Blackout Sumatera Jadi Alarm Ketahanan Sistem Kelistrikan
- Blackout yang melanda sistem kelistrikan Sumatera dinilai menjadi pengingat penting bahwa ketahanan jaringan transmisi nasional tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga pada kemampuan sistem interkoneksi menjaga stabilitas saat gangguan terjadi.
Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF Abra Talattov menilai, proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatera pascagangguan interkoneksi memiliki pola serupa dengan berbagai kasus blackout besar di dunia, yakni mengutamakan stabilitas sistem melalui tahapan recovery yang dilakukan secara bertahap, hati-hati, dan terukur.
“Dalam sistem interkoneksi besar, tantangan paling berat justru biasanya muncul saat proses recovery. Operator harus memastikan frekuensi, tegangan, dan sinkronisasi antar pembangkit tetap stabil agar sistem yang mulai pulih tidak kembali jatuh,” ujar Abra, melalui keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Bobby ke PLN : Jangan Ada Lagi Istilah Blackout Setiap Tahun
Menurut Abra, pengalaman berbagai negara menunjukkan gangguan pada sistem interkoneksi modern dapat berkembang sangat cepat menjadi cascading failure atau efek domino ketika frekuensi sistem turun dan keseimbangan pasokan dengan beban terganggu.
Ia mengatakan, pola serupa terlihat dalam berbagai kasus blackout besar di Amerika Serikat, India, Spanyol, Inggris, hingga Australia Selatan yang sama-sama dipicu gangguan transmisi maupun ketidakstabilan sistem interkoneksi.
Abra mencontohkan blackout Amerika Utara pada 2003 yang berkembang menjadi gangguan sistemik hingga menyebabkan lebih dari 100 pembangkit lepas dari sistem. Sementara di India pada 2012, gangguan interkoneksi meluas akibat ketidakseimbangan beban antarwilayah.
Baca juga: Danantara Bakal Evaluasi PLN Imbas Blackout Sumatera
Adapun di Spanyol dan Portugal pada 2025, proses pemulihan juga dilakukan bertahap untuk menjaga kestabilan sistem setelah lonjakan tegangan memicu pemadaman besar di Semenanjung Iberia.
Pola serupa juga terjadi di Pakistan dan Turki ketika operator sistem harus melakukan sinkronisasi pembangkit secara hati-hati untuk mencegah gangguan lanjutan saat proses penyalaan kembali jaringan listrik.
Menurut Abra, pengalaman global menunjukkan fase recovery sering menjadi tahapan paling kritis karena kesalahan sinkronisasi saat penyalaan kembali pembangkit dapat memicu gangguan susulan atau bahkan blackout kedua.
“Kalau sinkronisasi dilakukan terlalu cepat sementara sistem belum stabil, pembangkit bisa kembali trip dan memicu gangguan lanjutan,” katanya.
“Karena itu operator biasanya sangat berhati-hati saat proses recovery,” lanjut Abra.
Baca juga: Wamen ESDM Ungkap Penyebab Blackout Sumatera: Jaringan Transmisi Tersambar Petir
Ia menjelaskan, pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih panjang dalam proses pemulihan karena harus melewati tahapan teknis mulai dari pemanasan boiler, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi operasi sebelum kembali memasok daya penuh ke sistem interkoneksi.
Menurut Abra, pola pemulihan bertahap yang dilakukan pada sistem kelistrikan Sumatera juga mencerminkan pendekatan yang umum diterapkan dalam penanganan blackout sistem interkoneksi di berbagai negara untuk menjaga sistem tetap stabil hingga seluruh pasokan kembali normal.
Menurutnya, pembangkit berbasis hidro dan gas dapat berperan sebagai fast response dalam tahap awal pemulihan karena lebih cepat masuk kembali ke sistem.
Namun, pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu yang lebih panjang, bahkan PLN menyebut prosesnya dapat mencapai 15 hingga 20 jam sejak start-up, sinkron, hingga beroperasi penuh.
“Karena itu publik perlu memahami bahwa blackout pada sistem interkoneksi besar berbeda dengan gangguan listrik lokal,” jelasnya.
“Ketika sistem besar mengalami gangguan frekuensi, penyalaannya tidak bisa sekadar dinyalakan kembali seperti saklar. Harus ada tahapan sinkronisasi dan stabilisasi agar tidak muncul gangguan susulan,” tambah Abra.
Baca juga: Blackout Sumatera Berulang: Diagnosa atas Bias Investasi Kelistrikan
Sambaran Petir Ganggu Sistem Interkoneksi
Di tengah proses evaluasi tersebut, pemerintah mengungkap penyebab awal blackout yang melanda Sumatera.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, pemadaman listrik atau blackout di wilayah Sumatera dipicu gangguan pada jaringan transmisi di Merangin akibat sambaran petir.
Menurutnya, sambaran petir tersebut mengganggu kestabilan sistem kelistrikan Sumatera hingga menyebabkan pasokan listrik padam di berbagai daerah.
