Rupiah Menguat 114 Poin ke Rp 17.944 Dollar AS, Apa Saja Katalisnya?
Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026). Rupiah terapresiasi 114 poin atau 0,63 persen ke level Rp 17.944 per dollar Amerika Serikat (AS).
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelaku pasar menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen pada Selasa.
Menurut Ibrahim, langkah tersebut bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya berulang kali menyentuh rekor terendah.
“Kenaikan BI Rate juga dinilai membantu pemerintah dalam pelaksanaan lelang obligasi negara, khususnya obligasi tenor 10 tahun yang menawarkan imbal hasil sebesar 7,4 persen,” ujar Ibrahim kepada wartawan Rabu sore.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Harga Minyak Tinggi, Industri Pelayaran Tertekan
Dengan tingkat imbal hasil tersebut, investor asing maupun domestik diharapkan kembali berpartisipasi aktif dalam lelang Surat Utang Negara (SUN).
Kepercayaan pasar juga diperkuat oleh komitmen dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan dari ekspor komoditas strategis serta tetap menghormati kontrak-kontrak yang telah berjalan dalam kerangka sentralisasi ekspor yang baru.
Menurutnya, kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu keberlangsungan bisnis para eksportir.
Langkah tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi dalam tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.
Di sisi lain, sentimen global masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Washington melancarkan serangan baru terhadap target Iran pada Selasa setelah jatuhnya helikopter militer Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.
Iran pada Rabu menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai respons atas serangan yang dilakukan Washington.
Baca juga: Menjaga Rupiah Tak Cukup dengan Suku Bunga, Fiskal Juga Menentukan
Eskalasi terbaru tersebut berisiko menggagalkan kemajuan sementara menuju de-eskalasi konflik setelah Iran dan Israel pada awal pekan ini sepakat menghentikan serangan menyusul seruan Presiden AS Donald Trump.
Sebelumnya, pelaku pasar menafsirkan jeda permusuhan tersebut sebagai sinyal bahwa konflik berpotensi bergerak menuju penyelesaian diplomatik, sehingga sempat memicu aksi jual pada pasar minyak mentah.
Perhatian investor saat ini masih tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati jalur tersebut.
Meskipun Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui kawasan Teluk telah menunjukkan perbaikan dalam beberapa pekan terakhir, ia mengingatkan bahwa aliran energi masih berada di bawah kondisi normal dan kemungkinan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.
Harga minyak tercatat naik sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu. Kenaikan tersebut menambah kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat kembali memicu tekanan inflasi dan mempersulit prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Prospek inflasi yang tetap tinggi telah mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan penurunan suku bunga AS. Saat ini, lebih dari 70 persen pelaku pasar memperkirakan The Fed justru berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Di saat yang sama, dolar AS juga tetap kuat menjelang publikasi data inflasi konsumen terbaru.
Investor kini mencermati dengan seksama data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) untuk melihat apakah tekanan inflasi kembali meningkat.
Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan AS akan naik menjadi sekitar 4,2 persen pada Mei. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak April 2023 dan berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.
Tag: #rupiah #menguat #poin #17944 #dollar #saja #katalisnya