IHSG Short Trading Week, Saham MDKA hingga ULTJ Jadi Sorotan
- Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan terakhir Mei 2026 berlangsung lebih singkat, seiring rangkaian hari libur nasional dan cuti bersama.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar hanya memiliki tiga hari perdagangan efektif pada pekan tersebut.
Berdasarkan Kalender Libur Bursa Tahun 2026 yang diterbitkan BEI, perdagangan saham akan libur pada Rabu, 27 Mei 2026 dalam rangka Hari Raya Idul Adha.
Selanjutnya, perdagangan juga ditiadakan pada Kamis, 28 Mei 2026 karena cuti bersama Hari Raya Idul Adha.
Dengan demikian, perdagangan bursa pada pekan terakhir Mei tahun ini hanya berlangsung pada Senin, 25, 26, dan 29 Mei 2026.
Kondisi short trading week berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar karena likuiditas transaksi biasanya cenderung lebih terbatas dibandingkan pekan normal. Pelaku pasar juga umumnya lebih berhati-hati dalam mengambil posisi menjelang libur panjang.
Baca juga: IHSG Ditutup Hijau, Aksi Jual Asing Masih Berlanjut
Lalu, apa saja saham yang bisa dicermati investor ritel selama tiga hari perdagangan pekan ini?
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, memproyeksikan IHSG selama periode 25-29 Mei 2026 bergerak volatil, namun masih berpeluang mengalami technical rebound terbatas.
Aktivitas perdagangan pekan ini diprediksi lebih sensitif dan berfluktuasi tajam karena pasar hanya beroperasi selama tiga hari akibat libur nasional dan cuti bersama Hari Raya Idul Adha pada 27-28 Mei 2026.
“Perhatian investor domestik masih tertuju pada kepastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis melalui Danantara yang tetap efektif mulai 1 Juni 2026,” tukas Brigita, Senin.
“Kepastian ini menyisakan volatilitas pada saham-saham energi dan bahan baku seiring langkah investor dalam menilai dampaknya terhadap struktur distribusi ekspor nasional,” lanjut dia.
Tren pelemahan IHSG jangka menengah masih dominan
Namun, sentimen domestik turut terbantu hasil review FTSE Russell yang relatif konstruktif dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi outflow besar. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan mulai berdampak positif terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah, meski penguatannya masih dibatasi keperkasaan dolar AS.
Secara teknikal, Brigita menilai IHSG masih bergerak jauh di bawah rata-rata pergerakan atau SMA-50 di area 7.166 yang mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah masih dominan.
“Momentum indeks juga masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, sehingga penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama,” tuturnya.
Baca juga: IHSG Sesi Satu Menguat, Ditopang Saham BBCA, BMRI, dan BBRI
Rebalancing MSCI dan Danantara Bayangi Pergerakan IHSG
Ia menambahkan, meski IHSG berhasil menguat 1,10 persen pada perdagangan Jumat, potensi pemulihan indeks masih dibayangi volatilitas tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026, terutama pada saham-saham big caps yang masih berpotensi mengalami tekanan jual.
Selain itu, pasar juga diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia.
Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan volatilitas tinggi pada rentang support 5.996-5.899 dan resistance 6.318-6.459. Area 5.899 menjadi level penting untuk menjaga peluang rebound jangka pendek.
Sementara itu, pergerakan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan.
Meski demikian, tekanan jual diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing berakhir sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak lebih stabil secara bertahap, terutama apabila rupiah tetap terjaga dan sentimen global membaik seiring perkembangan negosiasi AS-Iran yang berpotensi menurunkan tekanan harga energi dan yield US Treasury.
Baca juga: IHSG Sepekan Ini Diperkirakan Masih Volatil, Ritel Bisa Cermati Saham MDKA, BTPN, dan ULTJ
Merespons dinamika pasar tersebut, ia merekomendasikan sejumlah saham untuk trading sepekan ini, diantaranya;
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) direkomendasikan dengan area entry di level Rp 2.720, target price Rp 3.000, serta stop loss di Rp 2.610.
Secara teknikal, saham MDKA dinilai berhasil ditutup di atas EMA5 disertai lonjakan volume perdagangan yang mengindikasikan mulai terbentuknya momentum rebound jangka pendek. Sentimen positif pada saham ini juga didukung oleh aksi akumulasi investor asing dengan catatan net buy mencapai Rp 691 miliar dalam sepekan terakhir.
Lalu, saham PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) direkomendasikan dengan area entry di Rp 2.380, target price Rp 2.530, dan stop loss di Rp 2.310.
Pergerakan saham BTPN masih berada dalam tren naik dan konsisten bertahan di atas EMA5 hingga EMA50, yang mencerminkan momentum penguatan masih terjaga. Selain itu, saham ini turut mendapat dukungan dari aksi akumulasi asing dengan nilai net buy sebesar Rp 2,3 miliar dalam sepekan terakhir.
Saham PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) direkomendasikan dengan area entry di Rp 1.635, target price Rp 1.725, serta stop loss di Rp 1.590.
Secara teknikal, saham ULTJ membentuk pola higher low dengan rebound di area EMA50, yang mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan membuka peluang rebound jangka pendek.
Momentum penguatan juga mulai terkonfirmasi melalui indikator MACD yang bergerak naik menuju area bullish crossover.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #short #trading #week #saham #mdka #hingga #ultj #jadi #sorotan