Potensi Defisit APBN Dorong Rupiah Dekati Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah
Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
15:44
29 Mei 2026

Potensi Defisit APBN Dorong Rupiah Dekati Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

- Nilai tukar rupiah di pasar spot masih ditutup anjlok pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp 17.880 per dollar Amerika Serikat (AS).

Beberapa menit sebelum penutupan perdagangan, kurs rupiah sempat menyentuh 17.893 per dollar AS, turun 48 poin atau 0,27 persen.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal dan domestik yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca juga: Rupiah Anjlok ke Rp 14.000 Per Dollar Singapura, Kekhawatiran Fiskal Jadi Sorotan

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Dampak rupiah melemah.

Menurutnya, salah satu faktor utama berasal dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi.

Kondisi tersebut mendorong terjadinya arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang karena investor lebih memilih menempatkan dana pada instrumen berisiko rendah di Amerika Serikat, seperti obligasi pemerintah, yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih menarik.

Selain faktor suku bunga AS, prospek anggaran dan pengeluaran negara juga menjadi perhatian pasar.

Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran juga dipertimbangkan sejumlah lembaga pemeringkat kredit global, seperti S&P Global, Moody’s, dan Fitch Ratings.

Baca juga: Rupiah Makin Terjepit, Dollar Singapura Tembus Rp 14.000, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Kondisi ini dinilai ikut membebani kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Di sisi lain, tingginya harga minyak dunia juga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kenaikan harga energi meningkatkan biaya impor minyak dan produk turunannya sehingga kebutuhan valuta asing, khususnya dollar AS, untuk pembayaran impor menjadi semakin besar.

Dinamika itu berpotensi mengurangi surplus neraca perdagangan Indonesia.

Ilustrasi rupiah. Ekonom Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Era Prabowo dan BJ HabibiePIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah. Ekonom Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Era Prabowo dan BJ Habibie

Baca juga: Kelas Menengah Terjepit Pelemahan Rupiah: Belanja Naik, Pendapatan Jalan di Tempat

Di saat yang sama, perlambatan pertumbuhan ekspor membuat pasokan dollar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, permintaan dollar AS yang meningkat secara musiman juga mempengaruhi pergerakan rupiah.

Kebutuhan korporasi untuk pembayaran dividen, kewajiban impor rutin, serta berbagai transaksi bisnis yang menggunakan mata uang asing menyebabkan permintaan dollar AS tetap tinggi di pasar domestik.

“Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN),” ujar Ibrahim.

Baca juga: Rupiah Dekati Rp 18.000, Bagaimana Nasib Emiten Kesehatan dan Properti?

Meski demikian, sentimen pasar global sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Kesepakatan tersebut disiapkan sambil melanjutkan negosiasi terkait program nuklir Iran dan berbagai isu keamanan regional lainnya.

Namun demikian, usulan kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelum dapat diimplementasikan secara resmi.

Prospek tercapainya kesepakatan damai tersebut sempat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Kesalahan Investor Ritel Saat Beli Saham

Harapan bahwa aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dapat kembali normal secara bertahap juga memberikan sentimen positif bagi pasar komoditas.

Meski demikian, lalu lintas pelayaran melalui jalur strategis tersebut masih berada di bawah tingkat normal sebelum konflik terjadi.

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Akibatnya, premi risiko geopolitik masih tetap tecermin dalam harga minyak dunia.

Ibrahim menjelaskan harga minyak dalam beberapa sesi perdagangan terakhir bergerak sangat fluktuatif karena pasar terus bereaksi terhadap perkembangan terbaru terkait negosiasi gencatan senjata di Timur Tengah.

Baca juga: Rupiah Masih Melemah, Bank Patok Dollar AS hingga Rp 18.000

Harga minyak sempat menguat pada Kamis setelah muncul laporan mengenai kembali terjadinya aksi militer antara pasukan Amerika Serikat dan Iran.

Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama setelah optimisme terhadap jalur diplomatik kembali menguat.

Selain perkembangan geopolitik, investor global juga mencermati kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih relatif tinggi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Baca juga: Rupiah Anjlok, IHSG Berpotensi Tertekan Saham Bank Jumbo

Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang berada di atas ekspektasi pasar menjadi salah satu faktor yang memperkuat pandangan tersebut.

Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) negara tersebut hanya tumbuh 1,6 persen pada kuartal pertama 2026, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 2 persen.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims) meningkat menjadi 215.000 pada pekan yang berakhir 23 Mei 2026.

Baca juga: Rupiah Melemah, Dapur Rakyat Gelisah

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar yang berada di level 211.000.

Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, tingginya suku bunga AS, perlambatan ekonomi global, serta berbagai sentimen domestik membuat pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan dan berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek.

Tag:  #potensi #defisit #apbn #dorong #rupiah #dekati #rekor #terlemah #sepanjang #sejarah

KOMENTAR