JPMorgan: Bank Sentral dan Investor Dorong Harga Emas Naik
Ilustrasi emas. (Freepik)
15:56
25 Mei 2026

JPMorgan: Bank Sentral dan Investor Dorong Harga Emas Naik

Lembaga keuangan JPMorgan memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 di tengah melambatnya permintaan investor dalam jangka pendek.

Meski demikian, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu tetap mempertahankan pandangan bullish untuk logam mulia tersebut dan memperkirakan harga emas masih berpotensi menembus 6.000 dollar AS per ounce pada akhir 2026.

Dalam catatan riset terbarunya yang dikutip dari Reuters, Senin (25/5/2026), JPMorgan menurunkan proyeksi rata-rata harga emas 2026 menjadi 5.243 dollar AS per ounce dari sebelumnya 5.708 dollar AS per ounce.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Penurunan itu dilakukan karena permintaan investor dinilai melemah dalam beberapa bulan terakhir.

Mengacu kurs Rp 17.675 per dollar AS, level harga 5.243 dollar AS setara sekitar Rp 92,67 juta per ounce. Sementara target 6.000 dollar AS per ounce berada di kisaran Rp 106,05 juta per ounce.

Reuters melaporkan, JPMorgan melihat minat investor terhadap emas mulai menurun setelah reli besar yang terjadi sebelumnya. 

Aktivitas perdagangan di pasar berjangka juga dinilai belum menunjukkan pemulihan signifikan.

Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Naik

“Kesunyian tercermin dalam aktivitas dan metrik permintaan yang stagnan,” tulis analis JPMorgan dalam catatannya.

Permintaan ETF dan futures melambat

JPMorgan menyebut sejumlah indikator pasar menunjukkan perlambatan permintaan emas dalam jangka pendek. Salah satunya terlihat dari posisi open interest kontrak berjangka emas di COMEX yang masih rendah.

Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.DOK. Pexels/Michael Steinberg. Ilustrasi emas. Penyebab harga emas naik-turun. Proyeksi harga emas.

Selain itu, posisi investor institusi di pasar futures juga disebut stagnan. Arus dana ke exchange traded fund (ETF) berbasis emas pun dinilai masih terbatas.

JPMorgan menilai pelemahan minat investor tersebut menyebabkan momentum kenaikan harga emas tertahan untuk sementara waktu. Namun, bank itu tetap mempertahankan skenario dasar atau base case bullish untuk emas.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 25 Mei 2026 Naik Rp 30.000, Cek Rinciannya

Meski memangkas proyeksi rata-rata harga tahunan, JPMorgan tetap mempertahankan target harga emas sekitar 6.000 dollar AS per ounce pada akhir 2026.

Menurut bank tersebut, permintaan diperkirakan kembali meningkat pada paruh kedua 2026.

JPMorgan masih optimistis harga emas naik

Optimisme JPMorgan terhadap emas tidak terlepas dari ekspektasi berlanjutnya permintaan bank sentral global dan investor institusi. 

Dalam proyeksi sebelumnya, JPMorgan bahkan memperkirakan harga emas dunia bisa mencapai 6.300 dollar AS per ounce pada akhir 2026.

Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian 25 Mei 2026, Cek Daftar Terbarunya

Reuters melaporkan, JPMorgan memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral pada 2026 mencapai 800 ton. Angka tersebut mencerminkan tren diversifikasi cadangan devisa yang dinilai masih berlanjut.

Permintaan dari bank sentral dan investor disebut sebagai faktor utama yang dapat mendorong harga emas lebih tinggi hingga akhir tahun depan.

Selain itu, JPMorgan juga menaikkan proyeksi jangka panjang harga emas menjadi 4.500 dollar AS per ounce.

Dalam laporan riset globalnya sebelumnya, JPMorgan menyebut harga emas masih didukung ketidakpastian geopolitik, diversifikasi aset investor, serta pembelian agresif bank sentral dunia.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Inflasi

Ilustrasi emas. Harga emas. Penyebab harga emas naik-turun.Shutterstock/VladKK Ilustrasi emas. Harga emas. Penyebab harga emas naik-turun.

“Permintaan bank sentral dan investor terhadap emas diperkirakan akan tetap kuat,” tulis JPMorgan dalam laporan risetnya.

Tekanan suku bunga masih membayangi harga emas

Di sisi lain, harga emas dalam beberapa pekan terakhir juga berada di bawah tekanan akibat tingginya imbal hasil obligasi AS dan penguatan dollar AS.

Reuters melaporkan, kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Pada perdagangan pekan lalu, harga emas sempat turun lebih dari 1 persen akibat kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi di Negeri Paman Sam.

Baca juga: Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 2,9 Juta per Gram Pekan Depan, Jika Ini yang Terjadi

Suku bunga tinggi umumnya memberikan tekanan ke bawah pada harga emas.

Wall Street Journal juga melaporkan harga emas masih berada jauh di bawah rekor tertingginya pada awal 2026. Namun, secara tahunan, harga logam mulia tersebut masih mencatat kenaikan signifikan.

Di tengah tekanan tersebut, JPMorgan menilai pelemahan permintaan saat ini bersifat sementara. Bank itu memperkirakan permintaan investor dan bank sentral akan kembali meningkat pada semester II-2026.

Ketegangan geopolitik tetap jadi penopang

Selain faktor suku bunga, perkembangan geopolitik global juga terus menjadi perhatian pasar emas. Ketegangan di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global masih dinilai menopang minat investor terhadap aset safe haven.

Baca juga: Harga Emas Antam Sepekan Naik Tipis Rp 9.000 Per Gram

Reuters melaporkan, pergerakan harga emas belakangan dipengaruhi perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat serta dinamika harga minyak dunia.

Ilustrasi emas, harga emas. PEXELS/MICHAEL STEINBERG Ilustrasi emas, harga emas.

Saat harga minyak turun dan dollar AS melemah, emas kembali mengalami penguatan karena lebih menarik bagi investor global.

Namun di saat yang sama, kenaikan inflasi akibat lonjakan energi juga mendorong pasar memperkirakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menjadi faktor penahan bagi laju harga emas.

Meski volatilitas masih tinggi, sejumlah lembaga keuangan global tetap mempertahankan pandangan positif terhadap emas dalam jangka panjang.

Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketidakpastian Akhir Perang Timur Tengah

Reuters mencatat, beberapa broker dan bank investasi masih konstruktif terhadap prospek emas meski harga mengalami tekanan dalam jangka pendek akibat penguatan dollar AS dan tingginya imbal hasil obligasi.

Tag:  #jpmorgan #bank #sentral #investor #dorong #harga #emas #naik

KOMENTAR