Ambisi Ekspansi Kopi Kenangan, Bidik 4.000 Gerai pada 2030
- Kopi Kenangan berupaya terus meningkatkan jumlah kedai dengan total investasi mencapai 200 juta dollar AS.
Angka tersebut setara dengan Rp 3,54 triliun dalam asumsi kurs Rp 17.738 per dollar AS.
Hingga 2030, Kopi Kenangan berencana meningkatkan kedai lebih dari tiga kali lipat menjadi 4.000 kedai.
CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata mengeklaim, Kopi Kenangan telah menjadi jaringan kopi terbesar di Indonesia dengan sepertiga pangsa pasar dan 1.136 gerai, serta 188 gerai di luar negeri per Desember 2025.
Sedikit catatan, Kopi Kenangan yang merintis bisnisnya sejak 2017 telah menjadi perusahaan unicorn pada 2021 setelah mengumpulkan dana sebesar 96 juta dollar AS dalam putaran pendanaan Seri C.
"Kami ingin menjadi satu-satunya perusahaan atau merek yang paling dominan di Asia Tenggara, bukan hanya berdasarkan jumlah gerai tetapi juga berdasarkan pendapatan dan profitabilitas,” ujar dia dikutip dari Forbes, Senin (25/5/2026).
Mitra Redseer Strategy Consultants, Roshan Behera mengungkapkan, penikmat kopi premium mulai mencari alternatif yang menawarkan kualitas kelas atas yang lebih murah.
Dalam laporan April 2025, Redseer memperkirakan pasar kopi Indonesia termasuk kopi yang dijual di kafe, restoran, dan hotel serta gerai ritel akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 11 persen menjadi 12,6 miliar dollar AS pada 2030 dari 6,7 miliar pada 2024.
Redseer memprediksi konsumsi kopi di luar rumah akan meningkat selama periode tersebut menjadi antara 65–70 persen dari total konsumsi.
Cetak Laba Usai Lima Tahun Rugi
Kopi Kenangan telah melakukan ekspansi besar-besaran, membuka 347 gerai tahun lalu, atau hampir satu gerai per hari.
Sebelumnya, Kopi Kenangan dilaporkan masih mengalami kerugian lima tahun berturut-turut sejak pandemi Covid-19.
Pada 2025, Kopi Kenangan melaporkan mengantongi laba bersih mencapai 17 juta dollar AS dan pertumbuhan pendapatan 45 persen menjadi 184 juta dollar AS.
Laba bersih Kopi Kenangan pada 2025 mencapai sekitar Rp 301,54 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.738 per dollar AS.
Pada kuartal I-2026, penjualan Kopi Kenangan melonjak 70 persen secara tahunan menjadi 57 juta dollar AS.
Pada 2030, Kopi Kenangan menargetkan pendapatan senilai 650 juta dollar AS.
Dukungan Investor Internasional
Sejauh ini, Kopi Kenangan telah mengumpulkan total 234 juta dollar AS dari setidaknya lima putaran pendanaan, yang terbaru adalah Seri C, dari sejumlah investor ternama.
Dalam jajaran investor Kopi Kenangan terdapat perusahaan modal ventura milik _rapper_ Amerika Jay-Z, Arrive, dan Serena Ventures milik pemain tenis Amerika Serena Williams.
Investor utama lainnya yakni Peak XV Partners yang berbasis di India (sebelumnya Sequoia India & Southeast Asia), dana kekayaan negara Singapura GIC, Horizons Ventures milik miliarder Hong Kong Solina Chau, dan B Capital, sebuah perusahaan investasi yang didirikan bersama oleh penduduk Singapura Eduardo Saverin, salah satu pendiri Meta Platforms (pemilik Facebook).
Edward mengatakan, tidak akan mencari investor untuk ekspansi yang diusulkan karena dia yakin dapat membiayainya dari arus kas perusahaan, berdasarkan proyeksi internal.
Di sisi lain, Kopi Kenangan juga mengatakan belum memiliki rencana pasti terkait melantai di bursa efek.
