Harga Solar Melonjak Buat Truk Listrik Makin Cepat Kuasai Pasar China
Proses perakitan truk listrik buatan VKTR.(ANTARA/HO-VKTR)
16:20
8 Mei 2026

Harga Solar Melonjak Buat Truk Listrik Makin Cepat Kuasai Pasar China

Lonjakan harga solar akibat perang Iran diperkirakan akan mempercepat peralihan truk berat di China ke kendaraan listrik.

Tren ini dinilai dapat mempercepat penurunan konsumsi bahan bakar di negara pengimpor minyak terbesar dunia tersebut.

Penjualan truk berat listrik di China meningkat tajam dalam dua tahun terakhir. Kendaraan yang sebelumnya hanya dipakai di segmen terbatas kini mulai mendominasi pasar.

Data CVWorld.cn menunjukkan penjualan truk berat energi baru, yang mayoritas berbasis listrik, naik 45 persen secara tahunan menjadi 44.000 unit pada awal 2026.

Porsinya kini mencapai lebih dari seperempat total penjualan truk berat baru. Sebagai perbandingan, tahun lalu angkanya masih di bawah 20 persen.

Baca juga: QRIS Indonesia-China Dibuka, UMKM RI Mulai Bidik Pembeli Global

Pertumbuhan ini didorong subsidi pemerintah, biaya operasional yang lebih murah, serta perluasan infrastruktur pengisian daya.

CVWorld.cn juga memperkirakan penjualan pada April tumbuh 30 persen. Faktor pendorongnya berasal dari kenaikan harga minyak dan permintaan musiman yang lebih kuat.

"Perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik di China, yang pasti akan mempercepat penggantian truk tradisional," kata analis senior S&P Global Mobility, Min Ji, dilansir Reuters, Jumat (8/5/2026).

Ia menyebut lembaganya akan merevisi proyeksi penjualan truk listrik dalam waktu dekat.

Saat ini, sebagian besar truk berat listrik di China digunakan untuk rute jarak pendek, seperti jalur industri dan distribusi logistik. Rata rata jangkauannya sekitar 300 kilometer.

Namun, kapasitas kendaraan mulai meningkat. Produsen seperti Sany sudah memasarkan truk dengan jarak tempuh hingga 600 kilometer.

Baca juga: Indonesia-China Perkuat Kerja Sama Inovasi Industri lewat Kemitraan BRICS

Perkembangan ini mempercepat perubahan besar di sektor energi China. Elektrifikasi kendaraan penumpang dan pertumbuhan truk listrik maupun berbahan bakar gas alam cair mulai menekan konsumsi diesel dan bensin.

Padahal, selama beberapa dekade, konsumsi bahan bakar di China terus meningkat.

Sejumlah lembaga kini memperkirakan penurunan penggunaan diesel akan lebih cepat dari prediksi awal.

GL Consulting memperkirakan konsumsi diesel China turun 4,3 persen tahun ini. Sebelum perang Iran, proyeksinya masih 4,1 persen.

Sementara itu, Rystad Energy memprediksi permintaan diesel turun 5 persen, lebih dalam dibanding perkiraan sebelumnya sebesar 4 persen. Penurunan tambahan itu setara sekitar 40.000 barel per hari.

Kenaikan harga solar menjadi faktor utama. Harga eceran diesel di China melonjak 27 persen sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak rekor empat tahun lalu.

Kondisi ini membuat biaya operasional truk diesel semakin mahal. Harga truk berat listrik memang lebih tinggi, tetapi selisihnya mulai menyempit.

Harga truk listrik di China kini di atas 500.000 yuan atau sekitar 73.500 dollar AS. Jika dikonversi dengan kurs Rp 17.360 per dollar AS, nilainya sekitar Rp 1,27 miliar.

Sebagai perbandingan, truk diesel dijual di atas 300.000 yuan atau sekitar Rp 764 juta.

Pemerintah China juga memperpanjang program subsidi tukar tambah hingga akhir tahun. Insentif ini memangkas hampir separuh selisih harga antara truk listrik dan diesel.

Dalam jangka panjang, biaya penggunaan truk listrik dinilai jauh lebih rendah.

GL Consulting memperkirakan total biaya kepemilikan truk listrik selama masa operasional 1 juta kilometer hanya sekitar separuh dari truk diesel, termasuk biaya pembelian, energi, dan operasional.

Keunggulan harga ini juga mendorong ekspansi produsen China ke pasar global.

Reuters melaporkan sedikitnya 12 produsen China berencana masuk ke pasar Eropa tahun ini. Salah satunya adalah Sany, merek truk listrik terbesar di China.

Harga truk listrik buatan China disebut bisa hingga sepertiga lebih murah dibanding harga rata rata di Eropa.

Badan Energi Internasional mencatat penjualan truk listrik di China mencapai 160.000 unit sepanjang 2024. Angka itu jauh di atas Eropa yang masih di bawah 25.000 unit.

Wakil General Manager Sany, Chen Dong, sebelumnya memperkirakan pasar truk traktor listrik di China tumbuh 50 persen menjadi 250.000 unit pada 2025.

"Sejauh ini, mengingat kenaikan harga minyak, peluang untuk mencapai target ini semakin meningkat," ujar Chen kepada Reuters.

Tag:  #harga #solar #melonjak #buat #truk #listrik #makin #cepat #kuasai #pasar #china

KOMENTAR