Indonesia Masuk Aging Population, Jepang Sudah Lebih Dulu Mengalami
- Jepang sudah lama menjadi contoh negara dengan populasi menua tercepat di dunia.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena aging population di negara tersebut tidak lagi hanya dibahas sebagai persoalan demografi, melainkan mulai dipandang sebagai faktor yang membentuk ulang arah ekonomi, pasar tenaga kerja, hingga pola konsumsi masyarakat.
Di tengah penurunan angka kelahiran dan meningkatnya usia harapan hidup, Jepang kini menghadapi situasi ketika jumlah lansia terus bertambah sementara populasi usia produktif menyusut.
Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Lansia Tembus 11,97 Persen
Ilustrasi populasi dunia
Menurut World Economic Forum (WEF), kondisi itu ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi, beban fiskal negara, hingga cara perusahaan menjalankan bisnis.
Fenomena serupa mulai menjadi perhatian di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia resmi memasuki fase ageing population dengan persentase penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen.
BPS menyebut rasio ketergantungan juga meningkat menjadi 45,05 persen pada 2025.
Kondisi itu menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia. Selama ini Indonesia dikenal menikmati bonus demografi dengan dominasi penduduk usia produktif.
Baca juga: Indonesia Masuk Fase Aging Population, Beban Generasi Sandwich Membesar
Namun, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa perubahan struktur usia penduduk dapat membawa dampak luas terhadap ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika populasi menua menjadi tantangan ekonomi
Jepang menjadi negara dengan populasi tertua di dunia. WEF mencatat lebih dari satu dari 10 penduduk Jepang kini berusia di atas 80 tahun.
Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.
Negara tersebut juga menghadapi angka kelahiran yang terus menurun dalam beberapa dekade terakhir.
Dampaknya terlihat langsung pada pasar tenaga kerja. Jumlah penduduk usia produktif terus berkurang sehingga perusahaan menghadapi kekurangan pekerja.
Baca juga: Populasi China Kembali Menyusut pada 2025, Kelahiran dan Penuaan Jadi Faktor
Survei Reuters pada 2025 menunjukkan dua pertiga perusahaan Jepang mengaku mengalami dampak serius akibat kekurangan tenaga kerja karena populasi yang menyusut dan menua.
Kondisi itu ikut menekan biaya operasional perusahaan. Banyak bisnis harus menaikkan gaji, memperpanjang usia pensiun, hingga meningkatkan perekrutan pekerja senior untuk mempertahankan operasional usaha.
Reuters juga mencatat kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja di Jepang meningkat 32 persen pada 2024.
Dalam jangka panjang, populasi yang menua juga membebani keuangan negara.
Baca juga: Bonus Demografi Harus Diimbangi Investasi SDM, Bukan Hanya Angka Populasi
Nomura menyebut Jepang menghadapi tekanan besar akibat rendahnya angka kelahiran, meningkatnya belanja jaminan sosial, serta rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang sudah melampaui 200 persen.
Tekanan fiskal muncul karena semakin sedikit penduduk usia kerja yang membayar pajak, sementara jumlah lansia yang membutuhkan layanan kesehatan dan pensiun terus bertambah.
Studi Nomura Foundation bahkan menyebut populasi menua dapat memengaruhi keberlanjutan anggaran dan sistem jaminan sosial Jepang.
WEF mencatat rasio penduduk usia kerja 20-64 tahun terhadap kelompok usia 65 tahun ke atas di Jepang turun drastis dari 5,1 banding 1 pada 1990 menjadi sekitar 1,8 banding 1 pada 2025.
Baca juga: Populasi Susut, Permintaan Rumah di China Diperkirakan Terus Merosot
Artinya, beban ekonomi yang harus ditanggung kelompok usia produktif semakin besar.
Ilustrasi lansia
Lansia menjadi penyangga ekonomi
Meski kerap dipandang sebagai ancaman bagi pertumbuhan ekonomi, populasi menua di Jepang juga memunculkan dinamika baru. Nikkei Asia menyebut kelompok lansia justru menjadi “silver shock absorber” atau penyangga ekonomi Jepang.
Istilah itu merujuk pada peran masyarakat lanjut usia dalam menjaga stabilitas konsumsi domestik.
Ketika kelompok usia muda cenderung berhati-hati membelanjakan uang karena tekanan ekonomi dan ketidakpastian kerja, lansia Jepang tetap melakukan konsumsi menggunakan tabungan yang dikumpulkan selama masa produktif.
Baca juga: Jumlah Populasi Indonesia 2025
Fenomena itu membuat belanja rumah tangga Jepang tidak jatuh terlalu dalam meski ekonomi mengalami perlambatan. Lansia menjadi kelompok konsumen besar yang menopang berbagai sektor, mulai dari kesehatan, makanan, layanan rumah tangga, hingga rekreasi.
