Susu Formula dalam MBG Ramai Dibahas, Ini Respons Kemenkes dan Catatan IDAI
Narasi pemberian susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG, ramai dibahas di media sosial, terutama terkait sasaran bayi usia 6-12 bulan dan anak di atas 12-36 bulan.
Pembahasan itu kembali membuka diskusi tentang pentingnya pemberian ASI hingga usia dua tahun, serta kapan susu formula dapat diberikan kepada bayi.
Kementerian Kesehatan menyatakan sudah berkoordinasi dengan BGN terkait kebijakan tersebut.
Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, mengatakan Kemenkes akan kembali menyampaikan rekomendasi kepada BGN.
“Menyikapi kebijakan penggunaan susu formula pada program MBG, Kemenkes sudah berkoordinasi dan akan segera mengirimkan surat rekomendasi kembali kepada BGN,” kata Aji saat dihubungi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Di tengah pembahasan susu formula pada bayi dalam MBG, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI menegaskan bahwa ASI tetap menjadi nutrisi utama bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan.
Baca juga: 3 Hal yang Wajib Dicek Orangtua Sebelum Memilih Susu Formula Anak
ASI dianjurkan sampai usia dua tahun
Dikutip dari laman IDAI pada Minggu (27/8/2023), keunggulan ASI sebagai nutrisi bayi telah banyak dipelajari dan dibuktikan oleh para peneliti.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga merekomendasikan ASI eksklusif untuk bayi sampai usia enam bulan.
Setelah itu, pemberian ASI dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI atau MPASI sampai bayi berusia dua tahun atau lebih.
Rekomendasi ini penting karena bayi usia enam bulan mulai membutuhkan MPASI, tetapi ASI tetap berperan dalam pemenuhan nutrisi dan perlindungan kesehatan anak.
IDAI juga mencatat bahwa Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 128 menekankan hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif, kecuali atas indikasi medis.
Baca juga: Anak di Atas 2 Tahun Tak Wajib Minum Susu, Ini Kata Dokter
Susu formula hanya pada kondisi tertentu
Ilustrasi susu formula untuk bayi. Kemenkes akan mengirimkan rekomendasi kepada BGN terkait susu formula dalam MBG, sementara IDAI menegaskan ASI tetap menjadi nutrisi utama bayi.
IDAI menjelaskan, pemberian susu formula pada bayi perlu dipertimbangkan berdasarkan manfaat dan risiko yang mungkin muncul.
Menurut IDAI, susu formula dapat diberikan dalam sejumlah situasi medis tertentu, misalnya ketika bayi memiliki kelainan metabolik atau genetik yang membuat tubuhnya tidak dapat mencerna komponen tertentu dalam susu.
Beberapa kondisi tersebut antara lain galaktosemia, maple syrup urine disease, dan fenilketonuria.
Pada bayi prematur, IDAI menyebut kebutuhan kalori, lemak, dan protein lebih tinggi dibanding bayi cukup bulan.
Dalam kondisi tertentu, terutama jika penguat ASI tidak tersedia, pemberian susu prematur dapat dibenarkan, terutama untuk bayi prematur dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu atau berat lahir kurang dari 1.500 gram.
Baca juga: BPOM Tarik Susu Formula Bayi Nestlé, 53 Negara Keluarkan Peringatan
Bayi cukup bulan sehat umumnya tidak perlu tambahan
IDAI menegaskan, bayi cukup bulan yang sehat umumnya tidak memerlukan tambahan susu formula jika bayi diberi kesempatan untuk segera menyusu dan tidak dipisahkan dari ibunya.
Pemberian susu formula pada hari-hari pertama kelahiran justru dapat mengganggu produksi ASI, proses kedekatan ibu dan bayi, serta keberhasilan menyusui di kemudian hari.
Bayi yang diberi formula bisa merasa kenyang dan menjadi malas menyusu.
Akibatnya, pengosongan payudara tidak optimal, payudara bisa bengkak, ibu merasa sakit, dan produksi ASI dapat menurun.
IDAI juga menyebut risiko lain, seperti perubahan flora usus, paparan antigen, kemungkinan meningkatnya sensitivitas bayi terhadap susu formula, serta berkurangnya perlindungan kekebalan dari kolostrum.
Baca juga: Susu atau Suplemen, Mana yang Lebih Baik untuk Tulang Kuat? Ini Kata Dokter
Tambahan formula bersifat sementara
IDAI menyebut susu formula dapat dipertimbangkan pada bayi cukup bulan dalam kondisi tertentu, seperti:
- Risiko hipoglikemia yang tidak membaik setelah disusui dengan baik
- Tanda dehidrasi
- Penurunan berat badan 8-10 persen
- Hiperbilirubinemia tertentu, atau
- Kondisi bayi terpisah dari ibu
Namun, IDAI menekankan bahwa tambahan susu formula hanya diberikan sampai masalah teratasi.
Setelah itu, ibu dan bayi perlu dibantu agar proses menyusui tetap berlanjut.
Pembahasan susu formula dalam MBG dapat menjadi momentum untuk kembali memperkuat kampanye pemberian ASI hingga usia dua tahun.
ASI tetap menjadi fondasi utama nutrisi bayi, sementara susu formula ditempatkan sebagai pilihan pada kondisi khusus yang perlu dinilai secara medis.
Baca juga: Kepala BGN: MBG Jadi Solusi Anak Bisa Minum Susu dan Makan Bergizi
Tag: #susu #formula #dalam #ramai #dibahas #respons #kemenkes #catatan #idai