Asing Net Sell Rp 2,4 Triliun, Berikut 4 Saham dan ETF Direkomendasikan Sepekan Ini
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,18 persen sepanjang perdagangan 4-8 Mei 2026. Pergerakan indeks cenderung sideways di tengah tarik-menarik sentimen positif global dan tekanan regulasi domestik.
IHSG sempat melanjutkan penguatan selama tiga hari berturut-turut. Penguatan ditopang meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu melampaui ekspektasi pasar dan memperkuat keyakinan terhadap ketahanan fundamental ekonomi domestik.
Momentum penguatan mulai terhenti pada Jumat (8/5/2026). Sentimen negatif muncul setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan usulan kenaikan tarif royalti mineral.
Baca juga: IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.959 pada Perdagangan Senin
Kebijakan itu memicu aksi jual pada saham sektor pertambangan dan energi. Kondisi tersebut memangkas sebagian besar penguatan IHSG selama sepekan.
Investor asing juga masih melanjutkan aksi jual. Nilai net sell tercatat Rp 2,4 triliun di pasar reguler.
Data itu menunjukkan penguatan IHSG lebih banyak ditopang aliran dana domestik.
Sentimen global dan domestik masih membayangi pasar
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan, pergerakan pasar pada 11-13 Mei 2026 masih dipengaruhi dinamika global dan domestik.
Perdagangan pekan ini berlangsung tiga hari karena adanya libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14-15 Mei 2026.
Hari mengatakan, perkembangan geopolitik global masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Hari lewat keterangan pers, Senin (11/5/2026).
Baca juga: IHSG Diperkirakan Menguat Terbatas, Ritel bisa Cermati Saham MAPI, AADI hingga BULL
Ia menambahkan, isu potensi wabah hantavirus sejauh ini belum terlalu mengganggu pasar.
Berdasarkan data platform prediksi Kalshi, probabilitas wabah hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21 persen.
“Angka ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum menganggap isu ini sebagai risiko yang perlu diperhitungkan secara signifikan,” kata dia.
Perhatian pasar global kini juga tertuju pada potensi pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Hari menilai isu perang Iran diperkirakan mendominasi agenda pembahasan kedua pemimpin tersebut.
“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” jelasnya.
Dari domestik, pasar juga menyoroti agenda rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026.
“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat memengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” ujar Hari.
Selain itu, Kementerian ESDM telah menggelar public hearing pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.
Kebijakan tersebut ditargetkan berlaku mulai Juni 2026.
Hari menilai emas menjadi komoditas dengan kenaikan tarif paling signifikan secara persentase, terutama pada batas bawah yang mencapai 100 persen.
Kondisi itu dinilai memberi tekanan langsung di tengah harga emas global yang masih tinggi.
Timah juga disebut menjadi komoditas yang paling terpukul karena kenaikan tarif terjadi pada kedua ujung rentang tarif sekaligus.
“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” ungkap Hari.
IPOT rekomendasikan PNLF hingga XIHD
Hari menilai pergerakan IHSG pada 11-13 Mei 2026 berpotensi mixed dan cenderung terbatas.
Agenda rebalancing MSCI pada 12 Mei diperkirakan memicu rotasi portofolio. Kondisi itu berpotensi menciptakan volatilitas jangka pendek pada saham berkapitalisasi besar.
Sentimen kenaikan royalti mineral yang ditargetkan berlaku mulai Juni 2026, ditambah wacana bea ekspor dan windfall tax, diperkirakan masih menekan saham sektor pertambangan dan energi.
Aksi net sell investor asing juga belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang kuat.
Kondisi tersebut membuat penguatan IHSG diperkirakan bergantung pada aliran dana domestik dan kemampuan saham big caps di luar sektor minerba menopang pasar.
Hari menilai selektivitas sektor menjadi kunci utama dalam navigasi portofolio pekan ini.
“Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko mengingat volatilitas pasar yang masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat,” tuturnya.
Merespons dinamika pasar tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan ETF untuk strategi trading pekan ini.
Berikut rekomendasi trading saham dari IPOT:
PNLF
Buy pada area entry 272 dengan target price (TP) 290 dan stop loss (SL) 268. PNLF dinilai masih berpotensi bergerak dalam tren naik dengan kisaran pergerakan 268-290.
BDMN
Buy pada area entry 4.510 dengan target price 5.250 dan stop loss 4.030. Secara teknikal, BDMN masih bergerak uptrend yang didorong rumor akuisisi Bank Danamon oleh MUFG selaku pemegang saham pengendali.
MAPI
Buy pada area entry 1.455 dengan target price 1.605 dan stop loss 1.385. Secara teknikal, MAPI membentuk candle marubozu bullish dan didukung akumulasi asing selama sepekan terakhir yang mencapai Rp 11,8 triliun.
Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD)
ETF XIHD dinilai menarik dicermati karena portofolionya diisi saham berdividen. Instrumen ini dinilai relevan di tengah mulai maraknya pembagian dividen interim oleh sejumlah emiten.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja XIHD seiring meningkatnya daya tarik saham berdividen sebagai sumber pendapatan sekaligus penopang volatilitas pasar.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #asing #sell #triliun #berikut #saham #direkomendasikan #sepekan