Trump Lontarkan Sinyal Damai dengan Iran saat Cadangan Minyak AS Merosot Tajam
Ilustrasi pump jack di kilang di Kansas, USA [Unsplash/Jack W]
12:00
6 Mei 2026

Trump Lontarkan Sinyal Damai dengan Iran saat Cadangan Minyak AS Merosot Tajam

Sentimen pasar komoditas energi global mengalami perubahan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan adanya peluang kesepakatan damai untuk mengakhiri ketegangan militer dengan Iran.

Kabar ini langsung memicu penurunan harga minyak mentah dunia selama dua hari berturut-turut pada perdagangan Rabu (6/5/2026), seiring dengan ekspektasi pelaku pasar bahwa pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah yang sempat tertahan dapat segera kembali mengalir normal.

Koreksi Harga Brent dan WTI di Pasar Internasional

Berdasarkan data perdagangan pada Rabu pagi, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan sebesar US$1,89 atau sekitar 1,7 persen ke level US$107,98 per barel.

Koreksi ini melanjutkan tren pelemahan setelah pada sesi perdagangan hari sebelumnya komoditas acuan global tersebut sempat anjlok hingga 4 persen.

Kondisi serupa juga membayangi minyak mentah pasaran Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI). Harga minyak WTI terpantau melemah US$1,83 atau sekitar 1,8 persen ke posisi US$100,44 per barel. Penurunan ini memperpanjang catatan koreksi WTI yang pada hari sebelumnya ditutup melemah 3,9 persen.

Walaupun mengalami penurunan, para pelaku pasar mencatat bahwa posisi harga kedua jenis minyak tersebut masih berada di atas level psikologis US$100 per barel akibat ketidakpastian riil yang masih membayangi pasar keuangan.

Penurunan harga komoditas cair ini dipicu oleh pernyataan mengejutkan dari Donald Trump pada Selasa waktu setempat.

Melalui akun media sosial pribadinya, Trump mengumumkan keputusan untuk menghentikan sementara waktu operasi militer pengawalan kapal komersial yang dinamakan "Project Freedom" di kawasan Selat Hormuz.

Langkah ini diambil menyusul adanya klaim kemajuan positif dalam penyusunan draf kesepakatan komprehensif dengan pihak Teheran.

"Kami telah sepakat bersama bahwa, meskipun Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Proyek Kebebasan ... akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat guna melihat apakah Perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani atau tidak," tulis Trump dalam unggahannya.

Meskipun operasi pengawalan kapal ditundaskan sementara untuk memberikan ruang bagi diplomasi, Trump menegaskan bahwa blokade militer oleh Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran akan tetap diberlakukan secara penuh.

Pengumuman sepihak dari Gedung Putih ini dirilis hanya beberapa jam setelah Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, memberikan pengarahan kepada media mengenai strategi pengawalan kapal-kapal tanker yang sempat terjebak di selat strategis tersebut.

Donald Trump [The White House]Donald Trump [The White House]

Sebelumnya pada hari Senin, militer AS melaporkan telah menghancurkan beberapa kapal kecil, rudal jelajah, dan drone milik Iran saat mengawal dua kapal komersial keluar dari kawasan Teluk. Hingga saat ini, pihak otoritas di Teheran belum memberikan respons resmi terkait klaim kemajuan kesepakatan damai tersebut.

Penutupan dan hambatan logistik di Selat Hormuz sebelumnya telah memaksa harga minyak Brent melonjak tajam pekan lalu hingga menyentuh level tertinggi sejak Maret 2022. Selat ini merupakan jalur logistik paling krusial bagi distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara produsen di Teluk Persia menuju pasar internasional.

Menanggapi perkembangan terbaru ini, Anh Pham, spesialis riset senior untuk komoditas minyak di LSEG, menyatakan bahwa pasar melihat adanya indikasi de-eskalasi konflik yang nyata yang dapat mencairkan kekhawatiran pelaku industri global.

"Hal ini menandakan potensi penurunan ketegangan dan meningkatkan harapan untuk pembebasan kapal-kapal yang terdampar di Teluk, yang secara bertahap dapat mengembalikan pasokan ke pasar," ujar Anh Pham, dilansir dari Reuters.

Namun, Pham juga mengingatkan bahwa pemulihan penuh arus perdagangan global tidak dapat terjadi dalam sekejap. Meskipun kesepakatan damai nantinya berhasil ditandatangani oleh kedua belah pihak, rantai pasok energi internasional membutuhkan waktu transisi yang cukup lama untuk kembali berjalan normal, yang menjadi alasan utama mengapa harga minyak saat ini masih bertahan di level yang relatif tinggi.

Di tengah menurunnya harga minyak akibat faktor sentimen geopolitik, data fundamental pasar fisik justru memperlihatkan kondisi pasokan yang kian mengetat.

Hambatan perdagangan di Selat Hormuz selama beberapa pekan terakhir telah memaksa banyak kilang minyak di berbagai belahan dunia menguras cadangan internal mereka guna menutupi kekurangan pasokan bahan baku dari Timur Tengah.

Menurut data terbaru dari American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir pada 1 Mei, stok minyak mentah komersial Amerika Serikat mengalami penurunan drastis selama tiga minggu berturut-turut.

Cadangan minyak mentah komersial di AS dilaporkan merosot tajam hingga 8,1 juta barel.

Tidak hanya minyak mentah, persediaan produk hilir dan konsumsi pun ikut mengalami penyusutan signifikan dalam periode yang sama:

Persediaan Bensin (Gasoline): Tercatat mengalami penurunan sebanyak 6,1 juta barel.

Cadangan Produk Distilat (Distillate): Menyusut hingga 4,6 juta barel jika dibandingkan dengan posisi pekan sebelumnya.

Kondisi penurunan stok domestik AS yang masif ini menjadi faktor penahan teknis agar harga minyak dunia tidak merosot terlalu dalam di tengah optimisme damai yang ditiupkan oleh Washington.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #trump #lontarkan #sinyal #damai #dengan #iran #saat #cadangan #minyak #merosot #tajam

KOMENTAR