Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Harga Energi Tekan Industri Galangan Kapal
Industri galangan kapal nasional tengah menghadapi tekanan yang kian besar seiring penguatan dollar AS terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Pelemahan nilai tukar tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi, mengingat sebagian besar kebutuhan industri, mulai dari material hingga komponen kapal, masih bergantung pada impor.
Tantangan tersebut semakin kompleks dengan terus naiknya harga energi dan bahan baku yang menjadi komponen utama dalam pembangunan maupun perbaikan kapal. Kenaikan biaya operasional membuat ruang gerak pelaku industri semakin terbatas di tengah persaingan usaha yang ketat.
Baca juga: Menaker Ancam Sanksi Pengelola Galangan Kapal di Batam Usai 20 Pekerja Tewas
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, mengatakan industri galangan saat ini berada dalam situasi yang penuh tekanan akibat dinamika ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Menurut dia, memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memberikan dampak berantai terhadap industri perkapalan.
Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat serta potensi gangguan pada jalur perdagangan strategis, khususnya di kawasan Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga sejumlah komoditas dan material yang dibutuhkan industri galangan kapal.
Baca juga: Taji Tumpul Holding Galangan Kapal Pelat Merah
"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Data Iperindo menunjukkan lonjakan biaya energi yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Harga Solar B40 tercatat melonjak hingga 89,19 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, harga LPG ukuran 12 kilogram meningkat 16,16 persen dan LPG 50 kilogram naik 26,51 persen.
Tekanan serupa juga datang dari sisi bahan baku. Harga plat baja yang menjadi material utama pembangunan kapal mengalami kenaikan antara 7 persen hingga 12,60 persen. Selain itu, harga cat kapal turut merangkak naik sekitar 21 persen.
Baca juga: Galangan Kapal Dalam Negeri Jadi Harapan Baru Industri Baja Nasional
"Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari Pemerintah," ujar Anita.
Kenaikan biaya juga terjadi pada berbagai komponen pendukung yang dibutuhkan dalam industri galangan kapal. Harga zinc anode tercatat meningkat 12,87 persen, sementara aluminium anode naik 13,61 persen.
Di saat yang sama, harga oli untuk kebutuhan mesin dan peralatan produksi melonjak antara 15 persen hingga 40 persen, sedangkan bahan plastik mengalami kenaikan sekitar 30 persen hingga 50 persen.
Anita menjelaskan, industri galangan kapal nasional masih sangat bergantung pada pasokan material dan peralatan dari luar negeri.
Baca juga: Erick Thohir Usulkan KEK Baru, Fokus di Galangan Kapal dan Produksi Kereta
Saat ini, sekitar 45 persen kebutuhan komponen industri masih berasal dari impor, sehingga perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak langsung terhadap struktur biaya produksi perusahaan galangan.
Menurutnya, tekanan semakin berat karena banyak kontrak pekerjaan telah disepakati ketika kurs dolar berada pada level yang lebih rendah.
Namun ketika proses pembelian dan pembayaran material dilakukan, pelaku usaha harus menanggung biaya dengan kurs yang jauh lebih tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya lonjakan biaya yang sulit dihindari.
Untuk menjaga keberlangsungan operasional sekaligus memastikan kualitas layanan kepada pelanggan tetap terjaga, sejumlah perusahaan galangan akhirnya melakukan penyesuaian tarif jasa reparasi kapal.
“Kenaikan tarif tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20 persen sebagai langkah untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi yang terus terjadi,” jelasnya.
Baca juga: Membangkitkan Industri Galangan Kapal Indonesia
Sementara itu, untuk proyek pembangunan kapal baru yang saat ini masih berjalan, para pelaku industri tengah melakukan pembahasan dan negosiasi dengan pemilik kapal atau owner terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap kondisi yang dihadapi industri galangan kapal nasional agar sektor strategis ini tetap mampu bertahan, menjaga daya saing, serta mendukung pertumbuhan industri maritim Indonesia,” tegas dia.
Pelemahan Rupiah
Sebagai informasi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut pada perdagangan hari ini, mata uang Rupiah bergerak di kisaran Rp 18.035 hingga Rp 18.187 per dollar AS. Nilai itu, sekaligus menandai pertama kalinya rupiah bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS sejak awal Juni 2026.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari tingginya suku bunga di AS, perlambatan ekonomi dunia, hingga ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan strategis.
Baca juga: Perusahaan Turkiye Lirik Industri Galangan Kapal dan Energi RI
Kondisi itu mendorong arus modal global bergerak ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS, sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Melemahnya rupiah berdampak langsung pada berbagai sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku, komponen, maupun pembiayaan dalam mata uang asing.
Kenaikan biaya impor dan operasional menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha, terutama sektor manufaktur, energi, transportasi, dan industri yang masih bergantung pada pasokan barang dari luar negeri.
Di sisi lain, pelemahan kurs juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena harga barang impor menjadi lebih mahal.
Meski demikian, sejumlah pelaku ekspor berpeluang memperoleh keuntungan dari peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar internasional akibat nilai tukar yang lebih rendah.
Tag: #pelemahan #rupiah #lonjakan #harga #energi #tekan #industri #galangan #kapal