Kisah Slamet, Eks Karyawan Mebel yang Banting Setir jadi Juragan Wingko Babat
- Rasa bosan terkadang bisa menjadi momentuk bagi seseorang untuk mengubah garis hidupnya. Hal inilah yang dialami oleh Slamet, seorang mantan karyawan perusahaan mebel yang kini sukses merintis usaha Wingko Babat.
Slamet berkisah, perjalanannya dimulai dari sebuah titik jenuh saat ia masih bekerja di salah satu raksasa produsen mebel pada medio 2014 silam.
Alih-alih bertahan di zona nyaman sebagai karyawan, ia memilih untuk mulai mempelajari proses produksi wingko secara mandiri.
"Tahun 2014 kami fokus, kalau tadinya itu kan istilahnya samben-samben (sambilan). Setiap pagi jualan, terus siangnya masuk kantor," kata dia ketika ditemui di rumah produksin, Kamis (7/5/2026).
Meski baru benar-benar fokus di medio 2014, Slamet mengaku sudah mulai menjajal produksi wingko babat sejak 2010 dengan bekal belajar pada pedagang wingko asal Lamongan yang sudah lebih dulu terjun ke usaha ini.
Wingko babat sendiri merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari campuran kelapa muda parut, tepung beras ketan, dan gula dan memiliki cita rasa masih dan gurih.
Dengan modal belajar kurang dari setahun, Slamet mengaku berani memulai bisnis wingko babat ini.
Pada mulanya, ia tak langsung memproduksi dalam skala besar, melainkan dari volume yang sangat kecil.
"Beli bahan baku dari 2 kilo, 3 kilo, begitu. Jadi terus mengembang-mengembang," imbuh dia dia.
Baca juga: Kredit UMKM Tumbuh Tipis, OJK Dorong Akses Pembiayaan Lebih Mudah
Modal awal dan pinjaman Rp 5 juta
Dalam membangun bisnis UMKM-nya, Slamet mengandalkan permodalan dari perbankan.
Ia mengenang pinjaman pertamanya sebesar Rp 5 juta dari bank pelat merah yang digunakan untuk menambah kapasitas produksi.
Salah satu lompatan besar dalam usahanya adalah kepemilikan alat produksi sendiri.
Dulu, ia harus bergantung pada parutan kelapa dari pasar yang harganya tentu lebih mahal dibandingkan mengolah kelapa utuh.
"Dulu kelapa kan kami ambil dari pasar. Sampai sekarang itu bisa parut sendiri. Dengan modal 5 juta itu bisa beli mesin parut. Tadinya tidak punya, akhirnya sampai bisa terpunyai. Sekarang kelapanya bisa dibeli sendiri," tutur dia.
Saat ini, kapasitas dapur produksinya sudah jauh meningkat.
Ketika awalnya hanya menggunakan kompor sederhana, kini ia sudah mengoperasikan 12 tungku dari enam unit kompor untuk mencapai target produksi harian.
Ia masih menggunakan cara konvensional dengan menitipkan wingko babat buatannya ke warung-warung kelontong.
Namun, cara ini justru dinilai masih efektif dan dapat memberikan keuntungan bagi bisnis wingko babat ini.
Baca juga: Kisah Hawien Wilopo, Sukses Bisnis Batik Lasem Beromzet Ratusan Juta
Tantangan harga bahan baku
Namun, perjalanan Slamet tak selamanya mulus. Setelah pandemi Covid-19, ia mengaku ada penurunan tren permintaan.
Selain itu, menekan harga bahan baku seperti kelapa super dan tepung ketan menjadi tantangan tersendiri bagi margin usahanya.
"Sekarang akui aku emang ini agak menurun. Kena harga plastik juga, jadi tepungnya juga naik. Harga 30.000 (per loyang) ini karena kemarin kelapa sempat diekspor, jadi kelapa mahal banget waktu itu. Ini sudah lumayan agak turun," jelas Slamet.
