Purbaya Minta Penurunan Omzet Warteg Tak Langsung Dianggap Daya Beli Melemah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY )
17:20
5 Juni 2026

Purbaya Minta Penurunan Omzet Warteg Tak Langsung Dianggap Daya Beli Melemah

 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta laporan mengenai penurunan omzet warung tegal atau warteg tidak langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan daya beli masyarakat melemah.

Purbaya mengatakan pemerintah akan menelusuri informasi tersebut lebih lanjut.

Namun, ia mengingatkan kondisi beberapa warteg belum tentu mencerminkan situasi ekonomi secara keseluruhan.

“Kalau sampel Anda berapa warteg? Saya bisa cari lima warteg yang mungkin jelek, mungkin kalah bersaing, terus pindah ke tempat lain yang lebih bagus. Itu yang harus kita hati-hati,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Senyum Menkeu dan Rupiah yang Tidak Ikut Tersenyum

Menurut Purbaya, sejumlah indikator ekonomi yang dimiliki pemerintah justru menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat masih tumbuh.

Ia mencontohkan data agregat, termasuk indikator belanja ritel, yang dinilai masih bergerak positif.

“Tapi kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tumbuhnya kencang semua. Belanja juga tumbuhnya kencang. Retail index itu kan orang belanja betulan,” katanya.

Meski belum melihat sinyal pelemahan konsumsi secara luas, Purbaya menegaskan pemerintah siap menambah stimulus jika hasil evaluasi menunjukkan perlunya dukungan tambahan terhadap perekonomian.

“Kalau memang ini benar, saya akan tambah lagi stimulus ke perekonomian,” ucapnya.

Baca juga: Purbaya Umumkan Defisit APBN Capai 0,70 Persen PDB hingga Mei 2026

Purbaya juga menyinggung pencairan gaji ke-13 aparatur sipil negara yang menurutnya akan menambah daya beli masyarakat dalam waktu dekat.

“Yang jelas awal bulan ini ada gaji ke-13. Yang tadinya dicari Rp 30 triliun sekarang jadi Rp 40 triliun. Itu akan memberi daya beli tambahan,” kata Purbaya.

Purbaya mengatakan pengamatan terhadap kondisi ekonomi tidak bisa hanya didasarkan pada satu atau dua kasus di lapangan.

Ia mengaku pernah mendapat kritik saat bekerja sebagai ekonom karena menarik kesimpulan terlalu cepat dari data terbatas.

Purbaya lalu mengibaratkan kesalahan tersebut sebagai fishing expedition, yakni menarik kesimpulan umum hanya dari hasil pengamatan pada satu lokasi tertentu.

“Satu tempat belum tentu menggambarkan semuanya. Makanya kita punya Badan Pusat Statistik untuk menangkap data-data seperti itu sehingga bisa melihat pertumbuhan ekonomi secara agregat atau lebih akurat,” ujarnya.

Purbaya juga menilai perubahan pola konsumsi masyarakat yang memilih paket makanan lebih murah belum tentu sepenuhnya disebabkan kenaikan harga atau tekanan ekonomi.

Menurut dia, dampak kenaikan harga terhadap perilaku konsumsi biasanya tidak selalu terjadi secara langsung dan masih perlu dikaji lebih lanjut.

“Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi saya bukan menafikan itu. Kita akan pelajari. Terima kasih masukannya,” kata Purbaya.

Sebelumnya, Kompas.com menelusuri kondisi pedagang warteg di Jakarta.

Sejumlah pedagang menyebut pembeli menyusut sehingga mereka harus mengurangi volume masakan di tengah kondisi ekonomi yang dinilai lesu.

Karyawan Warteg Abimanyu Bahari di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, Atik (24), mengatakan penjualan di tempatnya bekerja terus berkurang setelah Idul Fitri pada Maret lalu.

“Ngerasain (dampak ekonomi lesu), penjualan dari mulai habis Lebaran sampai ke sini tuh kayak berkurang gitu,” kata Atik saat ditemui di warung tempatnya bekerja, Jumat (5/6/2026).

Menurut Atik, sebelum Lebaran rata-rata omzet harian di warteg tempatnya bekerja bisa lebih dari Rp 5 juta.

Saat ini, pendapatan kotor warteg tersebut terus menyusut. Pada saat yang sama, harga bahan pangan di pasar semakin mahal.

Tag:  #purbaya #minta #penurunan #omzet #warteg #langsung #dianggap #daya #beli #melemah

KOMENTAR