Papua Punya 11 Blok Migas, Produksi Gas 2.000 MMSCFD, Minyak 14.000 Barrel
Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman saat mengunjungi Kilang Pertamina RU VI Balongan, Kamis (12/3/2026)(KOMPAS.com/HANDHIKA RAHMAN)
19:44
9 Mei 2026

Papua Punya 11 Blok Migas, Produksi Gas 2.000 MMSCFD, Minyak 14.000 Barrel

- Pemerintah mulai menempatkan Papua sebagai salah satu kawasan strategis pengembangan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di tengah upaya menjaga ketahanan energi nasional. Hingga Mei 2026, tercatat terdapat 11 wilayah kerja (WK) atau blok migas di Papua dengan produksi minyak mencapai 14 mbopd atau sekitar 14.000 barrel per hari dan gas bumi sebesar 2.000 mmscfd.

Sebanyak 11 wilayah kerja migas itu mencakup tahap produksi, pengembangan, hingga eksplorasi. Wilayah produksi antara lain dikelola BP Berau, Petrogas Besin, Petrogas Island Limited, serta PT Pertamina EP.

Selain itu, terdapat wilayah pengembangan oleh Genting Oil Kasuri dan sejumlah wilayah eksplorasi seperti Bobara, Semai Tiga, dan Gaya.

Baca juga: Jepang dan Malaysia Minati Blok Migas Aceh, BPMA: Target Tanda Tangan Kontrak Mei 2026

Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan, keberhasilan pembangunan Papua bergantung pada sinergi antarpemangku kepentingan, terutama dalam penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Hal itu disampaikan Laode dalam agenda Executive Meeting Arah Pembangunan Daerah Penghasil Tambang (Pendidikan Pemuda Papua) di JS Luwansa Hotel and Convention Center Jakarta, Jumat (8/5/2026).

“Kunci keberhasilan pembangunan itu berada di kekuatan sumber daya manusia di daerah maupun di pusat. Kolaborasi ini baik sekali dan bisa dijadikan benchmark untuk ke depannya dengan provinsi-provinsi yang lain,” ujar Laode, melalui keterangan pers, dikutip Sabtu (9/5/2026).

“Masa depan Papua tidak hanya digantungkan oleh besarnya sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya,” lanjut dia.

Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produksi migas Papua melalui pengembangan lapangan baru, reaktivasi sumur idle, hingga penggunaan teknologi seperti fracking, Enhanced Oil Recovery (EOR), dan horizontal drilling pada lapangan eksisting.

Baca juga: 10 Blok Migas Baru Ditawarkan ke Investor, Bisa Ajukan Minat Mulai 1 April

Dampak Migas ke Ekonomi dan SDM Papua

Seiring pengembangan sektor hulu migas, pemerintah juga menyoroti peluang ekonomi yang bisa dinikmati daerah melalui mekanisme Dana Bagi Hasil (DBH) dan Participating Interest (PI) sebesar 10 persen.

Menurut Laode, pemerintah daerah di Papua memiliki kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam sekaligus memanfaatkan pendapatan migas untuk pembangunan masyarakat lokal.

“Melalui mekanisme DBH dan PI 10 persen, Pemerintah daerah juga diharapkan dapat menginvestasikan kembali pendapatan migas tersebut pada sektor pendidikan dan keterampilan masyarakat lokal,” kata Laode.

“Potensi ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional tetapi juga tentu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia lokal,” sambung dia.

Baca juga: Beli Energi dari AS Rp 244 Triliun, Impor Migas RI dari Timur Tengah Bakal Berkurang

Industri migas juga mulai menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Pada proyek terbaru BP Tangguh, yakni UCC Ubadari, dari total sekitar 4.018 tenaga kerja pada fasilitas UCC, sebanyak 1.330 pekerja atau sekitar 33 persen merupakan tenaga kerja asal Papua.

Sementara itu, sebanyak 929 tenaga kerja berasal langsung dari wilayah Bintuni dan Fakfak. Data tersebut menunjukkan pengembangan industri migas di Papua juga berjalan seiring dengan pengembangan kapasitas SDM lokal.

Pemerintah pun membuka peluang kerja sama melalui PEM Akamigas, Pusdiklat Migas, serta perguruan tinggi untuk memperkuat pendidikan vokasi dan sertifikasi kompetensi generasi muda Papua.

“Kami berharap sinergi antara Pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi dan dunia usaha dapat memastikan pembangunan sektor energi mampu menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujar Laode.

“Generasi muda Papua harus mampu menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri,” tambah dia.

Baca juga: Produksi Migas PHE Tembus 956.000 Barrel Setara Minyak di Kuartal I 2026

Lifting Minyak RI 2025 Lampaui Target

Di tengah pengembangan migas di Papua, pemerintah juga mencatat capaian baru pada lifting minyak nasional pada 2025. Untuk pertama kalinya sejak 2016, realisasi lifting minyak Indonesia berhasil melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kementerian ESDM mencatat lifting minyak pada 2025 mencapai 605.300 barrel per hari (bph), sedikit lebih tinggi dibandingkan target APBN sebesar 605.000 barrel per hari. Realisasi tersebut turut menopang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas sebesar Rp 105,4 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, capaian tersebut menjadi yang pertama sejak 2016 ketika lifting minyak berhasil melampaui target APBN.

“Target kita di APBN, lifting minyak itu 605 ribu barrel per hari. Alhamdulillah, target kita tercapai. Realisasi lifting mencapai 605,3 ribu bph atau setara 105 persen dari target,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Menurut dia, capaian itu menjadi titik balik setelah bertahun-tahun lifting minyak nasional berada di bawah target pemerintah.

“Kalau kita melihat target APBN dalam 10 tahun terakhir, lifting minyak tidak pernah tercapai,” kata Bahlil.

Ke depan, pemerintah menargetkan produksi minyak dan gas bumi meningkat hingga mencapai 1 juta barrel per hari pada 2030.

Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menyiapkan percepatan perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), penawaran 61 wilayah kerja baru, pemanfaatan teknologi EOR dan horizontal fracking, hingga penyederhanaan regulasi sektor hulu migas.

Tag:  #papua #punya #blok #migas #produksi #2000 #mmscfd #minyak #14000 #barrel

KOMENTAR