Penyakit Katastropik Bikin Beban BPJS Kesehatan Makin Berat, Ini Penyebabnya
Loket BPJS Kesehatan Cabang Utama Kota Manado di Jl Tololiu Supit No 11, Kelurahan Tingkulu, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (7/2/2026). Penyakit jantung, kanker, dan stroke membuat pembiayaan layanan JKN terus meningkat sehingga BPJS Kesehatan mendorong penguatan pencegahan sejak dini.(KOMPAS.com/Subhan Sabu)
17:24
5 Mei 2026

Penyakit Katastropik Bikin Beban BPJS Kesehatan Makin Berat, Ini Penyebabnya

Penyakit katastropik kini menjadi perhatian serius BPJS Kesehatan karena ikut mendorong kenaikan beban pembiayaan layanan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.

Melansir Antara, Selasa (5/5/2026), penyakit seperti jantung, kanker, dan stroke menjadi kontributor utama pembiayaan layanan kesehatan karena membutuhkan penanganan berbiaya tinggi.

Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, Asyraf Mursalina, mengatakan dominasi penyakit katastropik berdampak langsung terhadap meningkatnya beban biaya layanan kesehatan dalam sistem JKN.

“Dominasi penyakit katastropik tersebut berdampak langsung pada meningkatnya beban pembiayaan layanan kesehatan dalam sistem JKN,” ujar Asyraf di Makassa.

Baca juga: Kasus Kanker Payudara Melonjak, BPJS Kesehatan Catat Tambahan 860 Ribu

Penyakit katastropik jadi beban besar JKN

Asyraf menjelaskan, tren peningkatan penyakit katastropik menjadi perhatian serius dalam pengelolaan anggaran program JKN.

Menurut dia, penyakit jantung, kanker, dan stroke kini menjadi penyumbang utama pembiayaan layanan kesehatan seiring meningkatnya kebutuhan penanganan kasus berbiaya tinggi.

Kondisi ini membuat penguatan upaya promotif dan preventif semakin penting agar jumlah kasus penyakit kronis dapat ditekan sejak dini.

Data BPJS Kesehatan hingga April 2026 menunjukkan, pembiayaan penyakit katastropik telah mencapai 25 persen dari total biaya layanan kesehatan.

Angka tersebut menggambarkan besarnya porsi biaya penyakit berisiko tinggi terhadap keberlanjutan pembiayaan layanan kesehatan nasional.

Baca juga: 11 Juta Peserta BPJS Terancam Terkendala Layanan, Pemerintah Siapkan SKB

Biaya manfaat BPJS Kesehatan terus naik

BPJS Kesehatan. Penyakit jantung, kanker, dan stroke membuat pembiayaan layanan JKN terus meningkat sehingga BPJS Kesehatan mendorong penguatan pencegahan sejak dini.Dok. BPJS Kesehatan BPJS Kesehatan. Penyakit jantung, kanker, dan stroke membuat pembiayaan layanan JKN terus meningkat sehingga BPJS Kesehatan mendorong penguatan pencegahan sejak dini.

BPJS Kesehatan mencatat biaya manfaat sepanjang 2025 meningkat dibandingkan 2024 seiring bertambahnya jumlah kasus penyakit kronis.

Realisasi biaya manfaat naik sekitar 11 persen pada 2025, dari sebelumnya Rp44,8 triliun menjadi Rp50,28 triliun.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan masyarakat terus bertambah, terutama pada kasus penyakit kronis dan penyakit katastropik.

Pemanfaatan layanan kesehatan juga melonjak sejak program JKN diterapkan.

Pada periode 2014-2025, jumlah anggaran yang disalurkan mencapai lebih dari Rp1.272 triliun.

Pada 2025, sebanyak 1,9 juta orang tercatat mengakses fasilitas kesehatan setiap hari, atau naik lima kali lipat dibandingkan 2014.

Baca juga: 11 Juta Peserta BPJS Nonaktif Tetap Dilayani, Begini Cara Reaktivasinya

BPJS Kesehatan dorong pencegahan penyakit

Meski pembiayaan terus meningkat, Asyraf menegaskan BPJS Kesehatan tetap menjalankan peran strategis dalam pembiayaan kesehatan atau health care financing bagi masyarakat.

Peran tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan dana layanan kesehatan serta menjamin akses layanan yang komprehensif.

Layanan itu mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Pengelolaan program JKN dilakukan melalui mekanisme terintegrasi, mulai dari pengumpulan iuran, pengelolaan risiko secara kolektif, hingga pembelian layanan kesehatan secara strategis.

Mekanisme tersebut bertujuan memastikan pelayanan kesehatan tetap berkualitas, efektif, dan berkelanjutan.

“Peningkatan kesadaran masyarakat diperlukan untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai kunci utama menekan laju kasus penyakit tersebut,” kata Asyraf.

Ia menambahkan, pencegahan harus menjadi fokus bersama agar beban pembiayaan lebih terkendali dan keberlanjutan program JKN tetap terjaga.

“Upaya pencegahan juga harus menjadi fokus bersama agar beban pembiayaan dapat lebih terkendali dan keberlanjutan Program JKN tetap terjaga,” tuturnya.

Baca juga: Meski Dinonaktifkan, Peserta BPJS Tetap Dilayani Selama Masa Transisi

Media dinilai penting dalam edukasi JKN

Asyraf sebelumnya menyampaikan pentingnya penguatan kolaborasi program JKN dalam workshop bersama media.

Ia menilai media memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman publik tentang layanan BPJS Kesehatan dan keberlanjutan JKN.

Menurut dia, pers merupakan mitra kerja strategis dalam menentukan keberhasilan program JKN melalui penyampaian informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif.

“Kami memandang insan pers sebagai mitra strategis yang turut menentukan keberhasilan program JKN melalui penyampaian informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif,” ujar Asyraf.

Ia mengatakan komunikasi mengenai JKN tidak boleh hanya berjalan satu arah, tetapi perlu dibangun secara kolaboratif dan solutif.

Program JKN, kata Asyraf, merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat melalui prinsip gotong royong.

Prinsip tersebut membuat peserta yang sehat menopang peserta yang sakit, serta peserta mampu membantu peserta yang kurang mampu.

Baca juga: Kasus Parkinson Capai 1,1 Juta, BPJS Didorong Perluas Layanan

Tag:  #penyakit #katastropik #bikin #beban #bpjs #kesehatan #makin #berat #penyebabnya

KOMENTAR