Wall Street Ditutup Bervariasi, Nasdaq dan S&P 500 Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Yield Obligasi AS
Ilustrasi bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) atau Wall Street.(SHUTTERSTOCK/STUART MONK)
07:04
19 Mei 2026

Wall Street Ditutup Bervariasi, Nasdaq dan S&P 500 Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Yield Obligasi AS

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (18/5/2026) waktu setempat.

Indeks Nasdaq dan S&P 500 melemah seiring aksi ambil untung pada saham-saham teknologi, di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Mengutip Reuters pada Rabu (19/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average menguat 159,95 poin atau 0,32 persen ke level 49.686,12.

Sementara itu, indeks S&P 500 turun 5,45 poin atau 0,07 persen menjadi 7.403,05 dan Nasdaq Composite melemah 134,41 poin atau 0,51 persen ke level 26.090,73.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan biaya pinjaman global sempat menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi akibat terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia.

Baca juga: Ekonomi Indonesia dari Sawah, Bukan Wall Street

Harga minyak mentah AS ditutup melonjak lebih dari 3 persen setelah bergerak volatil sepanjang perdagangan. Namun, kenaikan harga minyak mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi negosiasi terkait upaya mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran.

Trump mengatakan Iran telah mengirimkan proposal perdamaian baru ke Washington. Meski demikian, ia menegaskan AS siap kembali melanjutkan serangan apabila kesepakatan tidak tercapai.

Manajer portofolio NFJ Investment Group di Dallas, Burns McKinney, mengatakan harga minyak menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar dalam beberapa waktu terakhir.

“Variabel utama saat ini adalah potensi blokade Selat Hormuz yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan risiko ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali dalam jangka panjang,” ujar McKinney.

Ia menambahkan, kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan besar terhadap sektor berdurasi panjang seperti teknologi dan saham chip yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan.

Menurut McKinney, investor saham terlihat lebih optimistis terhadap perkembangan geopolitik dibanding investor obligasi.

“Setiap beberapa hari muncul rumor mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dan saham kembali menguat. Investor mempercayainya, tetapi kemudian kembali kecewa karena konflik masih menemui jalan buntu,” katanya.

Pelemahan tersebut menjadi penurunan kedua berturut-turut bagi Nasdaq dan S&P 500 setelah reli kuat sejak akhir Maret 2026.

S&P 500 sebelumnya sempat menguat lebih dari 18 persen dari posisi terendah pada 30 Maret, yang juga merupakan level penutupan terendah sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.

Dalam periode yang sama, Nasdaq melonjak sekitar 28 persen didorong optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta solidnya kinerja emiten teknologi.

Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey, mengatakan pasar saat ini mulai khawatir terhadap reli yang terlalu cepat dalam waktu singkat.

“Ada kekhawatiran terhadap reli yang terjadi dalam periode singkat sehingga memicu aksi ambil untung,” ucap Ghriskey.

Sektor teknologi informasi menjadi sektor dengan pelemahan terbesar di indeks S&P 500 setelah turun 0,97 persen. Saham-saham chip menjadi penekan utama pasar, dengan Philadelphia Semiconductor Index merosot 3,3 persen.

Sebaliknya, sektor energi menjadi sektor dengan penguatan terbesar setelah naik 1,8 persen seiring lonjakan harga minyak.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 36,7 persen bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Perkiraan tersebut muncul setelah data inflasi AS pekan lalu tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Perhatian investor juga tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan dirilis Rabu pekan ini. Perusahaan chip AI terbesar dunia itu menjadi saham dengan tekanan terbesar terhadap indeks S&P 500 setelah turun 1,3 persen pada perdagangan Senin.

Ekspektasi pasar terhadap Nvidia dinilai sangat tinggi setelah saham perusahaan tersebut melonjak tajam sejak Maret, didorong tingginya permintaan chip berbasis AI.

Selain Nvidia, Walmart juga dijadwalkan merilis laporan keuangan pekan ini. Laporan tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi daya beli konsumen AS di tengah tingginya harga energi dan tekanan inflasi.

Saham Walmart justru menguat 1,4 persen pada perdagangan Senin.

Sementara itu, saham Dominion Energy melonjak 9,4 persen setelah perusahaan utilitas listrik NextEra Energy mengumumkan akuisisi berbasis saham senilai sekitar 66,8 miliar dollar AS. Di sisi lain, saham NextEra turun 4,6 persen.

Saham Regeneron Pharmaceuticals anjlok 9,8 persen setelah pengobatan eksperimental perusahaan gagal mencapai target utama dalam uji klinis tahap akhir untuk pasien melanoma lanjut atau kanker kulit.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik masih lebih banyak dibandingkan saham yang turun di Bursa New York (NYSE) dengan rasio 1,09 banding 1.

Di Nasdaq, sebanyak 2.238 saham menguat dan 2.637 saham melemah. Volume transaksi di bursa AS mencapai 20,86 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 18,36 miliar saham.

Tag:  #wall #street #ditutup #bervariasi #nasdaq #melemah #imbas #lonjakan #harga #minyak #yield #obligasi

KOMENTAR