Petani India Beralih ke Srikaya Saat Krisis Air Makin Menekan
Ilustrasi buah srikaya. Buah srikaya mengandung serat dan memiliki indeks glikemik rendah. Makan buah ini sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang baik untuk penderita diabetes.(Shutterstock/Aria Armoko)
15:04
27 Mei 2026

Petani India Beralih ke Srikaya Saat Krisis Air Makin Menekan

 Perubahan iklim dan krisis air membuat sebagian petani India mulai mencari tanaman yang lebih tahan kering.

Salah satu komoditas yang mulai dilirik adalah srikaya.

Distrik Kolar di India selatan menjadi salah satu wilayah yang merasakan tekanan tersebut.

Ashoka Shivareddy tumbuh dari keluarga petani di daerah itu. Namun, bertani di wilayah rawan kekeringan bukan perkara mudah.

"Daerah ini hanya menerima curah hujan 60 hingga 70 sentimeter, dan para petani menggali sumur bor hingga kedalaman 1.300 kaki, sebagian besar uang mereka habis untuk mencari air," kata Shivareddy, seperti dilansir dari BBC, Kamis (27/5/2026).

Baca juga: Cerita Penjual Buah Srikaya Utan Dapat Berkah Untung di Bulan Ramadhan 

Keluarganya terus merugi. Mereka akhirnya meninggalkan pertanian dan pindah ke Bengaluru pada 2005.

Keluarga Shivareddy kemudian membuka toko sayuran.

Shivareddy sendiri menempuh jalur berbeda. Ia menjadi insinyur perangkat lunak kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Meski begitu, minatnya pada pertanian tidak pernah hilang.

Tahun 2018, Shivareddy memutuskan menghidupkan kembali lahan pertanian keluarga. Ia memakai pendekatan yang lebih ilmiah.

"Saya mencari tanaman yang dapat bertahan hidup dengan sedikit air, tumbuh dengan curah hujan, dan tidak terlalu bergantung pada pestisida," kata dia.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada srikaya. Buah ini memiliki kulit bergelombang. Ukurannya kira kira sebesar alpukat besar.

Daging buahnya lembut dan berwarna putih. Rasanya manis dengan tekstur menyerupai puding.

Pohon srikaya tumbuh liar di daerah Shivareddy. Warga biasa memanen buahnya lalu menjualnya ke pasar lokal.

Bagi Shivareddy, kondisi itu menunjukkan potensi besar. Ia kemudian menanam pohon srikaya lebih rapat dibanding pola tanam umum.

Ia juga memilih tiga varietas berbeda dengan keunggulan masing masing. Hasilnya mulai terlihat.

"Tahun lalu saya menghasilkan sekitar 20 ton. Tahun ini, sekitar 25 ton. Ada permintaan besar untuk srikaya di India dan luar negeri," kata Shivareddy.

Baca juga: Krisis Iklim, BRIN Sebarkan Varietas Padi Tahan Kekeringan

Varietas baru bantu petani

Budidaya srikaya tetap memiliki tantangan meski tanaman ini tahan terhadap kondisi kering. Varietas tradisional Balangar hanya mampu bertahan tiga sampai empat hari setelah dipanen.

Masa simpan yang pendek membuat petani sulit menjual buah ke pasar yang lebih jauh. Varietas lama juga memiliki banyak biji dan daging buah lebih sedikit.

Kondisi itu membuat buah kurang menarik bagi konsumen.

"Varietas tradisional memiliki rasa yang sangat enak, tetapi memiliki kandungan daging buah yang rendah, jumlah biji yang tinggi, dan daya tahan simpan yang sangat buruk," kata ilmuwan utama Indian Institute of Horticultural Research atau IIHR di Bengaluru, Dr Sakthivel T.

Tim IIHR kemudian mengembangkan varietas hibrida bernama Arka Sahan. Varietas ini mampu bertahan hingga satu pekan pada suhu ruang.

Bijinya lebih sedikit dan daging buahnya lebih banyak. Arka Sahan mulai menyebar ke berbagai wilayah India selatan dalam 20 tahun terakhir.

"Pergeseran dari pemulihan daging buah 30 persen pada varietas liar menjadi pemulihan 70 persen pada hibrida seperti Arka Sahan secara efektif telah menggandakan hasil panen yang dapat digunakan oleh petani tanpa membutuhkan lebih banyak lahan," kata Sakthivel.

Timnya kini meneliti cara mengolah srikaya agar lebih mudah digunakan dalam produk makanan. Produk tersebut antara lain es krim dan milkshake.

Salah satu tantangan utama muncul setelah daging srikaya diekstraksi. Daging buah cepat berubah warna menjadi cokelat.

Peneliti IIHR sedang menguji peralatan dan teknik baru. Tujuannya, daging srikaya bisa mempertahankan warna putih susu lebih lama.

Maharashtra jadi sentra utama

Negara bagian Maharashtra di India tengah menjadi produsen srikaya terbesar di India. Wilayah ini menyumbang hampir sepertiga produksi nasional.

