Rapor Perbankan April 2026: Bank Mandiri Solid, Bagaimana dengan BCA?
Kinerja keuangan agregat industri perbankan nasional tanah air membukukan performa solid sepanjang empat bulan pertama tahun 2026 (4M26).
Akumulasi laba bersih (earnings) agregat bank-only dari emiten perbankan dalam radar pemantauan berhasil mengamankan porsi 31 persen dari total target perkiraan setahun penuh (Full Year/FY26) maupun estimasi konsensus pasar.
Pencapaian ini dinilai berjalan konsisten dan selaras dengan pola pergerakan musiman (historical seasonality) historis bursa, di mana pada periode yang sama tahun lalu (4M25) berada di level 30 persen.
Secara rinci, performa keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) bergerak mulus mengikuti tren musiman tersebut, dengan sokongan utama yang berasal dari penurunan alokasi biaya kredit (cost of credit).
Di sisi lain, raksasa perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dilaporkan tetap berjalan sesuai target yang dicanangkan (on track).
Sebaliknya, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) sedikit meleset dari estimasi akibat melemahnya performa pada pos pendapatan utama (top-line).
Bank Mandiri dan BNI Pimpin Pertumbuhan Laba Big-4
Khusus pada kelompok empat bank papan atas (Big-4), pertumbuhan laba bersih agregat secara tahunan mengalami akselerasi menjadi 8 persen (year-on-year/yoy) hingga April 2026.
Angka pertumbuhan ini mencatatkan kenaikan jika dibandingkan dengan performa kuartal I-2026 (3M26) yang bertengger di posisi 7,5 persen yoy.
Bank Mandiri kembali menunjukkan performa paling unggul (outperformed) di antara rekan sejawatnya dengan mencetak lonjakan laba mencapai 19 persen yoy.
Tren positif ini diikuti oleh BNI yang berhasil memacu akselerasi pertumbuhan laba bersihnya hingga menyentuh level 6 persen yoy.
Melajunya torehan profitabilitas tersebut juga tecermin dari pos Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) agregat yang terkerek naik sebesar 7 persen yoy. Lagi-lagi, pertumbuhan pos ini dipimpin oleh performa tangguh Bank Mandiri yang melesat 14 persen yoy dan disusul oleh BNI dengan pertumbuhan 12 persen yoy.
Dari sisi profitabilitas struktural, industri perbankan sebenarnya sedang menghadapi tantangan berat berupa tekanan pada Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM). Margin bunga di seluruh sektor tercatat mengalami penyusutan berkisar antara 20 hingga 50 basis poin (bps) secara tahunan.
Meski demikian, pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) agregat terpantau masih mampu tumbuh positif sebesar 7 persen yoy. Pertumbuhan NII ini didorong kuat oleh strategi ekspansi neraca (balance sheet) yang masif melalui penyaluran pembiayaan, alih-alih mengandalkan peningkatan margin.
Laju pertumbuhan kredit agregat bahkan melonjak menjadi 14 persen yoy hingga April 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi periode Maret 2026 yang sebesar 13 persen yoy.
Dua bank pelat merah menjadi motor penggerak utama pada aspek ini, yakni BNI dengan pertumbuhan kredit mencapai 21 persen yoy dan Bank Mandiri sebesar 19 persen yoy. Sementara itu, pertumbuhan kredit BCA dilaporkan masih tertinggal di belakang para pesaingnya.
Akselerasi penyaluran kredit yang ekspansif tersebut berdampak langsung pada kondisi likuiditas perbankan yang kini terpantau semakin mengetat. Rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) agregat dari kelompok Big-4 melesat hingga menyentuh angka 89 persen.
Level LDR ini merupakan rekor tertinggi dalam kurun waktu 11 bulan terakhir. Ketatnya likuiditas dipicu oleh laju pertumbuhan kredit sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) yang tumbuh sebesar 3 persen, secara signifikan melampaui laju pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga atau deposito yang hanya bertambah sebesar 0,7 persen ytd.
Menyikapi dinamika pasar modal ini, BNI Sekuritas mempertahankan peringkat Neutral/Overweight (N/OW) untuk prospek perbankan dalam jangka waktu 3 bulan hingga 12 bulan ke depan.
Saham BCA (BBCA) ditempatkan sebagai pilihan saham utama (top pick). Tingkat penilaian harga saham (valuation) yang atraktif serta peningkatan momentum pendapatan menjadi fondasi utama yang mendasari pandangan positif untuk jangka panjang 12 bulan ke depan, meskipun ruang bagi faktor pemicu penguatan jangka pendek (short-term catalysts) dinilai masih cukup terbatas.
Tag: #rapor #perbankan #april #2026 #bank #mandiri #solid #bagaimana #dengan