"Dari sudut pandang tata kelola, kami jelas siap Initial Public Offering (IPO), terutama di Indonesia, tetapi, masih terlalu dini untuk membicarakan waktu atau ukurannya," terang dia.
Ekspansi Gerai
Kopi Kenangan mengoperasikan hampir semua gerainya di pasar domestik dan beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, dan India.
Sementara untuk pasar Filipina dan Australia, Kopi Kenangan memiliki waralaba dengan nama gerai Kenangan Coffee.
Edward berencana untuk melakukan ekspansi ke 10–15 negara lain hingga 2030.
Dengan demikian, secara total ia memproyeksikan akan memiliki sekitar 2.600 gerai di Indonesia. Jumlah ini diproyeksikan menyumbang 75 persen pendapatan Kopi Kenangan.
Kopi Kenangan juga menargetkan sekitar 800 gerai di Malaysia yang diperkirakan akan menyumbang 15 persen dari penjualan. Sementara itu, gerai sisanya akan dibuka di tempat lain.
Edward menyebutkan, ekspansi di Indonesia dan Malaysia akan dilakukan melalui gerai milik perusahaan, tetapi gerai waralaba akan menjadi pilihan utama di pasar baru.
"Untuk menjadi merek global sejati, kita perlu menambah dua hingga tiga negara per tahun,” ungkap dia.
Sedikit catatan, sekitar 85 persen gerai Kopi Kenangan adalah kios tanpa tempat duduk dengan harga kopi sekitar Rp 20.000-an.
Harga tersebut masih berada di bawah kedai kopi merek global yang beroperasi di Indonesia, tetapi memiliki harga di atas kopi gerobak pinggir jalan.
Baca juga: Kopi Indonesia Makin Diminati, Ekspor ke Australia Tembus Rp 114 Miliar
Kopi Kenangan gratis di Lestari Summit & Awards 2025
Anak Muda Dorong Penjualan
Anak muda yang masuk golongan generasi Milenial dan Gen Z merupakan penyumbang penjualan Kopi Kenangan, terutama melalui aplikasi. "Menyumbang hampir setengah dari penjualan kami," ungkap Edward.
Aplikasi Kopi Kenangan dinilai memiliki 1,5 juta pengguna aktif, atau tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam setahun belakangan.
Padahal sebelumnya, aplikasi Kopi Kenangan dikembangkan di tengah kondisi pandemi Covid-19.
Waktu itu, Kopi Kenangan terpaksa menutup puluhan gerai karena adanya kebijakan untuk tinggal di rumah.
Pengembangan aplikasi ini dilakukan untuk menjaga pendapatan di antara investasi pada kios di area perumahan dan SPBU.
Persaingan Domestik dan Global
Dalam melakukan ekspansi bisnis, Kopi Kenangan menghadapi tantangan baik di dalam negeri maupun di kancah global.
Dengan strategi yang sama, pengusaha gerai kopi domestik juga tengah bersiap ekspansi ke pasar Asia.
Di sisi lain, tantangan dari pasar global muncul dari pemain negara lain seperti Cafe Amazon dari Thailand, Zus Coffee dari Malaysia, Highlands Coffee dari Vietnam, dan Compose Coffee dari Korea Selatan.
Edward mengaku tidak melihat banyaknya pesaing ini sebagai tantangan tersendiri karena mereka membantu memperluas pasar dan mengubah cara orang Asia mengonsumsi kopi.
Berdasarkan riset perusahaan secara mandiri, konsumsi kopi seduh segar _per kapita_ di Indonesia sebesar 2,7 cangkir adalah yang terendah di Asia.
Ia memperkirakan, dalam empat tahun ke depan angka tersebut dapat meningkat menjadi 4,2 cangkir. "Jadi, ini adalah pasar yang sangat besar dan sebagian besar belum dimanfaatkan dengan banyak ruang untuk pertumbuhan," ungkap dia.
Baca juga: Terpaksa Diet Kopi Susu
Tag: #ambisi #ekspansi #kopi #kenangan #bidik #4000 #gerai #pada #2030