Dollar AS Sempat Tembus Rp 18.200, Sederet Strategi Ini Belum Mampu Tahan Pelemahan Rupiah?
- Nilai tukar atau kurs dollar terhadap rupiah di pasar spot sempat menembus level 18.200 pada perdagangan Senin (8/6/2026).
Meski akhinya berhasil mengikis pelemahan dan ditutup pada level Rp 18.188 per dollar AS. Angka ini melemah 0,84 persen dibandingkan pembukaan pekan ini.
Rupiah yang semula berjalan stabil mulai terpengaruh oleh anjloknya pasar modal pada akhir Januari 2026.
Pada Mei 2026, rupiah terus melemah dan menembus level psikologis baru Rp 17.900 per dollar AS.
Baca juga: Rupiah Makin Terpuruk, Dollar AS Tembus Rp 18.200, Ini Dampaknya
Setelah itu, pada Kamis (4/6/2026), rupiah mencapai level Rp 18.000 per dollar AS.
Bank Indonesia (BI) sendiri telah melakukan tujuh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, yakni intervensi langsung di pasar keuangan intervensi valuta asing (valas) besar-besaran, menarik modal asing melalui Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI), dan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Kemudian BI juga akan menjaga likuiditas di pasar dan perbankan tetap longgar, serta memperbesar intervensi di pasar non-delivery forward (NDF).
Selanjutnya, pembelian dollar AS juga akan diperketat maksimal sebesar 25.000 dollar AS per orang per bulan.
Secara umum, BI terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tren pelemahan.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, BI berkomitmen terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional.
"BI akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga," ujar Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Destry melanjutkan, intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Suku bunga naik, jaga daya tarik aset keuangan
Selain itu, Destry bilang, BI juga memperkuat struktur suku bunga acuan (BI rate) agar pro pasar untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketatnya persaingan mendapatkan aliran modal asing.
Langkah ini dilakukan BI dengan mulai menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur BI pada 20 Mei 2026.
"BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik," ucap dia.
Dorong penggunaan mata uang lokal
BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Kerja sama tersebut telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
"Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di April," kata Destry.
BI juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi intensif dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Peningkatan imbal hasil SRBI
BI mencatat adanya peningkatan aliran modal asing masuk melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) setelah imbal hasil (yield) SRBI dinaikkan.
BI telah menaikkan imbal SRBI untuk tenor 6 bulan menjadi 6,21 persen, tenor 9 bulan menjadi 6,31 persen, dan 12 bulan menjadi 6,45 persen per 13 Mei 2026.
Bersamaan dengan itu, aliran modal asing masuk melalui SRBI berbalik meningkat pada kuartal IV-2025 dari minus Rp 99,24 triliun pada kuartal sebelumnya.
Sejak kuartal IV-2025 SRBI selalu mencatatkan inflow. Hanya pada Maret 2026 yang mengalami aliran modal keluar sebesar Rp 6,88 triliun akibat gejolak konflik di Timur Tengah yang meningkat.
Pembatasan pembelian valas
Bank Indonesia (BI) telah menurunkan kembali batas pembelian valuta asing (valas) tanpa underlying document pada Juni 2026 dari 50.000 dollar AS menjadi 25.000 dollar AS.
Dengan kata lain, transaksi pembelian valas di atas 25.000 dollar AS tetap dapat dilakukan, tetapi wajib disertai dokumen pendukung yang menunjukkan tujuan transaksi atau kebutuhan pembelian.
Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono mengatakan, pihaknya memberikan masa transisi selama satu bulan untuk penyesuaian sistem di internal bank sentral maupun perbankan.
Sebagai informasi, pada 1 April lalu BI baru saja memberlakukan pembatasan pembelian valas dari 100.000 dollar AS menjadi 50.000 dollar AS per orang per bulan.
Thomas mengungkapkan, pada kebijakan yang lalu itu BI berhasil menurunkan transaksi valas dari sebelumnya 78 juta dollar AS per hari pada kuartal I 2026 menjadi 62 juta dollar AS pada April-Mei 2026.
