Pasokan Terganggu, Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tetap Tinggi pada 2026
Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah. (THINKSTOCKPHOTOS)
14:12
10 Juni 2026

Pasokan Terganggu, Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tetap Tinggi pada 2026

– Pasar minyak dunia tengah menghadapi periode yang penuh gejolak.

Gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat terbatasnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mendorong penurunan produksi minyak global, menguras persediaan, dan menjaga harga minyak tetap tinggi sepanjang tahun ini.

Laporan bertajuk Short-Term Energy Outlook (STEO) Juni 2026 yang diterbitkan oleh US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga minyak mentah Brent diperkirakan rata-rata mencapai 95 dollar AS per barrel pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 69 dollar AS per barrel pada 2025.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Turun 3 Persen Usai AS Klaim Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat

Ilustrasi harga minyakThinkstockphotos.com Ilustrasi harga minyak

Pada 2027, harga diperkirakan turun menjadi rata-rata 79 dollar AS per barel seiring membaiknya pasokan global.

Di saat yang sama, pasar minyak global masih dibayangi ketidakpastian terkait gangguan produksi di kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat pasokan energi dunia.

Selat Hormuz jadi faktor penentu

EIA dalam laporannya mengasumsikan Selat Hormuz akan tetap tertutup secara efektif dalam jangka pendek.

Pengiriman minyak melalui jalur tersebut diperkirakan mulai pulih pada kuartal III-2026, tetapi membutuhkan waktu hingga awal 2027 untuk kembali ke tingkat sebelum konflik.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Hentikan Operasi Militer ke Israel

“Kami berasumsi bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup secara efektif dalam waktu dekat. Dalam perkiraan kami, pengiriman minyak melalui selat tersebut akan dilanjutkan pada kuartal III tahun 2026, namun, kami berasumsi bahwa kemungkinan akan membutuhkan beberapa bulan untuk kembali ke lalu lintas sebelum konflik, yang menurut kami tidak akan terjadi hingga awal tahun 2027," tulis EIA dalam laporannya, dikutip pada Rabu (10/6/2026).

Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.

Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Terbatasnya lalu lintas kapal di kawasan tersebut telah menyebabkan produsen minyak di Timur Tengah memangkas produksi secara signifikan.

Menurut EIA, produksi minyak yang terganggu di kawasan tersebut mencapai lebih dari 11 juta barrel per hari (bph) pada Mei 2026 dibandingkan tingkat produksi sebelum konflik.

Baca juga: Trump Desak Gencatan Senjata, Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Pasokan

Kondisi ini memaksa pasar global mengandalkan cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

Dalam laporan yang lebih rinci, EIA memperkirakan produksi yang terhenti (shut-in production) mencapai 11,3 juta bph pada Mei 2026 dan masih akan meningkat selama kuartal II-2026 karena kapasitas penyimpanan di sejumlah negara produsen mulai penuh.

Gangguan produksi terjadi di sejumlah negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Iran, Qatar, dan Bahrain.

Persediaan minyak dunia terus menyusut

Terhambatnya pasokan membuat persediaan minyak dunia terus terkuras. EIA memperkirakan inventori minyak global turun rata-rata 6,3 juta bph pada kuartal II-2026 dan 7,6 juta barel per hari pada kuartal III-2026.

Baca juga: Operasi Militer Iran ke Israel Berakhir, Harga Minyak Masih Tinggi di Atas 90 Dollar AS

Penurunan stok tersebut diperkirakan membawa persediaan minyak negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) ke level terendah sejak 2003.

EIA memperkirakan total persediaan bahan bakar cair OECD akan turun menjadi di bawah 2,3 miliar barrel pada akhir 2026. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir sebesar 2,8 miliar barrel.

ilustrasi minyak mentahSHUTTERSTOCK ilustrasi minyak mentah

Jika dihitung berdasarkan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumsi di masa depan, persediaan tersebut hanya cukup untuk sekitar 50 hari pasokan pada akhir 2026.

“Kami memperkirakan persediaan OECD akan turun ke level terendah 50 hari pada akhir tahun 2026, yang akan menjadi jumlah hari terpendek untuk memenuhi permintaan di masa mendatang sejak Januari 2003," ungkap EIA.

Baca juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen

Menurut EIA, besarnya penurunan persediaan inilah yang membuat harga minyak diperkirakan tetap tinggi hingga arus perdagangan minyak kembali normal dan cadangan global mulai pulih.

Harga minyak mentah Brent bertahan di atas 100 dollar AS

Di tengah gangguan produksi dan menyusutnya persediaan, harga minyak Brent masih menunjukkan volatilitas tinggi.

