Rupiah Melemah, Ini Kesalahan Investor Ritel Saat Beli Saham
Ketika rupiah terus melemah dan pasar saham diliputi ketidakpastian, banyak investor ritel justru terjebak pada kesalahan yang sama.
Alih-alih memanfaatkan koreksi pasar sebagai peluang, sebagian investor memilih masuk terlalu cepat dengan dana besar tanpa memperhitungkan risiko yang masih mengintai.
Akibatnya, portofolio terjebak dalam kerugian yang semakin dalam saat tekanan pasar berlanjut.
Baca juga: Rebalancing MSCI, Belajar Pulih dari India hingga Peluang Investor Ritel
Ilustrasi investor, investor saham, investor ritel.
Kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp 17.864 per dollar AS.
Data ini tercatat pada pukul 09.57 WIB atau tak berselang lama pasar dibuka, Jumat (29/5/2026).
Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan kesalahan paling umum yang dilakukan investor ritel saat menghadapi pelemahan rupiah dan koreksi IHSG adalah terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar ketika harga saham mulai turun.
Dalam kondisi rupiah yang melemah dan ketidakpastian global yang tinggi, risiko penurunan harga saham (downside risk) menjadi lebih besar.
Jika investor langsung mengalokasikan sebagian besar dananya pada saat awal koreksi, maka ruang untuk melakukan pembelian di harga yang lebih rendah menjadi terbatas.
Akibatnya, ketika pasar kembali turun, portofolio investor akan mengalami tekanan yang lebih dalam dan sulit untuk melakukan penyesuaian strategi.
Karena itu, Faris menilai pendekatan yang lebih tepat adalah melakukan akumulasi secara bertahap (gradual accumulation). Dengan strategi ini, investor dapat membagi dana investasi ke beberapa tahap pembelian sehingga risiko salah menentukan titik masuk dapat diminimalkan.
“Biasanya rekan rekan investor masuk terlalu awal dengan size terlalu besar tanpa memperdulikan downside risk secara makro, sehingga strategi yang pas jika penuh uncertainty adalah akumulasi bertahap,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/5/2026).
Ilustrasi pasar saham.
Menurutnya, risiko terbesar yang perlu diwaspadai ritel saat rupiah melemah adalah meningkatnya risk premium di pasar keuangan.
Kenaikan premi risiko pada akhirnya berdampak pada menurunnya daya beli dari uang yang dimiliki investor.
“Tentunya tidak jauh dari naiknya risk premium sehingga daya beli dari uang yang dimiliki menjadi turun,” paparnya.
Meski pasar berada dalam tekanan, Faris menilai investor ritel tidak harus sepenuhnya menunggu di luar pasar.
Baca juga: Pluang Buka Akses Saham RI, Investor Ritel Kini Tak Perlu Banyak Aplikasi
Ia memandang tidak ada yang salah jika investor mulai melakukan akumulasi secara bertahap atau averaging down, terutama pada saham-saham non-siklikal yang memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang baik.
Strategi ini memungkinkan investor memanfaatkan koreksi harga tanpa harus mengambil risiko terlalu besar dalam satu waktu.
“Tidak ada yang salah bagi rekan-rekan investor jika bisa mulai akumulasi bertahap di saham non siklikal dan memiliki prospek yang bagus,” tukas dia.
Namun, bagi investor yang porsi dana tunainya mulai terbatas, sebagian dana dapat dialihkan ke instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang untuk menjaga fleksibilitas dan likuiditas portofolio.
Baca juga: Investor Ritel Wajib Tahu Kriteria Saham HSC, Apa.Saja?
Panic market dan diskon saham
Soal perbedaan antara panic market dan momentum diskon saham, Faris menilai keduanya sering kali terjadi pada waktu yang bersamaan.
Ilustrasi saham.
“Hal tersebut sebenarnya merupakan hal yang sama, karena segala sesuatu yang bagus dan murah itu terjadi ketika keadaan seakan-akan tidak mendukung dan seakan-akan tidak ada harapan,” beber Faris.
Dalam banyak kasus, saham-saham berkualitas justru diperdagangkan pada harga murah ketika sentimen pasar sedang berada pada titik terburuk.
Saat mayoritas pelaku pasar diliputi kekhawatiran dan pesimisme, valuasi saham dapat turun ke level yang menarik.
Baca juga: Tanpa Rebalancing MSCI, Analis Soroti Peluang Saham Energi untuk Investor Ritel
Karena itu, kondisi yang terlihat menakutkan bagi sebagian investor sering kali justru menjadi kesempatan bagi investor yang mampu melihat prospek jangka panjang.
Dalam situasi rupiah yang melemah tajam, Faris menyarankan investor untuk lebih fokus pada saham-saham yang bergerak di sektor non-siklikal dan berorientasi pada pasar domestik.
Emiten dengan karakteristik tersebut cenderung lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi dan tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.
Sebaliknya, perusahaan yang memiliki ketergantungan besar terhadap impor atau pendapatan yang sensitif terhadap perubahan kurs berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar ketika rupiah terdepresiasi.
Baca juga: Strategi Investor Ritel Saat IHSG Turun: Hindari Saham Ini, Pilih yang Likuid
“Tentunya saham yang sektornya tidak siklikal, dan fokus pada pasar domestik sehingga tidak terkena eksposure risiko kurs,” lanjutnya.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #rupiah #melemah #kesalahan #investor #ritel #saat #beli #saham