industri #otomotif #berubah #teknologi #jadi #kunci #persaingan

KOMENTAR