Beda Nasib Netanyahu dan Trump di Tengah Perang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)
14:06
21 Maret 2026

Beda Nasib Netanyahu dan Trump di Tengah Perang Iran

- Konflik Timur Tengah antara antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran mulai menunjukkan peta politik yang kontras. 

Jika perang ini berakhir dalam waktu dekat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diprediksi akan keluar sebagai "pemenang besarnya", sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (19/3/2026).

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru harus berhadapan dengan guncangan pasar global dan keretakan hubungan dengan sekutu Washington di Teluk.

Baca juga: AS-Israel Mulai Beda Tujuan di Iran, Trump-Netanyahu Tak Padu

Bagi Netanyahu, perang ini berhasil mengubah peta politik Israel sesuai dengan agendanya. 

"Ada pemenang dan pecundang yang jelas," ujar Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah untuk AS. 

"Netanyahu adalah pemenang utamanya. Dia berhasil menunjukkan kompetensi militer Israel," sambungnya.

Sebaliknya, bagi Trump, perang ini justru menjadi jebakan tanpa jalan keluar yang jelas. 

Baca juga: Cerita WNI Rayakan Idul Fitri di UEA: Lebaran di Tengah Bunyi Alarm Peringatan Rudal Iran

Trump, yang awalnya menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, disebut salah mengalkulasi karakter kepemimpinan di Teheran.

Pakar Iran, Karim Sadjadpour, menilai bahwa Trump awalnya berharap menemukan sosok seperti Delcy Rodriguez dari Venezuela yang bisa diajak berkompromi. 

Namun, yang dia temukan justru "Kim Jong-un versi Iran", merujuk pada model rezim otoriter Korea Utara yang membangkang.

Berbeda dengan perdebatan di Washington, publik Israel melihat perang ini bukan sebagai pilihan, melainkan kebutuhan. 

Natan Sacks, peneliti senior di Middle East Institute, menjelaskan bahwa melemahkan Iran dan poros milisinya adalah tujuan krusial bagi Netanyahu, terlepas dari apakah pergantian rezim terjadi atau tidak.

Baca juga: Serangan Israel Tewaskan 1.001 Orang di Lebanon, 3.134 di Iran

Pembagian wilayah operasi

Secara teknis, pejabat Israel mengungkapkan adanya pembagian wilayah operasi udara. 

Israel fokus pada wilayah barat dan utara Iran untuk menyerang situs rudal balistik dan nuklir. 

Sementara itu, AS berkonsentrasi di wilayah timur dan selatan, termasuk Selat Hormuz, guna melumpuhkan kemampuan angkatan laut Iran.

Israel juga mengeklaim telah membunuh sejumlah petinggi Iran, termasuk Kepala Dewan Keamanan Ali Larijani pada Selasa (17/3/2026) dan Menteri Intelijen Esmail Khatib pada Rabu (18/3/2026). 

Baca juga: Juru Bicara Garda Revolusi Iran Tewas Diserang AS-Israel

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa dia dan Netanyahu telah memberi mandat penuh kepada militer untuk menyerang pejabat senior Iran mana pun tanpa perlu persetujuan tambahan.

Namun, keberhasilan militer ini belum tentu mengakhiri perang. Direktur Intelijen AS, Tulsi Gabbard, mengingatkan dalam laporannya kepada Kongres bahwa meski melemah, pemerintah Iran tetap utuh dan proksinya masih mampu menyerang kepentingan AS dan sekutu di Timur Tengah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di negara-negara Teluk. 

"Ancaman yang mereka rasakan saat ini menyangkut masa depan keamanan dan stabilitas Teluk," papar Miller.

Baca juga: Macron Ingin Perang Iran Dijeda Saat Idul Fitri: Semua Orang Harus Tenang

Ketegangan AS-Israel

Kapal-kapal penyapu ranjau NATO berlabuh di pelabuhan Cherbourg, 15 Oktober 2007, sebelum mengambil bagian dalam misi besar untuk membersihkan perairan lepas pantai Normandia dari ranjau peninggalan dua Perang Dunia terakhir yang dimulai pada 16 Oktober 2007, menurut pihak berwenang Perancis. Operasi yang dijadwalkan berlangsung hingga 29 Oktober ini melibatkan tujuh kapal dari NATO, dua kapal penyapu ranjau Perancis, dan sekitar 450 pelaut dari tujuh negara.MARINE NATIONALE / AFP Kapal-kapal penyapu ranjau NATO berlabuh di pelabuhan Cherbourg, 15 Oktober 2007, sebelum mengambil bagian dalam misi besar untuk membersihkan perairan lepas pantai Normandia dari ranjau peninggalan dua Perang Dunia terakhir yang dimulai pada 16 Oktober 2007, menurut pihak berwenang Perancis. Operasi yang dijadwalkan berlangsung hingga 29 Oktober ini melibatkan tujuh kapal dari NATO, dua kapal penyapu ranjau Perancis, dan sekitar 450 pelaut dari tujuh negara.

Ketegangan antara AS dan Israel sempat mencuat saat Israel menyerang lapangan gas South Pars, deposit gas alam lepas pantai terbesar di dunia yang dikelola bersama oleh Iran dan Qatar. 

Trump bereaksi keras melalui media sosial dengan menyatakan AS tidak tahu-menahu soal serangan tersebut.

Pernyataan Trump ini bertolak belakang dengan klaim sebelumnya bahwa militer kedua negara bergerak selaras. 

Analis menilai Israel lebih berani menoleransi instabilitas di Iran karena merasa lebih aman setelah melemahnya Hamas dan Hizbullah.

"Negara-negara kawasan mulai mempertanyakan apakah Israel memang menginginkan kekacauan di Iran," kata Assaf Orion, mantan kepala strategi militer Israel. 

Menurutnya, Israel tidak akan terdampak separah negara-negara Teluk atau Washington jika Iran jatuh ke dalam kekacauan total.

Baca juga: Trump Telah Larang Netanyahu Serang Gas Iran, AS-Israel Mulai Berseberangan?

Tag:  #beda #nasib #netanyahu #trump #tengah #perang #iran

KOMENTAR