Gerai Es Krim Mixue dan Bingxue Apakah Sama? Cek Faktanya
Di tengah menjamurnya gerai es krim dan minuman kekinian dengan harga terjangkau di Indonesia, dua merek yang sering disebut adalah Mixue dan Bingxue.
Keduanya identik dengan harga murah, porsi besar, dan ekspansi yang sangat masif. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah Mixue dan Bingxue berasal dari perusahaan yang sama?
Meskipun memiliki kemiripan nama dan konsep bisnis, jawabannya adalah tidak. Keduanya adalah entitas yang sepenuhnya berbeda.
Untuk mengetahui lebih lanjut apa saja perbedaannya, mari simak ulasan berikut.
Asal-usul dan Kapan Didirikan
Perbedaan mendasar pertama terletak pada sejarah dan usia merek. Mixue adalah pemain lama di industri ini.
Didirikan oleh Zhang Hong Chao pada tahun 1997 di Zhengzhou, China, Mixue memulai perjalanannya dari sebuah kedai es serut kecil.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Mixue telah membangun ekosistem rantai pasokan yang sangat kuat, memungkinkannya mendominasi pasar global dengan puluhan ribu gerai.
Di sisi lain, Bingxue merupakan merek yang lebih muda. Dikelola oleh Jinan Baodao Enterprise Management Consulting Co., Ltd., gerai pertama Bingxue baru dibuka pada tahun 2014 di Shandong, China.
Meskipun tergolong pendatang baru dibandingkan Mixue, Bingxue dengan cepat mengadopsi strategi ekspansi serupa dan memfokuskan diri pada kombinasi produk "Ice Cream, Coffee, and Drinks".
Identitas Visual dan Maskot
Secara visual, kedua merek ini sangat mudah dibedakan jika kita memperhatikan detailnya.
Mixue sangat identik dengan warna merah cerah dan putih. Maskot mereka, Snow King, adalah boneka salju yang mengenakan mahkota merah dan memegang tongkat es krim. Snow King telah menjadi ikon budaya populer yang sangat dikenal di media sosial.
Sementara itu, Bingxue menggunakan identitas warna yang cenderung lebih dingin, yakni perpaduan oranye dan putih.
Maskot mereka bukan lagi manusia salju, melainkan seekor beruang kutub bernama Bobo Bear.
Strategi Produk dan Pasar
Meskipun keduanya menjual es krim cone dan teh buah, terdapat perbedaan fokus pada menu.
Mixue sangat menekankan pada efisiensi biaya produksi melalui pabrik internal mereka sendiri, yang membuat harga produk mereka sulit dikalahkan oleh pesaing.
Produk unggulan mereka seperti es krim vanilla dan fresh lemonade menjadi daya tarik utama.
Bingxue, di sisi lain, sering mempromosikan keragaman menu yang menyertakan kopi dalam lini produk utamanya.
Dengan slogan yang menekankan pada kualitas global, Bingxue berusaha memposisikan diri sebagai alternatif yang menawarkan variasi rasa yang berbeda namun tetap di rentang harga yang kompetitif bagi masyarakat luas.
Kesimpulannya, Mixue dan Bingxue bukan berasal dari satu perusahaan yang sama.
Kemiripan nama mereka berasal dari penggunaan kata mandarin "Bing" (es) dan "Xue" (salju) yang merupakan kata umum untuk bisnis minuman dingin di Cina.
Mixue adalah sang pelopor dengan sejarah panjang sejak 1997, sedangkan Bingxue adalah penantang kuat yang tumbuh pesat sejak 2014.
Sebagai konsumen, kita kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati camilan manis berkualitas tanpa harus menguras kantong.
Mixue Tutup Ratusan Gerai
Mixue resmi masuk ke Indonesia pada tahun 2020. Gerai pertamanya berlokasi di Cihampelas Walk (Ciwalk), Kota Bandung, Jawa Barat.
Setelahnya, perusahaan ini berkembang pesat di seluruh Indonesia hingga ribuan gerai.
Tetapi setelah ekspansi yang luar biasa masif, Mixue menutup ratusan gerai sepanjang tahun 2025 di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan mencatat jumlah gerai internasional Mixue menyusut total 428 unit sepanjang tahun 2025.
Penurunan itu terjadi ketika Mixue mulai operasional bisnis waralaba di luar China serta menyeleksi gerai-gerai yang dinilai kurang efisien.
Meski jumlah tokonya menyusut, pendapatan perusahaan ini justru melonjak. Tahun lalu mereka mencatatkan pendapatan naik mencapai 35 persen menjadi 33,56 miliar yuan atau sekitar Rp84,92 triliun. Begitu pula dengan laba bersih yang naik 33 persen menjadi 5,93 miliar yuan atau sekitar Rp14,98 triliun.