Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Rupiah Malah Loyo ke Rp 17.400
- Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS berada dalam tren pelemahan usai laporan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga pukul 12.17 WIB hari ini, rupiah kembali bergerak di level 17.000-an.
Kurs rupiah tercatat berada di level 17.406 atau masih menguat 18 poin setara 0,10 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Tadi pagi, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat saat pembukaan perdagangan Rabu (6/5/2026). Mata uang Garuda naik 0,24 persen ke level Rp 17.383 per dollar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, posisi rupiah berada di area Rp 17.424 per dollar AS ketika penutupan perdagangan Selasa kemarin.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Gas Mahal, Industri Keramik: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga...
Nilai tukar rupiah melemah sejak awal perdagangan Selasa (5/5/2026). Rupiah dibuka di level Rp 17.420 per dollar Amerika Serikat.
Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang melemah hingga sempat mencapai kisaran Rp 17.400 per dollar AS menunjukkan, pasar melihat lebih dari sekadar angka gross domestic product (GDP) headline.
"Pertumbuhan impor yang mencapai 7,18 persen secara tahunan, jauh lebih tinggi dibanding ekspor yang hanya 0,90 persen secara tahunan, menunjukkan ekspansi ekonomi saat ini juga meningkatkan kebutuhan valuta asing dan memperbesar tekanan eksternal," kata dia dalam keterangan tertulis.
Sedikit catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan.
Ia menambahkan, Kiwoom Research menilai kondisi ini sebagai indikasi pertumbuhan tanpa pendalaman (growth without depth).
Hal tersebut berarti, pertumbuhan terlihat kuat secara angka tetapi belum sepenuhnya berkualitas dan berkelanjutan.
"Validasi nyata dari jargon pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan harus tercermin pada indikator riil yang berkualitas seperti kenaikan upah riil, penurunan kemiskinan dan pengangguran, serta penguatan konsumsi non-subsidi dan tabungan masyarakat bawah," ucap Liza.
Baca juga: Rupiah Pagi Menguat ke Rp 17.383 Per Dollar AS
Dari sisi pasar, ia berpandangan, pembuktian paling krusial adalah kembalinya arus modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan saham serta perbaikan neraca eksternal.
"Tanpa perbaikan indikator-indikator tersebut, angka 5,61 persen lebih tepat dibaca sebagai pertumbuhan berbasis stimulus fiskal dan proyek tahap awal, bukan perbaikan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan," ucap Liza.
Pertumbuhan ekonomi bergantung dorongan fiskal dan program pemerintah
Pada penutupan pasar Selasa (5/5/2026), IHSG ditutup menguat 85 poin atau setara 1,22 persen dan balik ke atas level 7.000, tepatnya di level 7.057.
Dalam perdagangan kemarin, asing masih tercatat jual bersih Rp 318 miliar setelah Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I-2026.
Liza berujar, hasil tersebut melampaui ekspektasi pasar, tetapi komposisi pertumbuhan menunjukkan ketergantungan kuat pada dorongan fiskal dan program pemerintah.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, tetapi lonjakan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen secara tahunan menjadi faktor pembeda utama dibandingkan tahun sebelumnya.
"Didorong oleh percepatan belanja negara, distribusi THR, serta implementasi program prioritas dalam skala besar," imbuh dia.
Program MBG menciptakan lojakan aktivitas ekonomi
Liza menerangkan, salah satu pendorong paling agresif datang dari program MBG yang secara statistik menciptakan lonjakan aktivitas ekonomi signifikan.
Dalam kurun satu tahun, skala program melonjak drastis dari 900 dapur pada kuartal I-2025 menjadi 26.066 dapur pada kuartal I-2026, dengan volume produksi naik dari 2,5 juta menjadi 60 juta porsi per hari.
Di sisi lain, jumlah tenaga kerja meningkat dari 45.000 menjadi 1,3 juta orang, sementara perputaran uang harian melonjak dari Rp 37,5 miliar menjadi sekitar Rp 900 miliar per hari.
Hal ini mencerminkan ekspansi lebih dari 2.400 persen secara tahunan. Namun demikian, dampak ekonomi dari lonjakan ini masih sangat terkonsentrasi pada rantai pasok tertentu, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat secara luas.
Investasi ditopang proyek Danantara
Di sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB ) alias investasi tumbuh 5,96 persen secara tahunan. Angka tersebut mendapatkan dukungan awal proyek hilirisasi dan investasi besar seperti Danantara.
Pada kuartal I-2026, tercatat 13 proyek hilirisasi telah memasuki tahap groundbreaking sejak 6 Februari 2026 dengan nilai investasi sekitar 7 miliar dollar AS atau hampir Rp 120 triliun, meskipun serapan tenaga kerja langsung masih terbatas di kisaran 6.000 orang.
"Hal ini menunjukkan kontribusi terhadap GDP sudah mulai tercatat secara akuntansi, namun efek multiplier terhadap ekonomi riil masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya terasa," ungkap Liza.
Selain itu, berbagai program prioritas pemerintah lainnya juga mulai masuk fase pembangunan fisik. Sekitar 30.000 gerai Koperasi Desa Merah Putih, 35 desa nelayan, 4 Sekolah Garuda, serta 93 Sekolah Rakyat permanen telah masuk tahap konstruksi pada kuartal I-2026.
Pembangunan ini dipercaya meningkatkan aktivitas sektor konstruksi, tetapi tetap mencerminkan fase awal pembangunan, bukan output produktif yang sudah matang.
Di sisi lain, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi sebesar 2,14 persen secara tahunan. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan dari sisi produksi akibat pembatasan RKAB dan transisi kebijakan hilirisasi serta bea keluar yang malah bikin perusahaan batasi volume produksi.
"Hal ini memperlihatkan bahwa sektor berbasis ekspor belum berkontribusi optimal dalam menopang pertumbuhan kali ini, bahkan di kala harga komoditas sudah mulai bullish," ucap Liza.
Konflik Timur Tengah masih tekan rupiah
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menerangkan, tekanan nilai tukar rupiah juga datang dari situasi geopolitik.
Tekanan berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada awal pekan. Serangan militer terjadi di kawasan Teluk.
Situasi ini meruntuhkan gencatan senjata yang sebelumnya sudah rapuh dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Militer Amerika Serikat dilaporkan menghancurkan enam kapal serang kecil milik Iran di Selat Hormuz.
Ketegangan bertambah setelah Iran menyerang infrastruktur energi di Uni Emirat Arab. Target termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah.
“Militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut. Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah," ungkap dia.
Rupiah diklaim tahan banting
Di sisi lain, rupiah justru dinilai tahan banting dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lain.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menyebut tren ini sejalan dengan pasar global.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujar Erwin di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Data menunjukkan pelemahan rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik.
Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen dan baht Thailand 5,04 persen. Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen.
Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan di berbagai pasar, termasuk Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata Erwin.
Tekanan rupiah beriringan dengan kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini memperbesar dampak ke ekonomi domestik.
Harga minyak melonjak tajam pada awal pekan. Minyak Brent naik 6,27 dollar AS menjadi 114,44 dollar AS per barrel. Minyak West Texas Intermediate naik 4,48 dollar AS ke level 106,42 dollar AS per barrel.
Tag: #balik #pertumbuhan #ekonomi #persen #rupiah #malah #loyo #17400