Mengapa Ada Keluarga yang Punya Anak dengan Jenis Kelamin Sama Terus?
- Banyak orang menganggap peluang mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan bersifat acak, layaknya lemparan koin.
Namun, penelitian terbaru menemukan, setiap keluarga memiliki kecenderungan genetik tertentu untuk menghasilkan satu jenis kelamin secara konsisten.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Science Advances mengamati lebih dari 58.000 wanita di Amerika Serikat yang memiliki dua anak atau lebih antara tahun 1956-2015.
Baca juga: Kecukupan Nutrisi Anak Bisa Hemat Biaya Kesehatan Sampai 4 Kali Lipat
Hasilnya menunjukkan, kecenderungan kuat bahwa keluarga tertentu memang lebih berpotensi melahirkan keturunan dengan jenis kelamin yang seragam.
"Seolah-olah setiap keluarga memiliki 'koin berbobot' sendiri perihal jenis kelamin bayi mereka," jelas kandidat doktor di Harvard T.H. Chan School of Public Health yang juga merupakan penulis utama studi ini, Siwen Wang, dilansir dari Parents, Selasa (24/3/2026).
Melihat peluang jenis kelamin anak dalam keluarga
Wang memaparkan, probabilitas sebuah keluarga dengan tiga anak perempuan untuk kembali melahirkan bayi perempuan, mencapai 58 persen.
Sementara itu, peluang mendapatkan bayi laki-laki setelah memiliki tiga anak laki-laki berturut-turut justru sedikit lebih tinggi, yakni 61 persen.
Meskipun "koin" genetik tersebut tampak condong pada satu sisi, kelahiran dengan gender yang berbeda tetap sangat mungkin terjadi.
Kaitan usia ibu dan kecenderungan jenis kelamin bayi
Faktor usia ibu ternyata memainkan peranan penting. Riset mencatat, wanita yang hamil di atas usia 28 tahun berpeluang 10 persen lebih besar untuk memiliki anak dengan jenis kelamin seragam, dibandingkan mereka yang berusia di bawah 23 tahun.
"Hal ini mengisyaratkan bagaimana perubahan bertahap hormon dan kualitas rahim seiring bertambahnya usia memengaruhi perkembangan dan kelangsungan hidup embrio awal," kata pakar kesuburan dari Columbia University Fertility Center, dr. Alex Robles, MD.
Meski demikian, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu mutlak. Wang menuturkan, usia ibu yang lebih tua biasanya sangat berkorelasi dengan usia ayah yang lebih tua.
Baca juga: 9 Tanda Kehamilan yang Jarang Diketahui Ibu Hamil
Ilustrasi keluarga.
"Dan kemudian, mungkin usia ayah dapat berperan dalam bagaimana jenis kelamin dan pembuahan ditentukan, tetapi kami belum mengetahuinya," ucap Wang.
Mitos Fisik Ibu dan Rahasia Biologis Jenis Kelamin Anak
Sering kali, orangtua berhenti merencanakan kehamilan setelah mendapatkan jumlah dan jenis kelamin yang diimpikan.
Untuk menjaga obyektivitas, tim Wang sengaja mengecualikan anak terakhir dari setiap partisipan wanita ke dalam analisis akhir. Menariknya, prediksi mengenai kecenderungan jenis kelamin ini tetap sama, meskipun data anak terakhir pada wanita yang lebih tua ikut dihitung.
Di sisi lain, penelitian ini sekaligus membantah berbagai mitos kuno. Karakteristik fisik ibu pada usia 18 tahun seperti tinggi badan, warna rambut, ras, golongan darah, hingga indeks massa tubuh, rupanya terbukti tidak memengaruhi jenis kelamin bayi sama sekali.
Baca juga: Kemiskinan dan Kurangnya Pengetahuan Gizi Jadi Pemicu Stunting pada Anak
Pembentukan jenis kelamin diyakini lebih didorong oleh berbagai faktor kecil yang bekerja secara kompleks.
Mendapatkan anak dengan jenis kelamin yang terus-menerus sama kerap memicu pertanyaan dari lingkungan sekitar. Menanggapi fenomena ini, dr. Robles menegaskan bahwa hal tersebut merupakan sebuah kewajaran biologis.
“Mungkin ada alasan biologis nyata mengapa beberapa keluarga cenderung memiliki anak laki-laki, atau anak perempuan. Ini bukan sesuatu yang kamu sebabkan atau dapat dengan mudah diubah, tetapi ini adalah bagian dari variabilitas alami reproduksi manusia,” jelas dia.
Dokter Robles juga mematahkan mitos bahwa mengatur jadwal hubungan intim atau diet tertentu bisa menjamin jenis kelamin sang buah hati. Pasalnya, biologi manusia jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.
Wang menambahkan, tujuan utama penelitian ini bukanlah untuk menebak kelahiran di masa depan, melainkan memperkaya pemahaman ilmiah. Ia berharap para orangtua tetap fokus pada kehamilan yang sehat.
Baca juga: Studi Ungkap Kasus Autisme pada Anak Laki-laki dan Perempuan Setara
Tag: #mengapa #keluarga #yang #punya #anak #dengan #jenis #kelamin #sama #terus