Itu artinya, kebijakan pengurangan penggunaan valas tersebut membuahkan hasil.
Kebijakan fiskal dan moneter yang selaras
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih menantang.
“Kami tegaskan bahwa koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat-sangat keras bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry saat ditemui di gedung DPR/MPR RI, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Perry, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia selama ini telah berjalan erat.
Ke depan, koordinasi semakin difokuskan untuk memastikan kebijakan fiskal dan moneter berjalan seirama, saling mendukung, dan saling memperkuat sesuai kewenangan masing-masing, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Penguatan koordinasi fiskal moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ungkap dia.
Terdapat dua langkah utama yang kini menjadi fokus penguatan koordinasi fiskal dan moneter untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga: Mengapa Rupiah Selalu Rentan?
Fokus bawa aliran modal ke dalam negeri
Pertama, pemerintah dan Bank Indonesia berupaya meningkatkan daya tarik imbal hasil (yield) instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing (portfolio inflow) kembali masuk ke Indonesia.
Kenaikan suku bunga di luar negeri telah memicu arus keluar modal (capital outflow), baik dari pasar saham maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN).
“Pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflow kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow ada saham dan SBN,” papar dia.
Oleh karena itu, pemerintah dan BI sepakat untuk meningkatkan daya tarik investasi di pasar keuangan domestik sehingga aliran modal asing dapat kembali mengalir masuk dalam jumlah yang lebih besar dan mendukung penguatan rupiah.
Sedikit catatan, kinerja inflow pada SRBI lebih baik dibanding kinerja aliran modal asing di saham yang mengalami aliran modal keluar sebesar Rp 26,06 triliun pada kuartal I-2026 dan outflow sebesar Rp 1,58 triliun pada Kuartal II (hingga 12 Mei).
Demikian juga dengan surat berharga negara (SBN) yang tercatat outflow Rp 25,10 triliun pada Kuartal I 2026.
Namun pada kuartal II (hingga 12 Mei) tercatat inflow sebesar Rp 14,91 triliun.
Untuk menarik aliran modal asing masuk lewat SBN, BI telah melakukan pembelian SBN di pasar sekunder senilai Rp 133,39 triliun secara year to date.
Ilustrasi dollar AS
Jaga likuiditas di pasar dan perbankan
Perry mengungkapkan, langkah kedua berupa menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia, disertai peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan Bank Indonesia kepada pemerintah.
Kebijakan tersebut memungkinkan operasi moneter tetap berjalan secara efektif untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara kebijakan fiskal juga dapat berjalan optimal dalam mendukung perekonomian.
"Selain itu, dilakukan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian, operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskal juga tetap mendukung,” tutup Perry.
Pelemahan rupiah berlanjut
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjandra mengungkapkan, pelemahan rupiah saat ini bukan kondisi yang dapat dianggap normal.
Menurut dia, depresiasi nilai tukar yang berlanjut perlu menjadi perhatian serius pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi secara lebih luas.
“Kondisi pelemahan rupiah ini tidak diterima oleh banyak orang, jadi saya rasa pemerintah tidak menganggap ini normal,” ujar Ariston kepada Kompas.com.
Tekanan terhadap rupiah datang dari faktor eksternal dan internal.
Sisi global masih dibayangi penguatan dollar AS. Kondisi ini menekan mata uang negara berkembang. Meski begitu, faktor domestik ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Ariston menilai keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia ikut menekan pasar keuangan domestik.
Arus keluar itu juga dipengaruhi sejumlah penyesuaian indeks global, termasuk Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Baca juga: Rupiah Jatuh ke Rp 18.200 dan IHSG Ambles 4,3 Persen, Ada Apa dengan Pasar Indonesia?
Tag: #dollar #sempat #tembus #18200 #sederet #strategi #belum #mampu #tahan #pelemahan #rupiah