Harga Minyak Dunia Turun saat AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi Lagi
ilustrasi minyak mentah(SHUTTERSTOCK)
05:40
29 Mei 2026

Harga Minyak Dunia Turun saat AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi Lagi

- Harga minyak mentah turun pada hari Kamis, setelah para negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata.

Para negosiator mencapai nota kesepahaman 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata dan memulai negosiasi tentang program nuklir Iran.

Presiden AS Donald Trump masih harus menyetujui kesepakatan tersebut.

Harga minyak mentah berjangka Brent yang jadi patokan internasional, turun 58 sen menjadi 93,71 dollar AS per barrel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 22 sen menjadi 88,90 dollar AS per barrel.

Baca juga: Saling Serang AS-Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik ke 96 Dollar AS

Harga-harga naik pada Kamis pagi setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan militer. Garda Revolusi mengatakan mereka menargetkan pangkalan udara AS sekitar pukul 04.50 pagi waktu setempat.

Komando Pusat AS kemudian mengatakan, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait yang berhasil dicegat.

Serangan itu terjadi setelah pasukan AS melancarkan serangan baru di Iran terhadap sebuah situs militer yang diyakini mengancam pasukan AS dan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.Beberapa drone Iran juga dilaporkan dicegat dan ditembak jatuh.

Harga minyak telah anjlok lebih dari 10 persen sejak 18 Mei ketika Trump membatalkan gelombang serangan militer yang akan segera dilancarkan terhadap Iran untuk memberikan lebih banyak waktu bagi negosiasi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, pembicaraan telah mencapai beberapa kemajuan.

Rubio mengatakan Trump lebih menyukai diplomasi dan akan memberikan kesempatan terbaik bagi pembicaraan dengan Iran untuk berhasil.

AS dan Iran telah terjebak dalam kebuntuan terkait Selat Hormuz sejak menyepakati gencatan senjata yang rapuh pada April.

Televisi pemerintah Iran mengklaim pada hari Rabu, Teheran menyetujui draf nota kesepahaman, atau MOU, dengan AS untuk membuka Selat Hormuz ke tingkat lalu lintas kapal komersial seperti sebelum perang.

Namun, Iran dan Oman akan mengatur lalu lintas melalui selat tersebut berdasarkan nota kesepahaman (MOU).

Di sisi lain, Gedung Putih menolak laporan itu dengan menyebutnya sebagai kebohongan. Trump kemudian mengatakan tidak ada negara yang akan mengendalikan pengiriman melalui selat tersebut.

Penasihat energi Amos Hochstein mengatakan, para pemimpin Timur Tengah sudah meyakini Iran secara efektif telah menguasai Selat Hormuz.

“Apa pun yang terjadi, Iran akan mengendalikan Selat Hormuz untuk masa mendatang, bahkan isi kesepakatan pun tidak berpengaruh. Semua orang di kawasan itu percaya akan hal itu,” kata dia

Baca juga: Minyak Melonjak, Indonesia Perlu Bergerak Serentak

Sebelumnya, Citigroup mengatakan pasar minyak menemukan pijakan yang lebih kuat karena investor semakin mengesampingkan skenario terburuk gangguan pasokan di tengah tanda-tanda Washington dan Teheran semakin mendekati kesepakatan. 

Namun demikian, bank tersebut memperingatkan ketidakpastian mengenai waktu kesepakatan apa pun membuat bank sentral tetap waspada.

Para pembuat kebijakan mempertimbangkan kemungkinan pengaturan moneter yang lebih ketat sebagai respons terhadap risiko inflasi yang dipicu oleh sektor energi.

Citi mengatakan, kenaikan harga minyak mentah yang berkepanjangan mulai berdampak pada tekanan inflasi yang lebih luas.

“Wall Street ingin perang ini berakhir, tetapi alasan perang ini tidak berakhir adalah karena Wall Street,” kata Hochstein.

“Wall Street ingin percaya apa yang dikatakan Presiden Trump itu benar, kita berada di ambang kesepakatan kapan saja, itulah sebabnya harga minyak turun,” tutup dia.

Tag:  #harga #minyak #dunia #turun #saat #iran #tempuh #jalur #diplomasi #lagi

KOMENTAR