Terapi HIPEC, Harapan Baru untuk Cegah Penyebaran Sel Kanker di Rongga Perut
Gambaran alat HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy).(Dok. Primaya Hospital)
21:06
30 April 2026

Terapi HIPEC, Harapan Baru untuk Cegah Penyebaran Sel Kanker di Rongga Perut

- Salah satu metode terapi kanker yang kini menjadi perhatian dalam penanganan kanker dengan penyebaran di rongga perut adalah Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy (HIPEC). 

Terapi ini dinilai mampu memberikan pendekatan yang lebih terarah dalam membasmi sel kanker, terutama yang tersebar secara mikroskopis di area peritoneal.

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi, dr. Kartiwa Hadi N, Sp.OG, Subsp. Onk menjelaskan, HIPEC merupakan salah satu pendekatan pemberian kemoterapi yang dilakukan secara lokal di dalam rongga perut.

Baca juga: Lee Joo Sil Squid Game 2 Meninggal karena Kanker Perut, Kenali Gejalanya

Menurut dr. Kartiwa, terapi ini menjadi salah satu langkah definitif pada kasus kanker yang telah melibatkan peritoneum atau lapisan rongga perut.

Apa Itu HIPEC?

HIPEC adalah metode pemberian kemoterapi dengan menggunakan cairan yang telah dicampur obat kemoterapi dan dipanaskan sebelum dimasukkan ke dalam rongga abdomen.

“HIPEC itu konsepnya kita memanaskan cairan yang sudah dicampur oleh obat kemoterapi, kemudian dimasukkan ke dalam rongga abdomen atau rongga perut,” kata dr. Kartiwa dalam seminar medis “Advancing Cancer Care: Peran HIPEC dalam Meningkatkan Survival pada Kanker dengan Keterlibatan Peritoneal” di Primaya Hospital Kelapa Gading, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, prinsip dasar terapi ini adalah memanfaatkan suhu panas untuk membantu obat kemoterapi bekerja lebih efektif saat menyerang sel kanker.

Konsep HIPEC ditujukan pada berbagai jenis kanker yang penyebarannya terjadi di rongga perut. 

Dalam praktiknya, prosedur ini biasanya dikombinasikan dengan Cytoreductive Surgery (CRS), yaitu tindakan operasi untuk mengangkat tumor yang tampak secara kasatmata.

Pendekatan CRS dan HIPEC memungkinkan terapi kanker dilakukan secara lebih menyeluruh. 

Tidak hanya mengangkat jaringan tumor yang terlihat, tetapi juga menargetkan sel-sel kanker berukuran sangat kecil yang kerap luput terdeteksi dan menjadi pemicu kekambuhan.

Baca juga: PET-CT dan SPECT-CT Hadir di Mayapada Jakarta Selatan, Diagnosis Kanker Makin Akurat

Mengapa HIPEC dinilai lebih efektif?

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi, dr. Kartiwa Hadi N, Sp.OG, Subsp. Onk dalam seminar medis “Advancing Cancer Care: Peran HIPEC dalam Meningkatkan Survival pada Kanker dengan Keterlibatan Peritoneal” di Primaya Hospital Kelapa Gading, Selasa (28/4/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi, dr. Kartiwa Hadi N, Sp.OG, Subsp. Onk dalam seminar medis “Advancing Cancer Care: Peran HIPEC dalam Meningkatkan Survival pada Kanker dengan Keterlibatan Peritoneal” di Primaya Hospital Kelapa Gading, Selasa (28/4/2026).

Dr. Kartiwa mengatakan, panas yang digunakan dalam prosedur HIPEC membantu meningkatkan penetrasi obat kemoterapi ke dalam sel kanker.

“Selanjutnya obat yang ada di dalam cairan yang sudah dipanaskan itu akan lebih mudah masuk ke dalam sel-sel kanker, sehingga akan lebih cepat dimusnahkan, dalam konsepnya dimatikan,” ujarnya.

Menurut dia, keunggulan lain dari metode ini terletak pada cara kerja obat yang langsung menyentuh area target.

“Keuntungan HIPEC adalah obat kemoterapinya akan langsung menyentuh sel kankernya, maka efektivitasnya akan lebih baik. Karena dipanaskan, maka efek untuk penetrasi ke dalam selnya juga akan lebih baik,” jelas dr. Kartiwa.

Dengan konsentrasi obat yang tinggi di area lokal, terapi ini dapat bekerja optimal pada bagian tubuh yang sulit dijangkau kemoterapi konvensional.

Baca juga: Komedian Alex Duong Meninggal Dunia karena Kanker Langka, Bisa Menyebar Sangat Cepat

Selain itu, karena diberikan langsung di rongga perut, efek samping sistemik yang biasanya muncul pada kemoterapi intravena juga cenderung lebih rendah.

“HIPEC hanya diberikan lokal di dalam rongga perut, maka efek samping sistemik akan lebih rendah dibandingkan kemoterapi yang sistemik,” katanya.

Tidak bisa menggantikan kemoterapi sistemik

Meski memiliki sejumlah keunggulan, dr. Kartiwa menegaskan bahwa HIPEC bukan terapi pengganti kemoterapi sistemik.

“Tapi yang perlu diingat bahwa HIPEC ini sifatnya hanya lokal. Dia akan bereaksi terhadap sel-sel kanker yang ada di dalam perut saja. Untuk sel-sel kanker yang tidak di dalam perut, harus tetap dibunuh dengan kemoterapi secara sistemik,” tegasnya.

Pasien tetap membutuhkan evaluasi menyeluruh untuk menentukan kombinasi terapi yang paling sesuai dengan kondisi penyakitnya.

HIPEC hanya menargetkan sel kanker di rongga abdomen, sehingga jika kanker telah menyebar ke organ lain di luar area tersebut, penanganan tambahan tetap diperlukan.

Tidak semua pasien bisa menjalani HIPEC

Dr. Kartiwa menambahkan, keberhasilan HIPEC sangat dipengaruhi oleh ukuran sisa tumor setelah operasi.

“Sel kanker yang akan lebih mudah dibunuh adalah sel-sel kanker yang di bentukan tumor yang paling besar adalah 2,5 sampai 3 mm,” jelasnya.

Apabila ukuran tumor melebihi batas tersebut, efektivitas terapi akan menurun.

“Di atas ukuran itu, sebaiknya tidak dilakukan HIPEC, karena efek HIPEC-nya tidak akan maksimal,” ujarnya.

Oleh karenanya, seleksi pasien menjadi faktor penting sebelum tindakan dilakukan. Evaluasi medis yang cermat diperlukan untuk memastikan terapi ini benar-benar memberikan manfaat optimal.

Dengan perkembangan teknologi seperti HIPEC, harapan hidup pasien kanker dengan keterlibatan peritoneal kini semakin terbuka. 

Namun, penanganan tetap harus dilakukan secara terintegrasi dan berdasarkan pertimbangan medis yang matang.

 Baca juga: Beda dengan Tes DNA Biasa, Sekuensing Genomik Bisa Deteksi Dini Kanker hingga Kecocokan Obat

Tag:  #terapi #hipec #harapan #baru #untuk #cegah #penyebaran #kanker #rongga #perut

KOMENTAR