Menariknya, meski dihantam kenaikan biaya produksi, Slamet belum berencana menaikkan harga jual di tingkat pelanggan.
Saat ini ia mematok harga Rp 30.000 per loyang wingko, yang bisa dipotong menjadi 10 hingga 14 bagian tergantung pesanan.
Di pasaran, harga wingko babat milik Slamet dibanderol sekitar Rp 2.500. Ia memang sengaja tidak memberikan merek pada wingko babat produksinya.
Tembus pasar internasional
Kualitas wingko babat Slamet terbukti mampu bersaing. Meski tanpa bahan pengawet dan hanya bertahan 3-4 hari di suhu ruangan, produk ini sering dibawa sebagai buah tangan ke luar kota, bahkan hingga ke luar negeri.
"Bisa keluar kota, keluar Jawa bisa. Keluar Indonesia juga bisa. Pernah ke Palestina pun dia dulu, dibawa. tidak ada komplain, berarti ya baik-baik saja," kata dia.
Hingga saat ini, ia mengerjakan semua usahanya berdua dengan istrinya yang bernama Novi. Dalam sehari, usahanya mampu memproduksi sekitar 15-20 loyang wingko babat.
Di samping membuat wingko babat, ia juga memiliki usaha sampingan berupa menjual kelapa parutan.
Usaha ini diakuinya mampu menambah penghasilan ketika pesanan wingko babat sedang sepi.
Adapun bahan baku kelapa yang digunakan adalah bahan yang tidak dapat digunakan untuk membuat wingko atau kelapa tua.
Dalam sehari ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000 dari usaha wingko babat sendiri.
Dalam waktu tertentu, usaha parutan kelapanya justru bisa mengungguli omzet harian dari usaha wingko babat.
Slamet menyebut, setahun lalu ia baru saja mencairkan pinjaman senilai Rp 50 juta dengan tenor 3 tahun.
Ia mengaku nyaman karena mengetahui kredit usaha rakyat (KUR) yang diambil telah dijamin PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).
Baca juga: Kisah Michael Bambang Hartono, Bos BCA yang Pernah Jadi Nasabah BRI
Penjaminan KUR Askrindo di Semarang tumbuh
Ilustrasi gedung AskrindoBranch Manager Askrindo Semarang Gami Aji L. mengungkapkan, total penjaminan KUR Askrindo di Kantor Cabang Semarang mencapai Rp 1,3 triliun hingga April 2026, dengan jumlah debitor mencapai 24.000 orang.
"Total premi yang kami kumpulkan selama 2026 sampai dengan April itu Rp 40,2 miliar. Total klaim gabungan Rp 10,7 miliar," ucap dia dalam Media Gathering, Kamis (7/5/2026).
Ia menambahkan, total premi gabungan dari kantor cabang Askrindo Semarang tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, Gami menambahkan, total laba gabungan mencapai Rp 22,2 miliar.
Angka tersebut tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sedikit catatan, Kantor Cabang Askrindo di Semarang membawahi dua kota dan empat kabupaten yakni Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kebupaten Demak, dan Kabupaten Grobogan.
Kinerja premi regional tumbuh
Sementara itu, Regional Office Head III Askrindo Semarang Henry Sabar menjelaskan, premi kawasan di bawah Regional Office Head III yang mencakup Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kenaikan 9 persen secara tahunan pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Cakupan kita malah meningkat 9 persen, kalau dari Jateng dan DIY itu memang kebanyakan di pesisir, banyak perdagangan, kemudian juga nelayan di pesisir," ucap dia.
Kemudian, Regional Office Head III Askrindo membukukan laba pada kuartal I-2026 senilai Rp 66 miliar.
Henry menerangkan, angka tersebut naik 8 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Sudah mulai membaik kondisi," tutup dia.
Tag: #kisah #slamet #karyawan #mebel #yang #banting #setir #jadi #juragan #wingko #babat