“In This Economy”, Warga Ubah Gaya Hidup demi Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Ilustrasi belanja di supermarket.(Unsplash)
10:04
15 Mei 2026

“In This Economy”, Warga Ubah Gaya Hidup demi Bertahan di Tengah Ketidakpastian

- Di tengah kondisi ekonomi saat ini, sebagian masyarakat mulai bersikap lebih hati-hati dalam mengelola keuangan dengan menekan pengeluaran non-prioritas.

Pola konsumsi pun berubah, mulai dari mengurangi kebiasaan makan di luar atau jajan hingga beralih menggunakan transportasi umum untuk menghemat biaya harian.

Perubahan perilaku konsumsi tersebut terlihat seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, serta ketidakstabilan kondisi global yang berdampak pada daya beli.

Banyak warga mulai memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pengeluaran yang dianggap tidak mendesak. Namun, tidak semua memilih memangkas pengeluaran secara total. Sebagian lainnya justru menerapkan pola belanja yang lebih selektif dan terukur.

Salah satunya disampaikan seorang warga yang mengaku kini lebih berhati-hati dalam menentukan pengeluaran, khususnya untuk kebutuhan hiburan atau konsumsi di luar rumah.

“Di tengah situasi ekonomi sekarang, lebih ke arah curating, not just cutting sih. Kalau memang lagi pengin jajan ya tetap jalan, tapi sekarang lebih pilih-pilih tempat saja dan lebih mengutamakan pedagang kecil pinggir jalan,” ujar pekerja swasta bernama Lilis kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Baca juga: Kebijakan WFH Dinilai Belum Efektif Bikin Hemat BBM

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Sementara itu, Celia Karenina (30), ibu rumah tangga dengan tiga anak, yang kini memilih lebih berhemat dan memprioritaskan kebutuhan utama keluarga.

Celia mengaku mulai mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan tersier, termasuk kebiasaan membeli kopi di luar rumah yang sebelumnya cukup rutin dilakukan.

“Iya, sudah mulai ngurangin. Ngopi sesekali aja kalau diajak teman, mungkin sebulan sekali. Selebihnya bikin kopi sendiri di rumah,” kata Celia Karenina.

Menurutnya, perubahan pola pengeluaran tersebut dilakukan agar kondisi keuangan keluarga tetap terjaga di tengah kenaikan biaya hidup. Ia mengaku kini lebih selektif dalam membelanjakan uang dan memilih mendahulukan kebutuhan yang dianggap lebih penting.

“Dulu lebih sering ngopi dibanding sekarang. Pokoknya sekarang lebih mengetatkan ikat pinggang demi kebutuhan yang lebih prioritas,” ujarnya.

Baca juga: Purbaya Sebut Daya Beli Jadi Penopang Ekonomi 5,61 Persen, Bukan Belanja Pemerintah

Sejumlah penumpang antre menunggu kedatangan KRL Commuter Line saat hari pertama kerja pascalibur Lebaran di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (30/3/2026). Kepadatan penumpang KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bogor dengan didominasi para pekerja yang kembali ke rutinitas setelah menjalani libur Lebaran. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah Sejumlah penumpang antre menunggu kedatangan KRL Commuter Line saat hari pertama kerja pascalibur Lebaran di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (30/3/2026). Kepadatan penumpang KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bogor dengan didominasi para pekerja yang kembali ke rutinitas setelah menjalani libur Lebaran. Selain mengurangi frekuensi belanja konsumtif, penggunaan transportasi umum juga dinilai menjadi alternatif yang lebih ekonomis dibandingkan kendaraan pribadi maupun layanan transportasi daring.

Faktor efisiensi biaya bahan bakar, parkir, hingga ongkos perjalanan menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam menyesuaikan pengeluaran bulanan.

Saya sendiri, sebagai seorang jurnalis sudah mengurangi jajan kopi sejak 2 tahun lalu, dan memilih sesekali membawa bekal ke lokasi liputan.

Saya juga menggunakan transportasi umum untuk bekerja, karena menurut saya biaya transportasi online semakin lama semakin mencekik jika terus bergantung.

Baca juga: Harga TV dan AC Mulai Naik, Rupiah Melemah Tekan Dompet Warga

Jika ditotal pengeluaran, biaya transportasi dengan aplikasi online saya bisa mencapai lebih dari Rp 1 juta per bulan, hanya untuk 1 platform saja. Belum termasuk jajan makanan yang dibeli dengan online, termasuk ngopi-ngopi dengan teman.