Navnath Malhari Kaspate sudah membudidayakan srikaya selama puluhan tahun di Maharashtra. Ia berkeliling India untuk mengumpulkan benih.

Benih itu kemudian dibawa kembali ke lahan pertanian untuk disilangkan.

"Tidak ada yang benar-benar memperhatikan srikaya atau melakukan penelitian, jadi saya memutuskan untuk terus mengerjakannya. Dibutuhkan 12 hingga 15 tahun untuk mengembangkan varietas baru. Ini bukan pekerjaan cepat, ini adalah eksperimen selama beberapa dekade," kata Kaspate.

Riset panjang itu menghasilkan varietas NMK 01. Nama tersebut diambil dari inisialnya.

Varietas NMK 01 mulai dijual pada 2014. Varietas ini dikenal memiliki hasil panen tinggi dan masa simpan lebih baik.

"Sekarang kami menanam srikaya di hampir 50 hektar, dengan hasil sekitar 10 ton per hektar. Varietas unggul ini, yang tidak mudah busuk, telah menciptakan peluang ekspor. Kami mulai mengekspor ke negara-negara Teluk, dan bahkan mengirimkannya ke Eropa, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam skala sebesar ini," kata Kaspate.

Kaspate masih terus mengembangkan varietas baru. Ia menargetkan tampilan buah lebih baik dan ketahanan penyakit lebih kuat.

Mulai diekspor

Eksportir buah Manoj Kumar Barai memilih varietas NMK 01 untuk pasar luar negeri. Buah tersebut dikirim ke Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Eropa.

"Untuk ekspor, kami lebih memilih varietas NMK-01 karena memiliki daya tahan simpan yang lebih baik, kulit lebih tebal, daging buah lebih banyak, dan rasa lebih manis dibandingkan varietas lainnya," kata Barai.

Namun, ekspor srikaya segar tidak sederhana. Buah ini sangat lunak dan mudah rusak. Setiap tahap harus dihitung secara presisi.

Tahap itu mencakup waktu panen, perjalanan ke rumah kemas, pengiriman ke bandara, penerbangan, hingga proses bea cukai.

"Kami harus merencanakan semuanya dengan tepat, waktu panen, transportasi ke rumah pengemasan, transfer bandara, penerbangan, bea cukai, setiap jam sangat penting," kata Barai.

Pengendalian suhu menjadi faktor paling penting.

"Buah srikaya sangat sensitif terhadap panas, dan bahkan paparan singkat pun dapat mengurangi masa simpannya," ujar dia.

Perjalanan darat biasanya dilakukan pada malam hari. Langkah itu dilakukan untuk menghindari suhu ekstrem.

Suhu di wilayah seperti Maharashtra bisa mencapai 40 derajat celsius. Saat transit, suhu juga dapat berada di kisaran 30 sampai 35 derajat celsius.

Kondisi tersebut tidak ideal untuk srikaya. Sebelum dikemas, buah didinginkan selama lima jam.

Setelah itu, srikaya dikirim dengan van berpendingin. Buah kemudian disimpan di ruang pendingin sebelum dikirim melalui udara.

Eksportir juga memakai kotak kardus khusus untuk melindungi buah dan menjaga suhu tetap rendah.

Bubur buah jadi peluang baru

Ekspor srikaya dalam bentuk bubur dan bubuk juga mulai tumbuh. Barai menyebut produk olahan ini sebagai “revolusi” bagi industri ekspor srikaya.

Bubur srikaya digunakan pembuat es krim, toko roti, dan kafe di luar negeri. Namun, prosesnya tetap menantang.

Bubur buah harus disimpan dan diangkut pada suhu minus 18 derajat celsius.

Meski begitu, pengiriman bubur buah lebih murah dibanding ekspor buah segar melalui udara.

Volume pengiriman juga bisa lebih besar.

Produk tersebut dapat bertahan selama berminggu minggu dengan risiko buah terbuang lebih kecil.

Shivareddy juga ingin memperluas usaha ke pengolahan bubur srikaya di Kolar.

Ia berencana membangun unit pengolahan untuk memanfaatkan sebagian hasil panen yang tidak layak dijual sebagai buah segar.

Namun, ekstraksi daging buah dan pendinginan hingga minus 20 derajat celsius membutuhkan investasi besar.

Menurut Shivareddy, kondisi itu menuntut perubahan cara pikir petani.

"Buah srikaya berada di posisi yang unik. Permintaan meningkat, tetapi pertaniannya belum berteknologi tinggi karena tanaman ini secara alami tahan terhadap kondisi lingkungan yang sulit. Tanaman ini tumbuh di tanah yang kurang subur, hanya membutuhkan sedikit air, dan bertahan hidup dengan curah hujan. Petani tidak membutuhkan irigasi mahal, sensor, atau lingkungan terkontrol sehingga adopsi teknologi tetap rendah," kata dia.

Tag:  #petani #india #beralih #srikaya #saat #krisis #makin #menekan

KOMENTAR