“Ini kan ada persoalan yang jaringan transmisi, itu kan ada kesambar petir di Merangin,” ujar Yuliot ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026).
“Dengan ada sambar petir tersebut itu berdampak terhadap kestabilan sistem,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan Sumatera bagian utara selama ini relatif banyak mendapat aliran listrik dari wilayah selatan.
Saat gangguan terjadi, sistem kelistrikan langsung terdampak sehingga memicu blackout secara luas.
“Jadi pada saat terjadi gangguan, seluruh sistem mengalami blackout,” katanya.
Diketahui, kondisi mati listrik di Sumatera terjadi sejak Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB dan pulih sepenuhnya pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
Yuliot menuturkan, proses pemulihan dilakukan secara bertahap karena sistem kelistrikan harus dihidupkan kembali satu per satu.
Pemerintah dan PT PLN (Persero) memulai pemulihan dari pembangkit yang dapat lebih cepat dioperasikan, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit panas bumi (geotermal), pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), serta pembangkit berbasis gas.
Sementara itu, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali beroperasi, yakni sekitar 12 jam.
Kementerian ESDM pun telah menurunkan tim ke lapangan guna memeriksa penyebab gangguan tersebut dan memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
“Sesuai apa yang kami koordinasi dengan PLN, pasokan listrik sudah bisa pulih 100 persen,” pungkas Yuliot.
Momentum Perkuat Transmisi dan Smart Grid
Meski pasokan listrik telah pulih, Abra menilai peristiwa ini perlu menjadi momentum evaluasi struktural terhadap desain ketahanan sistem transmisi kelistrikan nasional, khususnya di Sumatera.
Menurutnya, sistem kelistrikan Sumatera masih memiliki karakter jaringan yang cenderung memanjang dan radial di sejumlah koridor, sehingga ketika terjadi gangguan pada ruas transmisi strategis, dampaknya berpotensi merambat lebih luas ke wilayah lain.
“Ke depan, kita tidak cukup hanya bicara penambahan pembangkit. Sistem transmisi juga harus dibuat lebih kuat dan adaptif,” ujar Abra.
“Dalam konteks Sumatera, jaringan yang terlalu memanjang dan kurang memiliki alternatif jalur evakuasi daya akan membuat sistem lebih rentan ketika satu titik transmisi mengalami gangguan,” lanjutnya.
Ia menegaskan, arah pembangunan Green Enabling Super Grid sebagaimana tercantum dalam RUPTL 2025–2034 menjadi sangat relevan.
RUPTL 2025–2034 menempatkan penguatan jaringan transmisi dan smart grid sebagai prasyarat penting untuk mengintegrasikan energi baru terbarukan, memperkuat keandalan sistem, serta mengatasi ketidaksesuaian lokasi antara pusat pembangkit dan pusat beban.
PLN juga telah menyampaikan rencana pembangunan Green Super Grid sepanjang 47.758 kilometer sirkuit dalam periode RUPTL 2025–2034.
Menurut Abra, Green Enabling Super Grid tidak hanya penting untuk agenda transisi energi, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan dari risiko gangguan besar.
Dengan jaringan transmisi yang lebih terhubung, memiliki jalur alternatif, didukung digitalisasi sistem, serta kemampuan pengendalian beban dan pembangkit secara real-time, sistem kelistrikan dinilai akan lebih mampu merespons gangguan secara cepat dan mencegah efek domino.
“Pelajaran penting dari blackout Sumatera adalah transmisi tidak boleh dipandang sebagai infrastruktur pasif,” kata Abra.
“Transmisi harus menjadi sistem yang moving, lebih agile, adaptif, dan cerdas. Jadi bukan hanya kabel yang mengalirkan listrik dari titik A ke titik B, tetapi jaringan yang mampu membaca kondisi sistem, mengalihkan aliran daya, dan menjaga stabilitas ketika terjadi gangguan,” lanjutnya.
Ia menambahkan, pembangunan Green Enabling Super Grid juga penting untuk mengakomodasi bauran energi yang semakin kompleks.
Masuknya pembangkit energi terbarukan seperti PLTA, PLTS, panas bumi, dan pembangkit berbasis sumber daya lokal membutuhkan jaringan yang mampu mengelola variasi pasokan, perbedaan lokasi sumber energi, serta kebutuhan fleksibilitas sistem.
Abra juga menilai pemerintah dan PLN perlu menjadikan kejadian ini sebagai dasar percepatan investasi pada transmisi, gardu induk, sistem proteksi, automatic generation control, battery energy storage system, digital substation, dan teknologi pemantauan sistem berbasis real-time.
Menurutnya, investasi pada infrastruktur transmisi harus dipandang sebagai investasi ketahanan ekonomi, bukan semata biaya teknis kelistrikan.
Tag: #blackout #sumatera #jadi #alarm #ketahanan #sistem #kelistrikan