Arus Peti Kemas Pelindo Tembus 6,42 Juta TEUs, Naik 7 Persen hingga April 2026
– Aktivitas ekonomi nasional menunjukkan sinyal positif pada awal 2026 yang tercermin dari meningkatnya pergerakan barang melalui pelabuhan.
Hingga April 2026, arus peti kemas yang dilayani PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs), naik sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,99 juta TEUs.
Peningkatan tersebut mencerminkan aktivitas logistik nasional yang tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi global.
Baca juga: Arus Peti Kemas Jambi Naik 22,5 Persen, IPC TPK: Tunjukkan Peran Strategis Pelabuhan
Ilustrasi ekspor, kegiatan ekspor dan impor.
Pelabuhan memiliki peran strategis sebagai simpul utama rantai pasok nasional karena menjadi jalur perpindahan bahan baku, barang konsumsi, komoditas ekspor, hingga barang modal industri.
Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar mengatakan, pertumbuhan arus peti kemas ditopang oleh peningkatan aktivitas perdagangan internasional maupun distribusi domestik.
“Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen, dengan ekspor tumbuh 10 persen dan impor naik 12 persen," ujar Achmad dalam siaran pers, Jumat (29/5/2026).
"Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4 persen, dengan aktivitas bongkar meningkat 5 persen dan muat naik 4 persen,” kata Achmad.
Baca juga: Arus Peti Kemas IPC TPK Tumbuh 0,9 Persen pada Triwulan I 2026
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia tetap berjalan baik, sementara distribusi barang antarpulau masih kuat dalam mendukung konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.
Perdagangan intra-Asia jadi penopang
Peningkatan arus ekspor dan impor dinilai mencerminkan daya tahan perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
Ilustrasi ekspor.
Salah satu faktor pendukungnya adalah struktur perdagangan Indonesia yang masih didominasi kawasan intra-Asia, terutama China dan negara-negara ASEAN.
Dalam distribusi perdagangan nasional, kawasan China dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor Indonesia.
Baca juga: Lonjakan Peti Kemas Tembus 37,5 Persen Jelang Lebaran, IPC TPK Siaga 24/7
Struktur perdagangan tersebut dinilai memberikan bantalan bagi Indonesia karena sebagian besar arus barang bergerak di kawasan yang memiliki hubungan dagang kuat, stabil, dan saling terintegrasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas mencatat pertumbuhan positif.
Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis naik 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik meningkat 4,9 persen, serta berbagai produk kimia tumbuh 12,27 persen.
Pertumbuhan ekspor tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan dan perdagangan komoditas bernilai tambah masih berlangsung.
Baca juga: Buruh Sampaikan Aspirasi, SPTP Pastikan Terminal Peti Kemas Bagendang Tetap Beroperasi Normal
Impor barang modal meningkat
Dari sisi impor, peningkatan terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanis yang tumbuh 22,1 persen, mesin dan perlengkapan elektrik naik 17,91 persen, instrumen optik meningkat 20,8 persen, serta berbagai produk kimia tumbuh 36,31 persen.
Struktur impor tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap barang modal, mesin produksi, komponen industri, dan bahan pendukung manufaktur yang masih kuat.
Kondisi itu berkaitan dengan aktivitas investasi, peningkatan kapasitas produksi, serta agenda hilirisasi nasional yang terus berjalan.
Pertumbuhan arus peti kemas juga terlihat di sejumlah pelabuhan utama yang melayani kegiatan ekspor dan impor nasional, seperti Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, dan Tanjung Perak di Surabaya.
Baca juga: Perkuat Keamanan Logistik Nasional, IPC TPK Operasikan Alat Pemindai Peti Kemas di Tanjung Priok
Ilustrasi impor.
Aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan tersebut menunjukkan rantai pasok dan distribusi perdagangan nasional yang tetap aktif.
Selain itu, peningkatan throughput internasional di berbagai terminal utama juga menandakan penguatan aktivitas logistik dan perdagangan di kawasan industri utama Indonesia.
