Perang Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar
Bank Indonesia (BI) menilai bahwa tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia.
Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan kondisi ini juga berdampak pada terganggunya produksi, distribusi, serta rantai pasok perdagangan antarnegara yang mendorong kenaikan harga berbagai komoditas dunia.
"Situasi tersebut menjadi perhatian Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi dunia, " katanya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (22/5/2026).
Menurut Perry Warjiyo, prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2026 diperkirakan melambat menjadi sebesar 3,0 persen, sementara inflasi global meningkat hingga sekitar 4,3 persen.
Kebijakan moneter global pun diperkirakan semakin ketat seiring sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga acuannya.
Bank Indonesia menilai suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan belum akan turun hingga akhir 2026 dan berpotensi kembali naik pada 2027 karena inflasi AS masih tinggi.
(Kiri-Kanan) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi. [Suara.com/Dicky Prastya]Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menjadi 4,66 persen dan tenor 2 tahun sebesar 4,11 persen per 19 Mei 2026.
"Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS, "jelasnya.
Selain itu, kondisi global yang semakin menantang mengharuskan adanya penguatan respons kebijakan serta sinergi antara fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga positif.
Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 5,39 persen secara tahunan pada triwulan IV 2025 menjadi 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Kinerja tersebut ditopang kuat oleh permintaan domestik.
Konsumsi rumah tangga meningkat seiring naiknya mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan dampak positif stimulus pemerintah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh tinggi didorong realisasi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta peningkatan belanja pegawai melalui gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR).
Investasi, khususnya investasi bangunan, juga mengalami peningkatan yang dipengaruhi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN). Namun, ekspor tercatat menurun akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada level yang baik melalui optimalisasi belanja pemerintah yang bersinergi dengan bauran kebijakan Bank Indonesia, termasuk pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran guna mendukung ekonomi digital serta keuangan inklusif.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen di tengah tantangan ekonomi global yang masih tinggi.
Tag: #perang #timur #tengah #picu #gejolak #ekonomi #global #waspadai #arus #modal #keluar