Apa Itu Demensia? Ini Gejala Awal yang Sering Diabaikan
Perdebatan soal kondisi mental Donald Trump kembali mencuat setelah ia disebut menunjukkan tanda yang dikaitkan dengan demensia.
Laporan The New York Times (13/4/2026) mencatat adanya desakan pemeriksaan kognitif, meski Gedung Putih menolak dan menegaskan Trump tetap dalam kondisi baik.
Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa dirinya telah lulus tes kognitif, yang dikenal sebagai Montreal Cognitive Assessment (MoCA), sebuah tes yang umum digunakan untuk mendeteksi gangguan kognitif ringan hingga tahap awal demensia.
Tes ini mencakup berbagai kemampuan seperti mengingat, mengenali objek, menggambar, hingga menyelesaikan soal sederhana yang semakin kompleks di bagian akhir.
Trump beberapa kali menekankan bahwa hasil tes tersebut menunjukkan kondisi mentalnya dalam keadaan baik.
Di tengah isu tersebut, penting memahami apa sebenarnya demensia dari sisi medis. Penjelasan ini membantu membedakan antara spekulasi publik dan diagnosis kesehatan yang sesungguhnya.
Baca juga: Memar di Tangan Donald Trump Disebut Akibat Aspirin Dosis Tinggi, Dokter Ingatkan Risikonya
Apa itu demensia secara medis?
Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (31/3/2025), demensia adalah kondisi yang memengaruhi ingatan, kemampuan berpikir, serta aktivitas sehari-hari akibat gangguan pada otak.
Demensia bukan satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan kondisi dengan penyebab yang berbeda.
Penyakit Alzheimer menjadi bentuk paling umum dan menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen kasus.
Melansir laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (31/7/2023), kondisi ini berkembang secara bertahap dan dapat mengganggu kemandirian seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Kacamata Emmanuel Macron di Davos Disorot Trump, Ini Penjelasan Medis di Balik Mata Merahnya
Gejala tidak hanya soal lupa
Ilustrasi demensia. Perdebatan soal kondisi mental Donald Trump memicu pertanyaan publik tentang demensia, termasuk gejala dan bagaimana cara memastikan diagnosisnya secara medis.
Gejala demensia tidak hanya berupa lupa.
Tanda awal dapat berupa sering lupa kejadian baru, kehilangan barang, atau bingung di tempat yang sebenarnya sudah dikenal.
Kesulitan mengikuti percakapan, mengambil keputusan, dan melakukan aktivitas sederhana juga dapat muncul.
Perubahan suasana hati dan perilaku sering terlihat seiring perkembangan kondisi.
Selain itu, gangguan juga dapat memengaruhi perhatian, bahasa, serta kemampuan memahami informasi.
Kondisi ini membuat gejala demensia sering terlihat lebih kompleks dari sekadar gangguan ingatan.
Baca juga: Benarkah Darah Kental Bisa Picu Stroke, Seperti Klaim Donald Trump? Ini Fakta Medisnya
Tudingan publik tidak sama dengan diagnosis medis
Perdebatan soal Trump muncul setelah beberapa pihak menilai pernyataannya tidak konsisten dan sulit dipahami.
Mengutip The Independent (10/4/2026), Rep. Jamie Raskin meminta pemeriksaan kognitif karena melihat tanda yang dianggap mengarah pada penurunan fungsi kognitif.
Kekhawatiran serupa muncul dari sejumlah pihak, termasuk mantan sekutu politik. Namun, pihak Gedung Putih menolak penilaian tersebut dan menyatakan Trump tetap tajam serta energik.
Trump juga pernah menyampaikan dirinya lulus tes kognitif. Tes kognitif memang dapat membantu mendeteksi gangguan awal, tetapi bukan satu-satunya dasar diagnosis.
Dalam praktik medis, hasil satu tes kognitif saja tidak cukup untuk memastikan ada atau tidaknya demensia, karena diagnosis memerlukan evaluasi menyeluruh yang mencakup riwayat kesehatan, pemeriksaan klinis, serta observasi jangka panjang terhadap fungsi kognitif seseorang.
Baca juga: Trump Minum Aspirin Dosis Tinggi Setiap Hari, Dokter Ungkap Risiko yang Mengintai
Gejala mirip bisa disebabkan kondisi lain
Perubahan perilaku atau kemampuan berpikir tidak selalu berarti demensia. Beberapa kondisi lain dapat menimbulkan gejala yang mirip.
Di antaranya adalah depresi, gangguan kecemasan, infeksi, kekurangan vitamin, hingga gangguan metabolik atau hormonal.
Sebagian kondisi tersebut bahkan bisa bersifat sementara atau dapat diobati. Hal ini membuat pemeriksaan medis menjadi penting sebelum menarik kesimpulan.
Baca juga: Tak Berdasar Ilmiah, Klaim Trump Soal Parasetamol Terkait Autisme Tak Dipercaya
Faktor risiko dan dampaknya
Usia menjadi faktor risiko utama, terutama pada usia di atas 65 tahun. Namun, demensia bukan hal yang pasti terjadi dalam proses menua.
Faktor lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, dan isolasi sosial juga dapat meningkatkan risiko.
Dampak demensia tidak hanya dirasakan oleh penderita. Keluarga dan orang terdekat juga terdampak karena penderita sering membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari.
Tudingan bahwa Trump mengalami demensia masih berada di ranah perdebatan, bukan diagnosis medis.
Demensia merupakan kondisi serius yang memengaruhi memori, cara berpikir, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Penilaian kondisi kesehatan tidak dapat dilakukan hanya dari pernyataan publik.
Pemeriksaan medis yang menyeluruh tetap menjadi dasar utama dalam menentukan diagnosis.
Baca juga: Bukan Sekadar Varises, Ini Bahaya Chronic Venous Insufficiency yang Dialami Trump