Cegah Campak di Sekolah, Kemenkes Minta Anak Sakit Tinggal di Rumah
Petugas kesehatan melakukan imunisasi tambahan di Kecamatan Pasean Pamekasan, Rabu (24/9/2025)(KOMPAS.COM/Avira Sulistyowati)
20:36
11 April 2026

Cegah Campak di Sekolah, Kemenkes Minta Anak Sakit Tinggal di Rumah

- Penularan penyakit campak di lingkungan sekolah menjadi salah satu perhatian utama pemerintah.

Meski secara nasional angka infeksi pada awal tahun 2026 telah menunjukkan grafik penurunan yang signifikan, dari 2.220 kasus menjadi 195 kasus pada minggu ke-13, kewaspadaan tingkat tinggi tetap harus diterapkan.

Fasilitas pendidikan dinilai sebagai salah satu lokasi yang sangat rentan memicu ledakan kasus baru jika langkah antisipasi tidak dilakukan secara tepat.

Baca juga: Kemenkes Mulai Vaksin Campak untuk Ratusan Ribu Nakes

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit dr. Andi Saguni, MA, secara tegas mengimbau para orangtua dan tenaga pendidik untuk jauh lebih peka dalam memantau kondisi fisik anak-anak setiap harinya, sebelum mereka memulai interaksi.

"Penting bagi keluarga, khususnya orangtua, untuk selalu mengecek kondisi kesehatan anak. Jadi, jika ada gejala demam kemudian batuk, sebaiknya tidak perlu masuk ke sekolah," ucap dr. Andi dalam konferensi pers daring via Zoom, Jumat (10/4/2026).

Ancaman Penularan Super Cepat

Alasan utama mengapa anak yang sedang kurang sehat tidak dianjurkan untuk mengikuti proses belajar mengajar secara tatap muka, tidak lepas dari karakteristik virus itu sendiri.

Penyakit ini diketahui memiliki tingkat penularan yang sangat agresif jika dibandingkan dengan beberapa penyakit infeksi saluran pernapasan lainnya, sehingga satu anak yang terinfeksi dapat dengan mudah memicu klaster baru.

"Karena penularan dari campak ini tinggi ya. R0-nya itu, kemampuan untuk melakukan penularan dari virus campak ini, sekitar 12 sampai 18. Artinya, ketika ada yang terkena campak, kemampuan menularkan satu penderita ke 12 sampai 18 orang," jelas dr. Andi.

Dengan rasio penyebaran setinggi itu, interaksi antarsiswa yang berlangsung intens sepanjang hari di dalam ruang kelas tertutup menjadi sangat berisiko.

Jika anak tersebut tetap dipaksakan masuk, teman-teman sebayanya akan tertular dalam waktu yang sangat singkat.

Kenali spesifikasi gejala 3C

Selain pengawasan dari orangtua, pihak sekolah juga mengemban tanggung jawab yang tidak kalah penting di garda terdepan.

Baca juga: Imunitas Bisa Menurun, Dokter Sarankan Vaksin Campak untuk Dewasa

Guru di kelas diharapkan memiliki kepekaan untuk mendeteksi perubahan kondisi fisik anak didiknya secara dini. Apabila ditemukan keluhan kesehatan, langkah pemisahan dari murid lain harus segera dilakukan.

"Peran guru juga penting untuk mengecek kondisi anak murid. Jika ada gejala seperti demam, batuk, apalagi kalau sudah ada gejala secara spesifik yang kita kenal dengan 3C, yakni coryza (pilek), kemudian cough (batuk), dan conjunctivitis (mata merah), itu segera diwaspadai," terang dr. Andi.

Anak yang menunjukkan indikasi gejala tersebut harus segera ditarik dari aktivitas belajar. Dokter Andi menegaskan agar wali murid segera dihubungi.

Jadi, sang anak bisa langsung dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Langkah selanjutnya setelah anak mendapatkan diagnosis dari dokter, pastikan mereka baru kembali bersekolah setelah benar-benar sembuh demi memutus rantai penularan.

Libatkan puskesmas untuk pemantauan

Ketika sebuah kasus suspek maupun terkonfirmasi sudah terjadi di suatu sekolah, pihak institusi pendidikan wajib bersikap transparan.

Keterbukaan komunikasi dengan puskesmas setempat akan sangat membantu pemerintah dalam meredam penyebaran sebelum telanjur meluas menjadi wabah.

"Segera dilakukan komunikasi ke puskesmas dan akan dilakukan surveilans epidemiologi. Jadi pengawasan apakah murid-murid lain juga terkena gejala," ucap dr. Andi.

Sembari menunggu anak yang terinfeksi menjalani masa pemulihan di rumah, pihak puskesmas akan terus memantau ketat kondisi para siswa lainnya.

Jika hasil penelusuran menunjukkan adanya eskalasi kasus yang terus melonjak di lingkungan tersebut, pemerintah sudah menyiapkan langkah intervensi lanjutan berupa penyuntikan kekebalan massal.

"Ada prosedur yang mana kami melakukan catch-up campaign campak. Kami kejar anak-anak di wilayah tersebut untuk dilakukan imunisasi. Atau jika kasusnya sangat tinggi, kami lakukan Outbreak Response Immunization (ORI)," pungkas dr. Andi.

Baca juga: Tak Hanya Ruam, Campak Bisa Sebabkan Gangguan Saraf Jangka Panjang

Tag:  #cegah #campak #sekolah #kemenkes #minta #anak #sakit #tinggal #rumah

KOMENTAR