Saham Bank Berguguran Saat Asing Jual Besar-Besaran, Apa yang Dikhawatirkan Investor?
Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
21:44
8 Juni 2026

Saham Bank Berguguran Saat Asing Jual Besar-Besaran, Apa yang Dikhawatirkan Investor?

- Saham-saham perbankan kompak anjlok pada perdagangan Senin (8/6/2026) seiring dengan investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) saham-saham bank raksasa.

Berdasarkan data RTI Business, saham empat bank besar mengalami tekanan cukup dalam pada perdagangan hari ini.

Dengan pelemahan terdalam terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 6,23 persen ke level 3.010.

Baca juga: Saham Telkom (TLKM) ARB, Ini Biang Keroknya Menurut Analis

Kemudian diikuti dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merosot 5,47 persen ke posisi 2.590, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 4,43 persen ke level 4.850, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 3,39 persen menjadi 3.710.

Sementara berdasarkan data Stockbit, saham BBCA dan BBRI menempati peringkat pertama dan kedua dari daftar net foreign sell hari ini, dengan nilai masing-masing Rp 489,11 miliar dan Rp 298,49 miliar.

Saham BMRI menempati posisi kesebelas dalam daftar dengan nilai net foreign sell sebesar Rp 23,80 miliar.

Sementara saham BBNI tercatat aksi beli bersih (net foreign buy) dengan peringkat ketiga terbesar dengan nilai Rp 37,94 miliar.

Aksi jual saham perbankan bersamaan dengan aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia secara keseluruhan.

Berdasarkan data RTI, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp 447,05 miliar pada perdagangan hari ini.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, tekanan terhadap saham perbankan saat ini bukan disebabkan oleh memburuknya fundamental industri perbankan nasional.

Menurutnya, investor lebih merespons meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong pelaku pasar mengurangi aset berisiko.

"Menurut saya pelemahan saham perbankan hari ini lebih karena kombinasi global risk-off sentiment dan tekanan dari bursa Amerika serta regional yang juga melemah, sehingga risk appetite investor turun," ujarnya kepada Kompas.com, Senin.

Dia menjelaskan, saham-saham perbankan menjadi kelompok yang paling rentan terkena tekanan ketika investor asing mengurangi eksposurnya di pasar Indonesia karena sektor ini memiliki kapitalisasi pasar besar dan bobot dominan dalam IHSG.

"Bank jadi paling sensitif karena bobotnya besar di IHSG dan sangat dipengaruhi foreign flow. Jadi ketika asing cenderung net sell atau mengurangi exposure, tekanan di sektor ini langsung terasa lebih dalam," jelasnya.

Selain sentimen global, pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tekanan.

Pada perdagangan Senin, nilai tukar rupiah sempat merosot ke level Rp 18.200 per dollar AS.

Menurutnya, pelemahan rupiah menambah kekhawatiran investor asing terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

"Walaupun fundamental bank masih oke, tapi di short term market tetap sensitif banget ke kombinasi FX volatility dan capital flow, jadi wajar kalau tekanan ke saham perbankan jadi lebih terasa," kata dia.

Sementara dari sisi domestik belum ada katalis baru yang cukup kuat mendorong saham perbankan agar menguat.

"Jadi pergerakan lebih banyak ditentukan oleh sentimen global dan liquidity condition, bukan perubahan fundamental banknya," tuturnya.

Baca juga: IHSG Anjlok 4,52 Persen ke 5.342: Saham TLKM, ISAT, dan HRTA Rontok

Tag:  #saham #bank #berguguran #saat #asing #jual #besar #besaran #yang #dikhawatirkan #investor

KOMENTAR