Kurs Rupiah Anjlok ke Rp 18.000, Ekonom Minta Pemerintah Kembalikan Kepercayaan Investor
- Kepercayaan pasar terhadap Indonesia menjadi faktor utama yang berpengaruh pada pelemahan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga pukul 14.07 WIB nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 18.043, atau melemah 76 poin setara 0,42 persen dibandingkan pembukaannya.
Ekonom sekaligus Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Ishak Razak mengatakan, pemerintah harus mengembalikan kepercayaan pasar, terutama investor di pasar modal.
"Bagaimanapun juga yang memengaruhi secara fluktuatif itu kan ada di pasar modal, dari pasar saham maupun di Surat Berharga negara (SBN)," kata dia ketika ditemui di kawasan Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Rupiah Terpuruk Saat Mata Uang ASEAN Lainnya Stabil, Apa Penyebabnya?
Ia menambahkan, mengembalikan kepercayaan investor dalam hal ini perlu dilakukan pemerintah juga dengan memperbaiki tata kelola menjadi lebih solid.
Pemerintah dinilai perlu mengurangi pengumuman kebijakan-kebijakan yang kontroversial seperti misalnya pembentukan BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
"Menurut kami, kebijakan yang semisal ini ke depannya tidak lagi diumumkan, kemudian menambah ketidakpercayaan atau ketidakstabilan pasar kita," imbuh dia.
Lebih lanjut, Ishak menjelaskan nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan (supply and demand). Dengan demikian, cara untuk meningkatkan pasokan dollar AS di dalam negeri dapat dilakukan dengan mendorong kegiatan ekspor.
Baca juga: Kenapa Rupiah Melemah hingga Rp 18.000 per Dollar AS? Ini Penyebabnya
Ia menjelaskan, beberapa komoditas dengan potensi ekspor belakangan mengali tantangan dengan adanya pembatasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) untuk nikel dan batubara.
"Kalau misalnya peluang untuk meningkatkan ekspor dengan meningkatkan, ada relasasi ekspor ini, harapannya bisa memperbaiki neraca perdagangan kita," terang dia.
Ketika hal tersebut terjadi, pasokan dollar AS ke dalam negeri dalam menjadi lebih kuat.
Perbaikan jangka menengah panjang
Ishak menekankan, Indonesia juga membutuhkan perbaikan pada rencana jangka menengah panjang untuk membuat nilai tukar stabil.
Pasalnya, permasalahan tren pelemahan ini memang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Salah satunya, Indonesia diminta untuk belajar dari apa yang terjadi pada pemerintah China dalam beberapa dekade terakhir.
China juga tergolong menjadi negara yang mampu menjaga nili tukar mata uangnya dengan baik.
Intervensi China dinilai efektif untuk menjaga nilai tukar yang relatif stabil.
"Menjaga agar yuan itu tetap kompetitif," ungkap dia.
Hal itu terjadi karena China memiliki cadangan devisa yang besar dari hasil surplus ekspor.
Ishak menjelaskan, surplus ekspor didapatkan dari pertumbuhan indsutri manufakturnya yang terus tumbuh, bahkan dalam 20-30 tahun terakhir.
"Itu (manufaktur) semestinya yang menjadi concern pemerintah sekarang. Itu lah bagaimana agar fondasi industri manufaktur domestik ini benar-benar diperkuat," tutup dia.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai," ujar Destry dalam keterangan resmi.
Tag: #kurs #rupiah #anjlok #18000 #ekonom #minta #pemerintah #kembalikan #kepercayaan #investor