Stok Melimpah, Thailand Akan Ekspor Avtur ke Vietnam dan Filipina
- Pemerintah Thailand mulai mempertimbangkan kembali kebijakan ekspor bahan bakar minyak, khususnya avtur atau jet fuel, setelah kapasitas penyimpanan minyak di negara tersebut mendekati batas aman.
Kondisi ini terjadi hanya beberapa bulan setelah pemerintah memberlakukan larangan ekspor bahan bakar akibat kekhawatiran terhadap krisis energi global.
Perubahan arah kebijakan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan pada industri kilang minyak Thailand yang harus terus memproduksi bahan bakar untuk menjaga pasokan domestik.
Baca juga: Krisis Avtur, Maskapai Eropa Siapkan Skenario Terburuk
Ilustrasi BBM.
Di sisi lain, konsumsi beberapa jenis bahan bakar justru melemah sehingga membuat tangki penyimpanan cepat penuh.
Nation Thailand melaporkan, operator kilang secara resmi meminta Kementerian Energi Thailand untuk mengizinkan ekspor bahan bakar olahan yang berlebih, terutama avtur.
Permintaan itu diajukan karena kapasitas penyimpanan di berbagai depot minyak mendekati level yang dikenal sebagai “tank-top level”, atau sekitar 70 persen dari kapasitas aman penyimpanan.
Kondisi tersebut membuat sejumlah kilang mulai mengurangi kapasitas produksi hingga 15 persen untuk mencegah tangki meluap.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Maskapai Global Pangkas 2 Juta Kursi
Langkah itu dilakukan meski sebelumnya pemerintah mendorong kilang tetap beroperasi penuh guna memastikan ketahanan energi nasional.
Tangki penyimpanan minyak Thailand nyaris penuh
Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand Chatchai Bangchuad mengatakan pemerintah akhirnya menyetujui ekspor avtur ke Vietnam dan Filipina.
Keputusan itu diambil setelah otoritas menilai pasokan energi domestik Thailand masih berada dalam kondisi aman.
Bendera Thailand. Indonesia Perbarui Ejaan Nama Negara Asing, Thailand Jadi Tailan dan Paraguay Jadi Paraguai
“Thailand memiliki cadangan yang cukup dan ekspor dapat dilakukan tanpa memengaruhi keamanan energi dalam negeri,” kata Chatchai seperti dikutip Bangkok Post, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Avtur Naik Bikin Biaya Haji Bengkak Rp 1,77 T, Menhaj Sebut Tambalan Biaya Bukan dari APBN
Thailand longgarkan larangan ekspor bahan bakar
Keputusan tersebut sekaligus menandai pelonggaran kebijakan pembatasan ekspor bahan bakar yang diberlakukan sejak awal Maret 2026.
Saat itu, pemerintah Thailand menghentikan ekspor berbagai produk minyak olahan, termasuk bensin, diesel, dan avtur, sebagai respons atas meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Larangan ekspor itu diterapkan setelah konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Thailand, yang sangat bergantung pada impor energi, memilih menahan pasokan bahan bakar di dalam negeri untuk mengantisipasi lonjakan harga dan kemungkinan kelangkaan.
Baca juga: Krisis Energi: Stok Avtur Eropa Diprediksi Habis dalam Enam Minggu
Dalam pernyataan resmi pemerintah Thailand pada Maret 2026 lalu, pembatasan ekspor dilakukan untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Pemerintah juga saat itu menyebut cadangan energi negara masih cukup untuk bertahan sekitar 95 hari. Adapun saat ini cadangan energi Thailand setara 110 hari.
Menteri Energi Thailand Atthapol Rerkpiboon sebelumnya mengatakan pemerintah berupaya mencari sumber energi alternatif untuk mengurangi risiko gangguan pasokan.
Thailand juga memperpanjang kontrol harga gas memasak serta memberikan subsidi untuk mendorong penggunaan biodiesel dan benzena.
Baca juga: Harga Avtur Naik, FedEx Belum Naikkan Biaya Logistik
Namun, setelah beberapa bulan berjalan, pembatasan ekspor justru memunculkan persoalan baru. Permintaan diesel di dalam negeri melemah, sementara produksi kilang tetap tinggi.
Ilustrasi pesawat, penerbangan.
Akibatnya, stok bahan bakar terus menumpuk.
Nation Thailand melaporkan, kapasitas penyimpanan minyak mulai mendekati batas aman sehingga pemerintah mulai mempertimbangkan relaksasi aturan ekspor, terutama untuk Jet A-1 atau avtur.
Kondisi itu memperlihatkan dilema yang dihadapi Thailand dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi domestik dan keberlangsungan industri kilang minyak. Di satu sisi, pemerintah ingin memastikan pasokan dalam negeri tetap aman.
Baca juga: Cathay Pacific Pangkas Penerbangan hingga Juni 2026, Imbas Harga Avtur Melonjak
Namun di sisi lain, pembatasan ekspor terlalu lama dapat menekan operasional kilang dan menimbulkan biaya penyimpanan yang semakin besar.