WEF dalam artikel mengenai longevity economy menyebut populasi lansia Jepang mendorong pertumbuhan industri baru berbasis kebutuhan warga senior. Jepang kini memiliki sekitar 36,25 juta penduduk berusia di atas 65 tahun.
Pertumbuhan populasi lansia memicu peningkatan permintaan layanan kesehatan, perawatan jangka panjang, hingga teknologi pendukung kehidupan lansia seperti robot perawat dan platform berbasis kecerdasan buatan (AI).
WEF menyebut longevity economy di Jepang tidak lagi dipandang sekadar biaya sosial, melainkan juga sumber inovasi dan investasi baru. Bahkan, sejumlah industri mulai menyesuaikan produk dan layanan untuk konsumen senior yang jumlahnya terus meningkat.
Baca juga: Populasi Jepang Turun 14 Tahun Berturut-turut, Jumlah Lansia Sentuh Rekor Tertinggi
Mengubah wajah pasar kerja
Ilustrasi populasi manusia.
Perubahan demografi juga memaksa Jepang menata ulang sistem ketenagakerjaan. Banyak perusahaan kini mempertahankan pekerja berusia lanjut lebih lama dibanding sebelumnya.
Dorongan itu muncul karena perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja baru di tengah populasi usia muda yang terus menyusut.
Pemerintah Jepang juga mulai mendorong partisipasi lansia di pasar kerja agar tekanan terhadap sistem pensiun dan fiskal dapat dikurangi.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dalam laporan yang dikutip Reuters menyebut populasi menua tidak selalu menjadi beban apabila negara mampu menciptakan sistem kerja yang mendukung lansia tetap produktif.
Baca juga: Terendah sejak 1960, Penduduk Miskin Indonesia Capai 8,57 Persen dari Total Populasi
IMF menilai pekerja lanjut usia saat ini cenderung lebih sehat dibanding generasi sebelumnya sehingga memiliki peluang bekerja lebih lama.
Di Jepang, kondisi tersebut terlihat dari semakin banyaknya pekerja senior di toko ritel, layanan publik, transportasi, hingga sektor jasa. Lansia tidak lagi hanya dipandang sebagai kelompok penerima bantuan sosial, tetapi juga bagian dari tenaga kerja aktif.
Namun, perubahan itu tetap menghadirkan tantangan besar. OECD mencatat populasi menua tetap berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi apabila produktivitas tidak meningkat dan reformasi pasar tenaga kerja berjalan lambat.
Indonesia mulai menghadapi tantangan serupa
Indonesia memang masih memiliki dominasi penduduk usia produktif. Namun, hasil SUPAS 2025 menunjukkan arah perubahan demografi mulai bergerak menuju populasi menua.
Baca juga: Populasi Penduduk Usia Kerja di China Menyusut
BPS mencatat persentase penduduk lansia Indonesia mencapai 11,97 persen pada 2025, melewati ambang batas aging population sebesar 10 persen.
Dalam lima tahun terakhir, laju pertumbuhan penduduk Indonesia juga melambat menjadi 1,08 persen per tahun.
Ilustrasi penduduk Indonesia, populasi Indonesia.
BPS juga menyebut angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) Indonesia kini berada di level 2,13 atau mendekati replacement level. Kondisi itu menandakan jumlah kelahiran semakin mendekati tingkat yang hanya cukup untuk menggantikan populasi sebelumnya.
Pengalaman Jepang menunjukkan perubahan struktur penduduk tidak hanya memengaruhi ekonomi makro, tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga: Saat Penduduk Indonesia Menua, Apa yang Terjadi pada Ekonomi?
Kebutuhan layanan kesehatan meningkat, biaya perlindungan sosial membesar, dan pola konsumsi berubah mengikuti dominasi kelompok usia lanjut.
Di sisi lain, muncul pula peluang ekonomi baru. Aging population dapat memunculkan “silver economy” yang mencakup sektor kesehatan, layanan keuangan, perumahan ramah lansia, hingga wisata dan gaya hidup untuk kelompok usia senior.
Provinsi dengan populasi lansia tinggi diperkirakan akan lebih dulu menghadapi perubahan tersebut. BPS mencatat Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wilayah dengan persentase lansia tertinggi mencapai 17,83 persen.
Di Jepang, perubahan demografi terjadi perlahan selama beberapa dekade hingga akhirnya membentuk ulang struktur ekonomi nasional.
Baca juga: Jepang Tambah Kuota Magang Indonesia di Tengah Krisis Penduduk
Kini, ketika Indonesia mulai memasuki fase serupa, pengalaman Jepang menjadi gambaran mengenai tantangan sekaligus perubahan yang mungkin muncul dalam beberapa tahun mendatang.
Tag: #indonesia #masuk #aging #population #jepang #sudah #lebih #dulu #mengalami