“Menggunakan transportasi umum saja sudah membuat saya berhemat ratusan ribu tiap harinya. Belum lagi, kalau saya juga mengurangi penggunaan ojol dan membawa bekal,” kata saya, Jurnalis Kompas.com.

Saat ini, Indonesia dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global, akibat kondisi perang antara AS dengan Iran, kebijakan tarif resiprokal, pelemahan rupiah terhadap dollar AS yang perlahan mendorong harga-harga bahan baku.

Meski demikian, perekonomian domestik Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan atau resiliensi yang relatif baik, dimana pada kuartal pertama 2026 ekonomi RI tumbuh 5,6 persen YoY (year-on-year) dibandingkan periode sebelumnya 5,3 persen.

Di sisi lain, pelaku usaha di sektor makanan dan minuman mulai merasakan perubahan pola belanja konsumen. Masyarakat cenderung lebih selektif memilih produk, mencari promo, hingga membatasi anggaran rekreasi dan kuliner.

Baca juga: Kemenhub Sesuaikan Fuel Surcharge Angkutan Udara, Harga Tiket Pesawat Berpotensi Naik

Dampak ke pelaku usaha

Pengamatan Kompas.com, sebuah tempat penjualan ice cream franchise yang sempat populer dalam 5 tahun terakhir tampak tidak seramai sebelumnya.

Meskipun ada beberapa varian baru yang diluncurkan, namun kondisi ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Pengamatan saya, outlet yang awalnya ada 3 di dalam lingkungan perumahan, kini berkurang menjadi 2, bahkan 1 dari outlet yang ada sepi pembeli.

Pun demikian tempat hiburan seperti waterpark yang terlihat hanya ramai ketika periode liburan saja. Selebihnya tampak sepi, dan didatangi kelompok study tour sekolah saja. Tentu hal ini menunjukkan saat ini ada banyak bisnis yang sedang tertekan dan daya beli yang mulai menurun.

“Sudah jarang (yang berkunjung), cuma waktu-waktu tertentu saja, seperti libur sekolah, libur pajang seperti sekarang ini. Kalau untuk anak-anak kelompok sekolah biasanya kita kasih diskon,” kata seorang penjaga waterpark yang enggan ditulis namanya.

Baca juga: Survei Ipsos: Nasabah Kini Pilih Bank Digital yang Praktis

Tak hanya minat masyarakat yang berkurang untuk berbelanja. Masalah harga - harga yang naik juga berdampak pada biaya produksi. Salah seorang penjual sarapan pagi, di lingkungan komplek tempat tinggal saya mengaku bingung ketika pembungkus makanan, kotak plastik yang biasa digunakan mulai mengalami kenaikan.

Akhirnya diamemilih untuk menggunakan styrofoam yang dialasi, tanpa mengurangi kualitas dan isi dari makanan yang biasa ia jual.

“Seperti harga plastik yang naik, dulu untuk pembungkus makanan saya pakai wadah plastik, sekarang saya memilih wadah styrofoam yang dialasi,” kata Wina.

Baca juga: Tak Punya Banyak Uang, Mengapa Gen Z Hobi Travelling?

Penikmat kopi masih tinggi

Meski dihadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak pasti. Nyatanya para pecinta kopi yang tetap setia dengan pilihan mereka. Hal ini terlihat ketika brand Kopi Tuku menaikkan harga salah satu variannya.

Seperti informasi di akun resmi mereka, mulai 24 April 2026, kedai kopi yang dikenal luas di kalangan anak muda ini resmi melakukan perubahan harga pada menu Es Kopi Susu Tetangga (KST) dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000.

“Harga boleh naik, tapi yang penting rasanya jangan berubah,” ujar salah satu pelanggan setia Kopi Tuku.

Baca juga: Kopi Tuku Naik Harga, Pelanggan Minta Promo dan Aplikasi Member

Di sisi lain, ada juga yang mengeluh bahwa beberapa kali kenaikan harga, tidak pernah mendapatkan promo.

“Sudah harga naik tidak pernah ada promo, sakit hati, tapi tetap beli,” lanjut pembeli lainnya.

Kondisi ekonomi yang dinamis saat ini membuat masyarakat perlu lebih adaptif dalam mengelola keuangan sehari-hari.

Bukan berarti harus berhenti menikmati hidup, namun lebih pada kemampuan menentukan prioritas agar kondisi finansial tetap sehat di tengah berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Tag:  #this #economy #warga #ubah #gaya #hidup #demi #bertahan #tengah #ketidakpastian

KOMENTAR