Rupiah Anjlok, IHSG Berpotensi Tertekan Saham Bank Jumbo
Ilustrasi Rupiah Melemah(TOTO SIHONO)
11:36
29 Mei 2026

Rupiah Anjlok, IHSG Berpotensi Tertekan Saham Bank Jumbo

Pelemahan nilai tukar rupiah telah menembus level Rp 17.864 per dollar Amerika Serikat (AS). Anjloknya mata uang Garuda dinilai semakin menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.864 per dollar AS.

Data ini tercatat pada pukul 09.57 WIB atau tak berselang lama pasar dibuka, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Rupiah Melemah, Dapur Rakyat Gelisah

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Adapun pada pukul 11.26 WIB, kurs rupiah kembali melemah ke level Rp 17.881 per dollar AS.

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) diyakini menjadi sumber tekanan utama bagi indeks.

Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memang berpotensi menjadi penekan utama IHSG ketika rupiah mengalami pelemahan ekstrem.

Alasannya, keempat saham tersebut merupakan saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi porsi utama dalam portofolio banyak manajer investasi maupun investor institusi.

Baca juga: Rupiah Lampaui Rp 17.860 per Dollar AS, Pasar Tunggu Langkah BI

“Tentu (bank jadi penekan), karena memang dari portofolio manajer investasi saham tersebut adalah yang paling likuid,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Jumat pagi.

Sebagai gambaran, dalam kondisi pasar yang diliputi ketidakpastian, investor biasanya lebih memilih melepas saham yang likuid karena lebih mudah dijual dalam jumlah besar tanpa mengalami kesulitan mencari pembeli.

Akibatnya, ketika terjadi aksi jual oleh investor domestik maupun asing, tekanan pertama umumnya akan terlihat pada saham-saham bank besar tersebut.

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/MAHARDIKA ARGHA Ilustrasi saham.

Selain memiliki tingkat likuiditas tinggi, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga memiliki bobot yang besar dalam perhitungan IHSG.

Baca juga: Rupiah Terus Tersungkur Menuju Rp 18.000, PT DSI Digadang Jadi Penyelamat...

Oleh karena itu, penurunan harga saham-saham tersebut akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

Bahkan, meskipun sebagian besar saham lain bergerak stabil, koreksi pada saham bank jumbo tetap dapat menyeret IHSG ke zona merah.

Berdasarkan data BEI, saham BBCA menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,51 persen ke level 5.825 per pukul 10.45 WIB.

Di awal perdagangan Jumat ini, BBCA bergerak dalam rentang 5.750 hingga 5.975.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.800, IHSG dan Saham Bank Besar Dibayangi Tekanan

Tekanan juga terlihat pada saham BBNI yang turun 0,78 persen ke posisi 3.810. Saham BBNI sempat diperdagangkan pada kisaran 3.800-3.840, namun gagal mempertahankan penguatan dan kembali bergerak di zona merah.

Sementara itu, saham BBRI relatif lebih stabil. BBRI melemah tipis 0,33 persen ke area 3.060 setelah bergerak dalam rentang sempit 3.050 hingga 3.080.

Saham BMRI justru mampu bertahan di zona hijau. BMRI menguat 0,73 persen ke level 4.160, setelah sempat menyentuh angka tertinggi 4.180.

Lebih jauh, Faris mengatakan dari sisi price action, skenario terburuk atau worst case scenario bagi IHSG berada di kisaran 5.800 hingga 6.000.

Baca juga: Rupiah Melemah, Industri Impor hingga Perbankan Siap-siap Tertekan pada Semester II-2026

Risiko tersebut muncul karena pasar saat ini menghadapi sentimen negatif, yakni melemahnya nilai tukar rupiah dan pelaksanaan rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan efektif pada 1 Juni 2026.

Artinya, tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari pelemahan mata uang domestik saja, tetapi juga dari potensi perubahan alokasi dana investor global menjelang rebalancing MSCI.

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.

“Secara price action, worst skenario untuk IHSG berada di range 5.800-6.000, ditengah sentimen pelemahan rupiah, serta rebalancing MSCI yang efektif pada 1 Juni 2026,” paparnya.

Meski demikian, Faris menilai pelemahan rupiah ke level psikologis di atas Rp 17.800 per dollar AS tidak serta-merta mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Baca juga: Apa yang Salah Ketika Rupiah Terus Melemah?

Ia melihat tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya risk premium atau premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Hal itu tecermin dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, yang menunjukkan bahwa investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk menempatkan dana mereka di pasar keuangan domestik.

Dengan meningkatnya risk premium, daya tarik aset-aset Indonesia menjadi berkurang dibandingkan negara lain yang dianggap lebih aman.

Karena itu, untuk kembali menarik aliran dana asing (capital inflow), Indonesia membutuhkan katalis yang kuat, baik berupa prospek pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan (growth story) maupun valuasi aset yang dinilai sangat murah oleh investor global.

Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Stimulus Ekonomi Dinilai Tak Cukup

Dengan kata lain, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh perubahan persepsi risiko investor dan sentimen pasar global dibandingkan persoalan fundamental ekonomi domestik.

Namun, selama belum ada katalis yang mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia, pelemahan rupiah berpotensi terus menjadi beban bagi IHSG dalam jangka pendek.

“Sentimen pelemahan rupiah lebih disebabkan naiknya risk premium yang tergambar dari naiknya yield obligasi. Sehingga, untuk pasar keuangan RI mendapat inflow perlu growth story atau valuasi yang terlalu murah,” tukasnya.

IHSG kini melanjutkan penguatannya hingga menembus posisi 6.200 menjelang penutupan sesi satu perdagangan Jumat ini.

Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900, Ditutup di Level Rp 17.845 Pada Perdagangan Hari Ini

Indeks menguat 88,03 poin atau 1,44 persen ke are 6.218,223, sekaligus bergerak mendekati level tertinggi hariannya di 6.220,912.

Sejak pembukaan perdagangan di level 6.112,770, IHSG sempat turun ke titik terendah 6.111,971, sebelum berbalik menguat tajam.

Setelah memasuki zona hijau, laju indeks terus berlanjut dengan pola higher high dan higher low, menandakan dominasi aksi beli di hampir sepanjang sesi perdagangan.

Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas transaksi di BEI.

Baca juga: Rupiah Melemah, Biaya Impor dan Utang Industri Kian Berat

Volume perdagangan mencapai 19,53 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 14,59 triliun. Adapun, frekuensi perdagangan menembus 1,18 juta kali transaksi.

Meski IHSG menguat, penyebaran saham masih relatif berimbang. Sebanyak 313 saham naik, sementara 326 saham melemah dan 170 saham bergerak stagnan.

 

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #rupiah #anjlok #ihsg #berpotensi #tertekan #saham #bank #jumbo

KOMENTAR