IHSG Terkoreksi 253,056 Poin Jelang Penutupan Sesi 1, Imbas Rupiah Anjlok?
Ilustrasi IHSG(KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
11:40
3 Juni 2026

IHSG Terkoreksi 253,056 Poin Jelang Penutupan Sesi 1, Imbas Rupiah Anjlok?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok menjelang penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu (3/6/2026). Hingga pukul 11.00 WIB, indeks terkoreksi 253,056 poin atau 4,08 persen ke level 5.942,370, memperpanjang pelemahan yang terjadi sejak awal sesi perdagangan.

Koreksi tersebut membawa IHSG turun jauh di bawah level psikologis 6.000. Sejak dibuka di are 6.207,102, indeks terus bergerak di zona merah dan tidak mampu menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti.

IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.213,801, sebelum tekanan jual semakin deras dan mendorong indeks ke area terendah 5.934,395.

Aksi jual terjadi hampir merata di seluruh sektor. Dari total saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 673 saham melemah. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan 54 saham yang menguat, sementara 86 saham lainnya bergerak stagnan.

Nilai transaksi hingga menjelang siang mencapai Rp 12,020 triliun dengan volume perdagangan 21,325 miliar saham. Frekuensi transaksi menyentuh 1,46 juta kali.

Baca juga: 10 Saham Net Buy Investor Asing IHSG Selasa (2/6) ANTM Paling Laku

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah di pasar spot juga terdepresiasi. Per pukul 11,16 WIB, kurs rupiah terjun 89 poin atau 0,50 persen ke posisi Rp 17.928 per dollar AS.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan yang signifikan terhadap pasar saham domestik karena meningkatkan kekhawatiran investor terhadap berbagai risiko makroekonomi.

Menurutnya, depresiasi rupiah dapat memicu kenaikan inflasi impor sekaligus menekan kinerja emiten yang memiliki kewajiban utang maupun biaya operasional dalam denominasi dollar AD. Kondisi itu pada akhirnya mempengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap prospek keuntungan perusahaan.

“Karena pelemahan rupiah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko makro ekonomi, inflasi impor, dan potensi tekanan terhadap laba emiten yang memiliki eksposur utang atau biaya dalam dollar AS,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

“Selain itu, pelemahan rupiah sering dianggap sebagai sinyal meningkatnya risiko investasi sehingga memicu aksi jual di pasar saham, terutama asing,” tukasnya.

Pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Dari eksternal, penguatan dollar AS, tingginya tingkat suku bunga global, serta meningkatnya minat investor terhadap aset yang dianggap lebih aman (safe haven) menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca juga: IHSG Anjlok 3,17 Persen Pagi Ini, Rupiah Terperosok ke Rp 17.900 per Dollar AS

Sementara dari dalam negeri, pasar juga mulai mencermati persepsi risiko terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Reydi menambahkan, arus keluar dana asing (capital outflow) memiliki dampak yang sangat besar terhadap pergerakan rupiah dan pasar saham Indonesia. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham maupun obligasi domestik, mereka akan menjual aset berdenominasi rupiah dan kemudian mengonversinya ke dollar AS.

“Sangat berdampak karena ketika investor asing menarik dana dari pasar saham dan obligasi, mereka menjual aset rupiah lalu menukarkannya ke dollar AS. Kondisi ini secara bersamaan menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham. Karena itu, arus keluar dana asing sering menjadi katalis yang mempercepat pelemahan kedua pasar tersebut sekaligus,” ucap dia.

Meski demikian, Reydi menilai kondisi pasar saat ini belum dapat dikategorikan sebagai krisis. Pelemahan yang terjadi lebih mencerminkan peningkatan persepsi risiko di kalangan investor dibandingkan masalah fundamental yang bersifat sistemik.

“Jika pelemahan berlangsung sangat cepat, disertai lonjakan volume penjualan dan tekanan yang meluas ke berbagai kelas aset, pasar memang mulai menunjukkan gejala kepanikan,” lanjut Reydi.

“Namun selama likuiditas masih terjaga, sistem keuangan tetap stabil, dan tidak terdapat risiko fundamental yang mengancam stabilitas ekonomi secara menyeluruh, kondisi ini masih lebih tepat disebut sebagai koreksi tajam akibat meningkatnya persepsi risiko,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa pasar tetap perlu mewaspadai kemungkinan tekanan yang lebih besar apabila pelemahan rupiah dan arus keluar dana asing terus berlangsung dalam periode yang panjang.

“Yang perlu diwaspadai adalah apabila tekanan terhadap rupiah dan arus keluar asing terus berlanjut dalam waktu yang panjang,” ungkapnya.

Tag:  #ihsg #terkoreksi #253056 #poin #jelang #penutupan #sesi #imbas #rupiah #anjlok

KOMENTAR