Pada Mei 2026, harga minyak mentah Brent rata-rata mencapai 107 dollar AS per barel. Meski turun dibandingkan April, harga tersebut tetap berada pada level yang sangat tinggi secara historis.

EIA memperkirakan harga minyak mentah Brent akan bertahan di sekitar 105 dollar AS per barrel sepanjang Juni dan Juli 2026.

Baca juga: Bahlil: Lemigas Akan Impor Minyak Rusia, Tindak Lanjut Komitmen 150 Juta Barel

“Kami memperkirakan harga spot minyak mentah Brent akan rata-rata sekitar 105 dollar AS per barrel pada bulan Juni dan Juli," tutur EIA.

Setelah pasokan mulai pulih dan produksi yang sempat terhenti kembali beroperasi, harga minyak diperkirakan menurun secara bertahap menjadi rata-rata 89 dollar AS per barrel pada kuartal IV-2026.

Pada 2027, harga minyak mentah Brent diperkirakan turun lagi ke rata-rata 79 dollar AS per barrel.

Ilustrasi harga minyak dunia. FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

EIA juga mencatat, pada awal 2026 harga minyak mentah Brent sempat melonjak tajam dari rata-rata 71 dollar AS per barrel pada Februari menjadi 117 dollar AS per barrel pada April sebelum turun ke 107 dollar AS per barrel pada Mei 2026.

Baca juga: Produksi OPEC+ Naik Empat Kali Beruntun, Tetapi Pasokan Minyak Dunia Tetap Ketat

Permintaan minyak global justru menurun

Kenaikan harga minyak dunia tidak terjadi bersamaan dengan kenaikan konsumsi. Sebaliknya, tingginya harga bahan bakar dan terbatasnya ketersediaan pasokan membuat permintaan minyak dunia melemah.

EIA menyebut harga energi yang tinggi, berkurangnya ketersediaan bahan bakar, serta berbagai kebijakan pemerintah untuk mengurangi konsumsi energi telah menekan permintaan minyak global.

Akibatnya, lembaga tersebut kini memperkirakan konsumsi minyak dunia akan turun 1,1 juta bph sepanjang 2026 dibandingkan level 2025 yang mencapai 104 juta bph.

Proyeksi ini berubah drastis dibandingkan perkiraan sebelumnya. Dalam laporan Mei 2026, EIA masih memperkirakan konsumsi minyak dunia tumbuh 0,2 juta bph.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Israel Kembali Serang Lebanon

Bahkan pada laporan Februari 2026, permintaan diperkirakan meningkat 1,2 juta bph.

Penurunan permintaan paling besar terjadi di Asia, wilayah yang selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.

Meski demikian, EIA memperkirakan permintaan minyak akan kembali meningkat pada 2027 setelah harga mulai turun dan aliran pasokan kembali normal. Konsumsi minyak global diproyeksikan tumbuh 2,5 juta bph menjadi 105,3 juta bph pada tahun tersebut.

Produksi minyak AS terus bertambah

Di tengah tekanan pasokan global, produksi minyak Amerika Serikat justru menunjukkan tren peningkatan.

Baca juga: Harga Minyak Belum Tembus 200 Dollar AS Meski Pasokan Terguncang

Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.

Dalam proyeksi EIA, produksi minyak mentah AS diperkirakan mencapai 13,7 juta bph pada 2026, naik dari 13,6 juta bph pada 2025. Pada 2027, produksinya diperkirakan meningkat lagi menjadi 14,2 juta bph.

Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan produksi tersebut. EIA menyebut harga minyak yang lebih tinggi akan mendorong produsen meningkatkan aktivitas pengeboran dan produksi.

Lonjakan permintaan global terhadap pasokan energi AS juga tercermin dari meningkatnya ekspor minyak dan produk minyak bumi negara tersebut.

Pada April 2026, ekspor bersih minyak mentah dan produk minyak bumi AS mencapai 5,8 juta bph, tertinggi sepanjang sejarah. Permintaan terbesar datang dari negara-negara yang berupaya menggantikan pasokan yang sebelumnya berasal dari kawasan Teluk Persia.

Secara keseluruhan, EIA memperkirakan ekspor bersih minyak mentah dan produk minyak bumi AS mencapai rata-rata 4,2 juta barel per hari pada 2026, naik 1,4 juta barel per hari dibandingkan 2025.

Tag:  #pasokan #terganggu #harga #minyak #dunia #diproyeksi #tetap #tinggi #pada #2026

KOMENTAR