Jangan Terjebak Mitos, Alergi Telur hingga Autoimun Boleh Vaksin Influenza
- Kesalahpahaman mengenai siapa saja yang boleh dan tidak boleh menerima vaksin influenza masih sering terjadi di tengah masyarakat.
Banyak orang menunda, bahkan membatalkan niatnya, untuk mendapatkan perlindungan kekebalan ini hanya karena merasa kondisi tubuhnya tidak memenuhi syarat medis.
Faktanya, anggapan bahwa pengidap alergi atau penyakit kronis tertentu dilarang keras menerima suntikan vaksin, sering kali hanyalah mitos belaka.
Baca juga: Bukan Hanya untuk Ibu, Vaksin Influenza Saat Kehamilan Juga Lindungi Janin
Aturan kedokteran modern justru sangat mendukung pemberian vaksinasi pada kelompok-kelompok yang selama ini merasa dirinya masuk dalam daftar pengecualian.
"Banyak orang sebenarnya boleh divaksinasi, tapi menolak karena merasa kondisinya tidak memungkinkan. Jadi, padahal, yang benar-benar tidak boleh divaksinasi influenza itu tidak banyak."
Hal tersebut dituturkan oleh Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI dalam media discussion bersama PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kondisi yang Boleh Divaksinasi Influenza
Alergi telur bukan lagi halangan
Bagi sebagian orang, memiliki riwayat alergi terhadap protein telur kerap menjadi momok yang menakutkan saat hendak menerima vaksin.
Anggapan ini memang berakar dari pedoman kesehatan zaman dahulu yang cukup ketat melarang penggunaan vaksin pada penderita alergi tersebut.
Namun, dr. Sukamto menuturkan, ilmu kedokteran terus diperbarui seiring berjalannya waktu.
"Alergi telur bahkan yang berat bukan lagi kontraindikasi vaksinasi influenza," ucap dia.
Meski sudah dinyatakan aman, masyarakat tetap diimbau untuk tidak sembarangan.
Langkah paling bijak sebelum menerima suntikan adalah berkonsultasi secara jujur mengenai riwayat alergi yang dimiliki kepada dokter atau tenaga kesehatan yang bertugas di klinik.
Baca juga: Super Flu Masuk Indonesia, Vaksin Influenza Tahunan Jadi Kunci Perlindungan
"Yang penting itu vaksinasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang siap menangani reaksi alergi," terang dr. Sukamto.
Larangan untuk tidak menerima vaksin ini sebenarnya amat spesifik dan tergolong langka. Salah satunya adalah riwayat alergi yang teramat parah terhadap cairan vaksin influenza di masa lalu, yang sampai memicu reaksi penolakan berlebihan pada fisik.
"Jadi, selain ada gejala di kulit, dia juga ada gejala penurunan hemodinamik sampai pingsan," ungkap dr. Sukamto.
Pasien autoimun justru dianjurkan
Selain perkara alergi, kelompok pasien dengan gangguan kekebalan tubuh sering kali ragu untuk menerima intervensi vaksin.
Kondisi kesehatan khusus seperti reumatoid artritis hingga psoriasis kerap disalahartikan sebagai penghalang utama.
Kenyataannya, lanjut dr. Sukamto, cairan vaksin flu yang beredar luas saat ini terbuat dari materi virus yang sudah dimatikan.
Pemakaiannya sangat aman dan dipastikan tidak akan memicu penyakit bawaan tersebut bertambah parah.
"Vaksinasi influenza boleh karena dia vaksin inaktif," kata dia.
Pemilik kondisi autoimun justru masuk dalam kategori kelompok pasien yang sangat rentan.
"Orang-orang yang punya autoimun ini bila terkena influenza itu akan lebih parah," ungkap Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI.
Dokter Iris melanjutkan, infeksi virus yang masuk bebas dari udara bisa dengan mudah merobohkan pertahanan fisik mereka yang sejak awal sudah bermasalah.
Mengingat tubuh mereka sangat mudah terserang infeksi tambahan, para tenaga medis justru sangat menganjurkan pemberian asupan antibodi ini.
Masyarakat diimbau untuk tidak mendiagnosis diri sendiri dan langsung menolak vaksin hanya karena mengidap masalah imunologis.
"Pasien autoimun seperti lupus, reumatoid artritis, psoriasis, vaksinasi justru penting," tegas dr. Sukamto.
Baca juga: Virus Influenza Terus Bermutasi, Lindungi Tubuh dengan Vaksin Flu
Kondisi yang Wajib Menunda Vaksin Influenza
Walaupun aturan vaksinasi sangat bersahabat bagi penderita ragam penyakit bawaan, ada satu pantangan fisik yang mengharuskan seseorang menunggu sejenak.
Hal ini murni berkaitan dengan stabilitas suhu tubuh saat hendak menerima suntikan di ruang pemeriksaan.
Setiap calon penerima vaksin diwajibkan memastikan fisiknya berada dalam kondisi prima tanpa adanya gejala penyakit akut yang sedang menyerang.
"Kalau mau vaksin apapun, harus kondisi tidak ada demam, tidak lagi sakit," ucap dr. Iris.
Penundaan ini bertujuan agar tubuh tidak bekerja kelewat keras, sekaligus menghindari kebingungan dalam membedakan keluhan sakit yang sedang dialami dengan kemungkinan efek bawaan dari vaksin.
"Karena, kadang kala, ada satu vaksin yang jujur bisa demam sedikit, sehingga nanti disalah-salahkan dari tadinya sih demam, kok divaksin makin tinggi," lanjut dr. Iris.
Jika seseorang sedang terserang demam, apalagi dengan suhu menyentuh angka 38,5 derajat Celcius, jadwal pemberian vaksin wajib dijadwal ulang.
Namun, sangat penting untuk dicatat bahwa statusnya hanyalah penundaan sementara waktu demi kebaikan pasien.
"Jadi, kalau ada sedang sakit, itu tunda sampai sembuh. Bukan dibatalkan," pungkas dr. Sukamto.
Baca juga: Vaksin Influenza Trivalen Jadi Rekomendasi Baru WHO, Ini Penjelasannya
Tag: #jangan #terjebak #mitos #alergi #telur #hingga #autoimun #boleh #vaksin #influenza