BI: Tekanan Harga Barang Diperkirakan Meningkat pada Akhir Tahun
– Masyarakat berpotensi menghadapi kenaikan harga sejumlah barang pada akhir tahun 2026.
Sinyal tersebut terlihat dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan pelaku usaha memperkirakan tekanan harga akan meningkat dalam enam bulan ke depan, terutama akibat kenaikan biaya bahan baku.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas penjualan eceran masih diperkirakan terjaga.
Baca juga: Penjualan Eceran Mei Masih Minus, tetapi Mulai Membaik
Ilustrasi belanja di ritel modern.
Namun, ekspektasi kenaikan harga menjadi salah satu faktor yang mulai diperhatikan pelaku usaha ritel menjelang periode konsumsi yang biasanya meningkat pada penghujung tahun.
Sinyal kenaikan harga mulai terlihat
Bank sentral mencatat tekanan inflasi untuk tiga bulan mendatang atau Juli 2026 diperkirakan relatif stabil. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 yang mencapai 175,8, hampir tidak berubah dibandingkan IEH Juni 2026 sebesar 175,6.
Namun, kondisi berbeda terlihat untuk enam bulan mendatang. IEH Oktober 2026 diprakirakan mencapai 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 yang sebesar 163,2.
Baca juga: Penjualan Mobil Mulai Pulih, Geliat Pembiayaan Kendaraan Meningkat
Menurut responden survei, peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan harga bahan baku.
Temuan ini menunjukkan pelaku usaha mulai memperkirakan adanya tekanan biaya yang lebih besar menjelang akhir tahun.
Kenaikan harga bahan baku berpotensi memengaruhi harga barang yang dijual kepada konsumen apabila tren tersebut berlanjut.
Ilustrasi konsumen.
Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang
Di tengah ekspektasi kenaikan harga, kinerja penjualan eceran masih menunjukkan ketahanan.
Baca juga: Penjualan Sapi Kurban Turun 51 Persen, Pedagang: Ekonomi Goyang
Pada April 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 226,9.
Secara tahunan, kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan penjualan pada kelompok suku cadang dan aksesori yang tumbuh 14,7 persen, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang tumbuh 0,6 persen, serta kelompok barang budaya dan rekreasi yang tumbuh 0,7 persen.
Meski demikian, sejumlah kelompok barang masih mengalami kontraksi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turun 3,8 persen secara tahunan.
Kelompok peralatan informasi dan komunikasi turun 26,4 persen, sedangkan subkelompok sandang turun 7 persen.
Baca juga: Indonesia dan Thailand Pimpin Lonjakan Penjualan Mobil Listrik ASEAN
Secara bulanan, penjualan eceran pada April terkontraksi 11,6 persen dibandingkan Maret 2026.
BI menyebut kondisi tersebut sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah berakhirnya periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Bagi konsumen, kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan belanja saat Ramadan dan Lebaran mulai mereda sehingga aktivitas konsumsi kembali ke pola yang lebih normal.
Mei 2026 diperkirakan membaik
Meski penjualan menurun pada April 2026, BI memperkirakan kondisi ritel akan membaik pada Mei 2026.
Baca juga: Penjualan Mobil Listrik Global Melaju, Hampir 30 Persen Pasar Dunia pada 2026
Ilustrasi belanja di supermarket.
IPR Mei diprakirakan sebesar 225,0. Secara tahunan, penjualan eceran diperkirakan masih terkontraksi 3,2 persen, tetapi lebih baik dibandingkan April yang tercatat minus 3,7 persen.
Perbaikan terutama ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori yang diprakirakan tumbuh 16,6 persen secara tahunan. Selain itu, kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya diperkirakan tumbuh 1,8 persen dan kelompok barang lainnya tumbuh 0,7 persen.
Secara bulanan, kontraksi penjualan diperkirakan menyempit dari 11,6 persen pada April menjadi 0,9 persen pada Mei.
Perbaikan tersebut dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode HBKN Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak.
Baca juga: IEA: Penjualan Kendaraan Listrik Pecah Rekor di Hampir 100 Negara
Kelompok peralatan informasi dan komunikasi diperkirakan tumbuh 2,2 persen secara bulanan, sementara kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 2 persen.
Keduanya membaik setelah sebelumnya berada di zona kontraksi.
Pelaku usaha optimistis penjualan meningkat
Di saat ekspektasi harga meningkat, pelaku usaha justru memperkirakan penjualan akan membaik dalam beberapa bulan mendatang.
Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juli 2026 yang mencapai 138,3, lebih tinggi dibandingkan 136,8 pada Juni 2026. Sementara IEP Oktober 2026 tercatat sebesar 149,4, meningkat dari 137,8 pada September 2026.
Baca juga: Ekonomi China Lesu, Penjualan Ritel April 2026 Melambat
Responden survei menginformasikan, peningkatan ekspektasi penjualan pada Juli dipengaruhi oleh tahun ajaran baru. Adapun kenaikan ekspektasi pada Oktober dipengaruhi oleh persiapan menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional Natal.
Optimisme tersebut menunjukkan pelaku usaha memperkirakan permintaan masyarakat masih cukup kuat meski terdapat potensi kenaikan harga barang pada akhir tahun.
Ilustrasi belanja di supermarket.
Sejumlah daerah masih mencatat pertumbuhan penjualan ritel
Secara spasial, kinerja penjualan eceran pada April 2026 masih terjaga di beberapa kota.
Pertumbuhan tahunan tertinggi tercatat di Banjarmasin sebesar 18,5 persen, diikuti Semarang dan Purwokerto sebesar 10,9 persen serta Manado sebesar 7,1 persen.
Baca juga: Penjualan Rumah Kecil Melambat akibat Bunga KPR dan Harga Material
Sebaliknya, Surabaya dan Bandung masih berada di zona kontraksi dengan masing-masing turun 3,7 persen dan 4,2 persen secara tahunan.
Pada Mei 2026, Banjarmasin diprakirakan kembali mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 19,7 persen.
Jakarta diperkirakan tumbuh 11,6 persen dan Medan tumbuh 2,7 persen. Sementara itu, Surabaya diperkirakan membaik meski masih mengalami kontraksi 3,1 persen secara tahunan.
Secara bulanan, sebagian besar kota juga diperkirakan mengalami perbaikan, terutama Semarang dan Purwokerto, Makassar, serta Manado.
Baca juga: KPR Tumbuh Terbatas saat Penjualan Rumah Turun Tajam
Kenaikan harga menjadi perhatian menjelang akhir tahun
Hasil Survei Penjualan Eceran BI menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat diperkirakan tetap terjaga dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, pelaku usaha mulai melihat adanya potensi peningkatan tekanan harga pada Oktober 2026.
Peningkatan Indeks Ekspektasi Harga Umum dari 163,2 pada September menjadi 167,6 pada Oktober mencerminkan pandangan pelaku usaha bahwa harga barang berpotensi naik seiring kenaikan harga bahan baku.
Pada saat yang sama, ekspektasi penjualan juga meningkat karena adanya tahun ajaran baru dan persiapan Natal yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.
Baca juga: BI: Penjualan Properti Kuartal I 2026 Anjlok 25,67 Persen
Kombinasi antara ekspektasi kenaikan permintaan dan kenaikan biaya bahan baku menjadi gambaran utama yang ditangkap pelaku usaha ritel menjelang penghujung tahun 2026.
Tag: #tekanan #harga #barang #diperkirakan #meningkat #pada #akhir #tahun