Meski Ditunda, Ancaman Trump ke Iran Disebut Lebih Ngeri dari Bom Atom Jepang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Meski demikian, ancaman tersebut dinilai lebih mengerikan daripada tragedi bom atom di Jepang saat Perang Dunia II.(AFP/JIM WATSON)
06:06
24 Maret 2026

Meski Ditunda, Ancaman Trump ke Iran Disebut Lebih Ngeri dari Bom Atom Jepang

Penundaan serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur energi Iran, tidak serta merta membuat warga di Negeri Persia itu lega.

Diketahui, Presiden AS Donald Trump belum lama ini telah mengumumkan menunda membombardir sektor vital, yakni sumber listrik Iran, setelah adanya negosiasi yang ia klaim berlangsung produktif dengan Teheran.

Namun demikian, pemerintah Iran langsung membantah adanya komunikasi langsung maupun melalui perantara.

Baca juga: Iran Bantah Nego dengan AS, Sebut Trump Akal-akalan Tekan Harga Energi

Justru, masyarakat Iran saat ini dibayangi kekhawatiran atas keputusan Trump tersebut.

Pasalnya, penundaan ini hanya bersifat sementara sehingga ketegangan masih akan terus dirasakan setidaknya hingga beberapa hari ke depan.

Situasi ini juga memperkuat pandangan sejumlah tokoh di Iran yang menilai ancaman terhadap pasokan listrik hanyalah pengalihan dari tujuan strategis yang lebih besar, yakni penguasaan Selat Hormuz.

Kecemasan warga Iran

Warga Teheran pada Minggu (8/3/2026) pagi menunjukkan bekas hujan minyak dengan air berwarna hitam di atap rumahnya, setelah gudang BBM Iran diserang Israel-Amerika Serikat (AS) pada malam sebelumnya.AFP/ATTA KENARE Warga Teheran pada Minggu (8/3/2026) pagi menunjukkan bekas hujan minyak dengan air berwarna hitam di atap rumahnya, setelah gudang BBM Iran diserang Israel-Amerika Serikat (AS) pada malam sebelumnya.

Ancaman pemberangusan sumber listrik itu memang disebut akan menimbulkan dampak serius jika berlangsung lama.

Penulis yang juga tokoh reformis Iran, Ahmad Zeidabadi, menggambarkan potensi krisis tersebut dengan merujuk pada novel pasca-apokaliptik Blindness karya Jose Saramago, yang menceritakan dunia yang tenggelam dalam kegelapan.

Ia menilai gertakan Trump merupakan ancaman terbesar yang ditimbulkan terhadap Iran atau negara mana pun di dunia sepanjang sejarah.

"Bayangkan jika listrik untuk populasi 90 juta jiwa terputus untuk waktu yang lama di zaman sekarang ini! Apa yang akan terjadi? Pertama-tama, semua rumah dan jalan akan gelap gulita dan orang tua serta orang sakit akan terkunci di menara tempat tinggal mereka. Segera setelah itu, siklus produksi semua jenis barang dan jasa akan berhenti," kata Zeidabadi, dikutip dari The Guardian, Senin (23/3/2026).

"Air, gas, bensin, dan solar akan menjadi langka. Tidak ada makanan, tidak ada sanitasi, tidak ada transportasi, tidak ada keamanan! Situasi apokaliptik yang mirip atau bahkan jauh lebih buruk daripada yang digambarkan José Saramago dalam novelnya, Blindness! Oleh karena itu, ancaman yang dibuat Trump terhadap rakyat dan negara kita jauh lebih serius daripada pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki, dan merupakan contoh kejahatan terbesar dalam sejarah terhadap kemanusiaan."

Zeidabadi juga menggambarkan Trump sebagai sosok yang tidak rasional, namun tetap memegang kendali atas kekuatan militer terbesar di dunia. 

Baca juga: Trump Ejek PM Inggris lewat Video Medsos, Dinilai Kurang Membantu AS Lawan Iran

Dia melanjutkan, “Jika rakyat Amerika atau negara lain tidak menghentikan makhluk biadab ini, Timur Tengah akan langsung menjadi neraka yang tak terbayangkan dan kemudian menjadi tanah tandus dan tidak layak huni.”

Iran janji balas ancaman Trump

Sementara itu, putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yakni Yousef Pezeshkian dalam catatannya menyinggung kemungkinan balasan dari Teheran.

Ia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur akan membawa konsekuensi balik.

“Ketika Amerika menyerang infrastruktur, konsekuensi dari hal ini akan kembali kepada Anda. Anda tidak bisa mengatakan: ‘Saya akan memutus aliran listrik Anda, tetapi Anda tidak boleh memutus aliran listrik saya.’ Apa pun yang kita lakukan cepat atau lambat akan kembali menghantui kita," ujarnya yang dikutip oleh The Guardian.

Di sisi lain, mantan duta besar Iran untuk Inggris, Mohsen Baharvand, mengkritik keras potensi serangan terhadap fasilitas sipil.

Dalam unggahannya di Telegram, ia menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan kehormatan negara adidaya.

“Tidak ada kehormatan atau kredibilitas yang ditambahkan kepada negara adidaya jika negara tersebut menyerang fasilitas sipil dengan senjata canggih dan destruktif serta menyebabkan masalah kritis bagi negara sipil.”

Ia juga menilai tidak perlu pembuktian tambahan untuk menyebut tindakan tersebut sebagai kejahatan perang, terutama jika seorang pemimpin dunia menjadikan operasi militer sebagai bentuk hiburan.

Baca juga: Trump Mendadak Tunda Serang Sektor Listrik Iran, Klaim Teheran Mau Diskusi

Tag:  #meski #ditunda #ancaman #trump #iran #disebut #lebih #ngeri #dari #atom #jepang

KOMENTAR