Kemenkes Ingatkan Bahaya Hantavirus, Tikus dan Banjir Jadi Faktor Risiko
Ilustrasi tikus. Kemenkes meminta masyarakat lebih waspada terhadap hantavirus yang ditularkan tikus, terutama di wilayah rawan banjir dan lingkungan kurang bersih.(Unsplash/cenisev)
17:42
11 Mei 2026

Kemenkes Ingatkan Bahaya Hantavirus, Tikus dan Banjir Jadi Faktor Risiko

Kasus hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius membuat pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan.

Meski belum ditemukan kasus penularan di dalam negeri, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus yang menjadi sumber infeksi virus tersebut.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan, hantavirus dapat menular melalui paparan rodensia atau tikus, terutama dari urine dan kotorannya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan masyarakat perlu lebih waspada, terutama di daerah dengan risiko banjir tinggi.

“Di samping kebersihan lingkungan, kita harus betul-betul sadar terkait dengan sumber penularan hantavirus yang infeksinya dari tikus,” ujar Andi dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026), seperti dikutip dari Antara.

Menurut dia, kondisi lingkungan yang kurang bersih dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang berkaitan dengan tikus, termasuk hantavirus dan leptospirosis.

Baca juga: Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Ini Penyebab dan Cara Penularannya

Kemenkes ingatkan risiko hantavirus saat banjir

Andi mengatakan daerah dengan intensitas banjir tinggi perlu lebih waspada karena kondisi tersebut dapat memengaruhi penyebaran tikus.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak bermain air banjir karena berisiko menularkan berbagai penyakit.

“Ketika terjadi banjir itu jangan malah main-main banjir begitu, seperti kolam renang raksasa katanya, karena sebenarnya itu berisiko untuk terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah hantavirus tersebut,” kata Andi.

Kasus hantavirus global saat ini berkaitan dengan klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar lintas Atlantik dan Afrika.

Virus yang teridentifikasi adalah Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi.

Meski demikian, Kemenkes menyebut Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS. Indonesia sejauh ini hanya mencatat infeksi hantavirus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991.

Baca juga: Vaksin Hantavirus Sedang Dikembangkan, Ahli Sebut Prosesnya Bisa Bertahun-tahun

WNA kontak erat hantavirus di Indonesia dinyatakan negatif

Ilustrasi hantavirus. Kemenkes meminta masyarakat lebih waspada terhadap hantavirus yang ditularkan tikus, terutama di wilayah rawan banjir dan lingkungan kurang bersih.WHO Ilustrasi hantavirus. Kemenkes meminta masyarakat lebih waspada terhadap hantavirus yang ditularkan tikus, terutama di wilayah rawan banjir dan lingkungan kurang bersih.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap hantavirus, Kemenkes juga mengumumkan hasil pemeriksaan seorang warga negara asing (WNA) di Indonesia yang sempat berkontak erat dengan penumpang kapal MV Hondius.

Andi menjelaskan, WNA laki-laki berinisial KE (60) yang tinggal di Jakarta Pusat sempat berada dalam satu penerbangan dengan salah satu korban hantavirus.

Meski memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol dan riwayat penggunaan rokok elektrik, hasil laboratorium menunjukkan pasien negatif hantavirus.

“Berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif Hantavirus,” ujar Andi.

Namun, pemantauan tetap dilakukan secara ketat di RSPI Sulianti Saroso.

Kemenkes menyebut investigasi dilakukan kurang dari 24 jam setelah notifikasi diterima dari International Health Regulation (IHR) National Focal Point pada 7 Mei 2026.

Selain itu, petugas Puskesmas Kecamatan Senen juga diminta melakukan pemantauan rutin terhadap kontak erat tersebut.

Baca juga: CDC Aktifkan Status Darurat Level 3 usai Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar

Kemenkes minta masyarakat tetap waspada

Kemenkes meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan meski hingga kini belum ditemukan penularan hantavirus dari tikus ke manusia di Indonesia.

Menurut Andi, kewaspadaan penting dilakukan mengingat laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tiga orang meninggal dalam klaster kapal pesiar MV Hondius dengan tingkat fatalitas mencapai 37,5 persen.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, dan segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mengarah pada infeksi penyakit menular.

Baca juga: CDC Tetapkan Hantavirus Darurat Level 3, Ini Risiko dan Cara Penularannya

Tag:  #kemenkes #ingatkan #bahaya #hantavirus #tikus #banjir #jadi #faktor #risiko

KOMENTAR