Trump Lagi-lagi Sesumbar Menang Lawan Iran, Hendak Akhiri Perang?
Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global Presiden Donald Trump. Tak lama berselang, Trump menyatakan kecewa dan langsung menyiapkan tarif global baru 10 persen sebagai pengganti.(AFP/SAUL LOEB)
18:00
25 Maret 2026

Trump Lagi-lagi Sesumbar Menang Lawan Iran, Hendak Akhiri Perang?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang melawan Iran telah dimenangkan oleh pihaknya. 

Klaim tersebut disampaikan kepada wartawan di Ruang Oval pada Selasa (24/3/2026) usai pelantikan Menteri Keamanan Dalam Negeri.

Namun, ia secara bersamaan mengakui belum bisa memastikan kapan konflik tersebut benar-benar akan berakhir. 

Baca juga: Penasihat Trump Sarankan AS Mundur dari Perang Iran dan Segera Umumkan Kemenangan

“Saya pikir kita akan mengakhirinya. Saya tidak bisa memberi tahu Anda dengan pasti. Anda tahu, saya tidak suka mengatakan ini, perang ini sudah dimenangkan. Satu-satunya yang ingin terus melanjutkannya adalah media palsu,” ujar Trump.

Meski menyatakan kemenangan, Trump dalam berbagai kesempatan memberikan sinyal yang berubah-ubah, mulai dari kemungkinan negosiasi damai hingga peluang serangan lanjutan.

Ia juga menekankan keunggulan militer Amerika Serikat di wilayah Iran.

“Kita benar-benar memiliki pesawat yang terbang di atas Teheran dan bagian lain negara mereka. Mereka tidak bisa melakukan apa pun,” katanya.

Sebelumnya, Presiden ke-47 AS ini juga pernah mendeklarasikan kemenangan atas perang melawan Iran, yang ia sampaikan di depan pendukungnya di Kentucky, Rabu (11/3/2026).

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS sudah memenangkan perang sejak serangan hari pertama. Ia juga mengeklaim telah melemahkan kemampuan militer Iran.

Singgung “perubahan rezim” Iran

Rakyat Iran merayakan ditunjuknya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pasca kematian sang ayah, Ali Khamenei, dalam serangan AS dan Israel.AFP Rakyat Iran merayakan ditunjuknya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pasca kematian sang ayah, Ali Khamenei, dalam serangan AS dan Israel.

Trump turut menyinggung adanya perubahan kepemimpinan di Iran selama konflik berlangsung.

“Ini benar-benar merupakan perubahan rezim karena para pemimpinnya sekarang sangat berbeda dari yang kita hadapi di awal,” ucapnya.

Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, merupakan putra dari pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei, yang meninggal dunia pada hari pertama serangan gabungan AS dan Israel. 

Sejak diumumkan sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba belum terlihat di publik.

Negosiasi diwarnai bantahan Iran

Di tengah klaim kemenangan, Trump sebelumnya mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap fasilitas militer Iran selama lima hari guna membuka ruang negosiasi antara Washington dan Teheran.

Namun, pihak Iran membantah adanya perundingan langsung tersebut.

Baca juga: Trump Umumkan Menang Perang Lawan Iran, tapi Masih Harus Bereskan 1 Hal Ini

Juru bicara komando militer tertinggi Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, menegaskan bahwa pasukan Iran akan terus bertempur hingga meraih kemenangan penuh.

AS tegaskan keunggulan militer

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut menegaskan dominasi militer Amerika dalam konflik ini.

“Belum pernah ada militer modern yang dihancurkan begitu cepat dan secara historis dikalahkan sejak hari pertama dengan kekuatan tembak yang luar biasa,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pendekatan keras AS dalam menghadapi Iran.

“Kami bernegosiasi dengan bom. Anda punya pilihan tentang masa depan Anda saat kami berada di atas Teheran, seperti yang dikatakan presiden. Presiden telah menjelaskan bahwa Anda tidak akan memiliki senjata nuklir,” katanya.

Hegseth menambahkan bahwa konflik ini tidak akan berujung seperti perang AS di Irak dan Afghanistan.

Sementara itu, perang yang dimulai sejak 28 Februari itu telah menimbulkan korban besar. Sedikitnya 1.500 orang tewas dan 18.551 lainnya terluka di Iran, berdasarkan data kementerian kesehatan yang disiarkan televisi pemerintah.

Di sisi lain, serangan Iran terhadap Selat Hormuz membuat jalur pelayaran vital terganggu dan memicu krisis energi global. Dampaknya, harga bahan bakar di Amerika Serikat naik sekitar 1 dollar AS (Rp 16.886) per galon.

Kondisi ini menambah tekanan politik terhadap Trump, terutama menjelang pemilu paruh waktu yang semakin dekat.

Risiko eskalasi masih mengintai

Meski mengeklaim kemenangan, AS tetap mengirim tambahan pasukan ke kawasan tersebut. Pasukan ini berpotensi digunakan dalam operasi darat, termasuk di Pulau Kharg yang menjadi pusat depot minyak terbesar Iran.

Namun, langkah tersebut berisiko meningkatkan jumlah korban dari pihak AS sekaligus menambah tekanan politik bagi pemerintahan Trump.

Baca juga: Iran Diserang, Kim Jong Un Ambil Pelajaran soal Nuklir

Tag:  #trump #lagi #lagi #sesumbar #menang #lawan #iran #hendak #akhiri #perang

KOMENTAR