Vietnam dan Filipina jadi tujuan ekspor
Keputusan membuka kembali ekspor avtur juga dinilai penting bagi negara-negara tetangga di Asia Tenggara yang sempat terdampak pembatasan ekspor Thailand dan China.
Vietnam menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Reuters sebelumnya melaporkan, maskapai penerbangan Vietnam menghadapi risiko pengurangan penerbangan akibat terbatasnya pasokan avtur dari Thailand dan China.
Thailand menghentikan ekspor produk minyak olahan pada 6 Maret 2026, sedangkan China memperketat pengendalian ekspor bahan bakar beberapa hari kemudian. Langkah dua negara tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan avtur di kawasan Asia.
Baca juga: Krisis Avtur Membayangi, Maskapai Global Mulai Kurangi Penerbangan
Vietnam diketahui sangat bergantung pada impor avtur dari Thailand dan China. Karena itu, pelonggaran ekspor Thailand dipandang dapat membantu meredakan tekanan pasokan di industri penerbangan regional.
Selain Vietnam, Filipina juga menjadi negara tujuan ekspor avtur Thailand setelah pemerintah memberikan izin ekspor terbatas.
Konsumsi bahan bakar naik, permintaan solar melemah
Di tengah perubahan kebijakan tersebut, konsumsi bahan bakar di Thailand justru menunjukkan tren meningkat pada awal tahun ini.
Ilustrasi BBM.
Bangkok Post melaporkan konsumsi bahan bakar Thailand pada kuartal I 2026 naik 5,3 persen secara tahunan menjadi rata-rata 167 juta liter per hari.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan
Kenaikan konsumsi itu terutama didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi dan sektor transportasi. Konsumsi avtur juga meningkat seiring pulihnya perjalanan udara internasional.
Meski demikian, peningkatan konsumsi tersebut belum mampu menyerap seluruh produksi kilang minyak dalam negeri. Permintaan solar yang melemah disebut menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penumpukan stok.
Dalam laporan Nation Thailand, operator kilang menyatakan ekspor menjadi solusi sementara untuk mengurangi tekanan pada kapasitas penyimpanan.
Sementara itu, industri penerbangan Thailand juga sempat menyuarakan kekhawatiran terkait pasokan avtur beberapa bulan terakhir.
Baca juga: Pemerintah Izinkan Tiket Pesawat Naik Terbatas Saat Avtur Melonjak, Maskapai Menyesuaikan
Bangkok Aviation Fuel Services Plc (BAFS), perusahaan penyedia layanan pengisian avtur di Thailand, sebelumnya meminta pemerintah mengecualikan avtur dari larangan ekspor.
Maskapai nasional Thai Airways bahkan sempat menyampaikan kekhawatiran terkait potensi gangguan pasokan bahan bakar penerbangan. Meski demikian, perusahaan tetap berencana menambah penerbangan ke Eropa dalam beberapa bulan mendatang.
Thailand mulai dorong penggunaan SAF
Di tengah tantangan pasokan energi global, Thailand juga mulai mendorong penggunaan sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) tengah menyusun peta jalan penggunaan SAF secara bertahap hingga 2037. Pada tahap awal, Thailand menargetkan campuran SAF sebesar 1 persen pada 2026 sebelum meningkat menjadi 8 persen pada 2037.
Baca juga: Avtur Mahal, Pemerintah Turunkan Bea Masuk Suku Cadang untuk Maskapai Jadi 0 Persen
Ilustrasi pesawat.
Regulasi terkait standar Jet A-1 yang memungkinkan pencampuran SAF hingga 50 persen mulai berlaku pada awal 2026.
Kebijakan itu menjadi bagian dari strategi jangka panjang Thailand untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung transisi energi di sektor penerbangan.
Meski begitu, dalam jangka pendek, fokus utama pemerintah Thailand masih tertuju pada upaya menjaga keseimbangan pasokan energi domestik dan stabilitas industri pengolahan minyak.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global juga masih menjadi perhatian utama pemerintah Thailand.
Baca juga: INACA Nilai Jurus Pemerintah Redam Dampak Avtur Mahal Sudah Tepat
Sejumlah negara di Asia mulai menerapkan kebijakan penghematan energi, pengendalian harga bahan bakar, hingga pembatasan ekspor untuk menjaga pasokan domestik.
Thailand termasuk salah satu negara yang paling aktif menerapkan langkah pengamanan energi sejak awal konflik memanas.
Selain menghentikan ekspor bahan bakar, pemerintah juga mendorong masyarakat menghemat energi, termasuk melalui kebijakan work from home bagi sebagian sektor.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tekanan terhadap kapasitas penyimpanan kini menjadi tantangan baru yang harus dihadapi pemerintah Thailand.
Baca juga: Efek Berantai Avtur Mahal: Tiket Naik Terbatas, Rute Maskapai Diubah, Pemerintah Turun Tangan
Dengan mulai dibukanya kembali ekspor avtur ke Vietnam dan Filipina, pemerintah Thailand berupaya mengurangi kelebihan stok tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.
Kebijakan itu sekaligus menunjukkan bagaimana dinamika pasar energi global dapat memengaruhi keputusan strategis negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Tag: #stok #melimpah #thailand #akan #ekspor #avtur #vietnam #filipina