Rupiah Dekati Rp 18.200, Analis Beberkan Penyebabnya
ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Rupiah Tembus Rp 18.029 per Dollar AS, Ini Barang yang Berpotensi Naik Harga Jika Rupiah Terus Melemah(ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
12:36
8 Juni 2026

Rupiah Dekati Rp 18.200, Analis Beberkan Penyebabnya

Nilai tukar rupiah terus melemah. Pada perdagangan siang ini, Senin (8/6/2026), rupiah semakin mendekati level Rp 18.200 per dollar Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, pukul 11.55 WIB mata uang Garuda berada di level Rp 18.187 per dollar AS. Rupiah melemah 151 poin atau 0,84 persen dari posisi penutupan Jumat (5/6/2026).

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah hari ini disebabkan oleh sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

Dari eksternal, rupiah tertekan oleh dollar AS yang menguat signifikan sejak Jumat malam. Penguatan dollar AS disebabkan oleh masih berlangsungnya konflik antara Iran dan AS yang mendorong permintaan aset safe haven seperti dollar AS.

"Rupiah diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp 18.100-18.250 per dollar AS," ujarnya kepada Kompas.com, Senin.

Baca juga: Purbaya Sebut Fundamental Ekonomi Kuat, Mengapa Rupiah Malah Tembus 18.100-an?

Dari sisi internal, belum ada sentimen positif yang dapat mendorong penguatan rupiah. Sementara posisi cadangan devisa kembali berkurang pada akhir Mei 2026 menjadi 144,9 miliar dollar AS.

Meski sampai saat ini Bank Indonesia (BI) telah berupaya semaksimal mungkin untuk mendorong stabilitas rupiah, namun Lukman menilai, rupiah baru akan menguat jika BI kembali menaikkan suku bunga acuan (BI rate).

"BI naikkin suku bunga kembali, jangan tanggung-tanggung, naikkan 100 basis poin," tukasnya.

Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah bakal tembus ke level Rp 19.000 per dollar AS pada akhir Juni 2026.

"Ada kemungkinan besar kalau saya lihat dari kondisi saat ini, rupiah akan ke level Rp 19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai," ujarnya kepada media melalui pesan suara, Senin.

Proyeksi tersebut didasari pada ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas dimana baik AS dan Iran saling melakukan serangan balasan.

"Ini yang akan membuat peperangan di Timur Tengah, terutama adalah di Senat Hormuz akan semakin memanas," ungkap Ibrahim.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.170, Investor Soroti Kebijakan Fiskal Pemerintah

Selain itu, kebijakan bank sentral AS (The Fed) kemungkinan akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate) sehingga kebijakan suku bunga rendah kemungkinan besar tidak terjadi.

Sementara dari sisi internal, masih disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang akan meningkatkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi mendekati 3 persen.

Dari sisi inflasi juga mulai mengalami kenaikan, surplus neraca perdagangan yang semakin menyempit, dan peringkat utang Indonesia dari berbagai lembaga pemeringkat global seperti Moody’s Ratings dalam outlook negatif.

"Terus bagaimana tentang bank sentral, pemerintah dan BI, dan OJK, apakah mereka terus melakukan intervensi? Oh iya, mereka melakukan intervensi di pasar keuangan, bahkan pemerintah pun juga melakukan lelang obligasi. Tetapi rupanya lelang obligasi yang dilakukan oleh pemerintah gagal total. Inilah yang membuat indeks harga saham gabungan dan rupiah mengalami pelemahan," tuturnya.

Tag:  #rupiah #dekati #18200 #analis #beberkan #penyebabnya

KOMENTAR