Distribusi ke Indonesia Timur meningkat
Pada segmen domestik, peningkatan distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia menjadi salah satu indikator bergeraknya aktivitas ekonomi di luar wilayah barat Indonesia.
Pelabuhan Tanjung Priok mencatat pertumbuhan arus domestik sekitar 8 persen, yang antara lain didorong meningkatnya pengiriman peti kemas menuju pelabuhan-pelabuhan di Indonesia bagian timur.
Baca juga: Pelindo: Arus Peti Kemas Ekspor Impor Semester I-2025 Tumbuh 13,64 Persen
Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen dengan dukungan peningkatan layanan menuju Makassar, Kendari, dan Berau.
Pelabuhan Makassar mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen yang ditopang pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di Sulawesi Selatan dan kawasan sekitarnya.
Pertumbuhan arus domestik tersebut sejalan dengan masih kuatnya konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur nasional sebagai penopang perekonomian Indonesia.
Distribusi barang antarpulau yang terus tumbuh juga menunjukkan konektivitas logistik nasional yang berjalan dalam mendukung kebutuhan masyarakat, aktivitas industri, serta pemerataan ekonomi antarwilayah.
Baca juga: Sempat Ada Kendala Teknis, Alat Bongkar Muat di Terminal Peti Kemas Tarakan Kembali Berfungsi
Pemerintah perkuat kapasitas dan layanan pelabuhan
Ilustrasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud mengatakan pemerintah terus mendorong badan usaha pelabuhan untuk meningkatkan kapasitas dan layanan peti kemas.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penerbitan rekomendasi teknis penetapan terminal peti kemas dari fasilitas yang sebelumnya berstatus multipurpose.
"Selanjutnya, terminal tersebut ditetapkan sebagai terminal peti kemas oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP sebagai penyelenggara pelabuhan, sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 50 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut," ungkap Masyhud.
Pada periode 2025 hingga April 2026, sebanyak 12 lokasi terminal telah ditetapkan sebagai terminal peti kemas, termasuk Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Baca juga: Pemkot Ambon Perluas Pelabuhan Peti Kemas, Gandeng PT Pelindo
Selain itu, pemerintah juga menetapkan standar kinerja pelayanan operasional, termasuk kinerja bongkar muat peti kemas dan peralatan yang digunakan.
Evaluasi terhadap standar tersebut dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas layanan.
Di sisi lain, pertumbuhan arus peti kemas juga direspons melalui pembangunan dan modernisasi infrastruktur pelabuhan nasional.
Pada periode 2025-2026, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan dengan dukungan APBN mendorong peningkatan kapasitas pelabuhan eksisting.
Baca juga: Perkuat Konektivitas 3TP, Kemenhub Gunakan Satelit di Pelabuhan Korido
Ini dilakukan melalui pengembangan terminal peti kemas, pendalaman alur pelayaran, peningkatan kapasitas tambatan dan lapangan penumpukan, modernisasi alat bongkar muat, serta percepatan digitalisasi layanan kepelabuhanan.
Masyhud menjelaskan, sepanjang 2025 hingga 2026 pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan milik pemerintah telah dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan pelabuhan hub and spoke, mengembangkan pelabuhan pengumpul dan pengumpan di kawasan timur Indonesia, mengintegrasikan pelabuhan dengan kawasan industri dan hilirisasi, serta memperkuat konektivitas logistik nasional.
Penguatan infrastruktur tersebut juga diarahkan untuk menopang pertumbuhan perdagangan intra-Asia dan agenda transformasi ekonomi nasional.
Baca juga: Arus Peti Kemas Jambi Naik 22,5 Persen, IPC TPK: Tunjukkan Peran Strategis Pelabuhan
"Dengan kapasitas dan kualitas layanan yang semakin baik, pelabuhan Indonesia diharapkan mampu mengimbangi peningkatan arus peti kemas internasional maupun domestik yang diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Masyhud.
Tag: #arus #peti #kemas #pelindo #tembus #juta #teus #naik #persen #hingga #april #2026