Kenapa AS Tak Gunakan Kekuatan Militer untuk Buka Selat Hormuz?
Ketegangan di Selat Hormuz kian meningkat setelah Iran menargetkan kapal-kapal dagang di jalur vital tersebut akibat perang yang terjadi dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari.
Aksi ini membuat arus pengiriman minyak dan gas terganggu, bahkan memicu krisis energi global.
Meski demikian, Amerika Serikat belum mengambil langkah militer langsung untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, walaupun Presiden Donald Trump telah memberi ultimatum kepada Iran agar menghentikan serangan.
Baca juga: Bagaimana Kapal Minyak Lewati Selat Hormuz dengan Aman di Tengah Perang Iran Vs Amerika-Israel?
Seorang ahli angkatan laut, Jennifer Parker, sebagaimana dilansir The Independent pada Jumat (27/3/2206), menjelaskan bahwa keputusan AS ini bukan tanpa alasan. Ada sejumlah faktor strategis dan risiko besar yang membuat operasi militer di Selat Hormuz menjadi sangat kompleks.
Fokus militer AS masih pada target utama
Menurut Parker, AS saat ini lebih memprioritaskan penghancuran kemampuan utama Iran, seperti program nuklir dan rudal balistiknya.
Selain itu, jaringan proksi Iran juga menjadi target penting dalam operasi militer yang sedang berlangsung.
Mengalihkan sumber daya militer untuk mengamankan Selat Hormuz berisiko mengganggu pencapaian tujuan utama tersebut.
Padahal, operasi terhadap target strategis Iran membutuhkan kekuatan udara, intelijen, dan persenjataan dalam jumlah besar.
Mengamankan selat tak cukup dari laut
Upaya membuka Selat Hormuz tidak hanya soal mengerahkan kapal perang. AS juga perlu mengendalikan wilayah daratan di sekitar selat, terutama garis pantai Iran yang menjadi titik peluncuran serangan.
Hal ini bisa berarti pengerahan pasukan darat atau operasi serangan terbatas ke wilayah Iran—langkah yang dinilai sangat berisiko dan berpotensi memperluas konflik.
Baca juga: Apakah Iran Berhak Patok Tarif untuk Kapal yang Lewat Selat Hormuz?
Membutuhkan banyak kapal perang
Kapal induk Amerika Serkat USS Gerald R Ford saat meninggalkan Teluk Souda di Pulau Kreta, Yunani, 26 Februari 2026 untuk menuju Timur Tengah.
Untuk memastikan keamanan kapal dagang, AS harus menyediakan pengawalan militer dalam setiap pelayaran. Idealnya, satu hingga dua kapal perang diperlukan untuk satu misi pengawalan.
Namun, semakin besar konvoi kapal, semakin tinggi pula risiko serangan dari Iran, kecuali kemampuan serangan Teheran telah dilemahkan secara signifikan.
Risiko tinggi bagi personel militer
Setiap kapal perang AS membawa lebih dari 200 personel. Dalam kondisi Iran masih memiliki kemampuan menyerang menggunakan drone, rudal, dan kapal tanpa awak, risiko terhadap keselamatan pasukan menjadi sangat tinggi.
Parker menilai, sebelum ancaman dari wilayah pantai Iran benar-benar dikurangi, pengerahan kapal perang justru bisa menimbulkan kerugian besar bagi AS.
Ancaman tambahan: Ranjau laut dan drone
Selain serangan langsung, Iran juga berpotensi menggunakan ranjau laut untuk menghambat pelayaran.
Bahkan, tanpa benar-benar memasang ranjau, cukup dengan menciptakan persepsi adanya ancaman, kapal-kapal sipil sudah enggan melintas.
Proses pembersihan ranjau sendiri bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Di sisi lain, penggunaan drone oleh Iran juga menjadi tantangan serius karena sulit dideteksi dan bisa diluncurkan dari berbagai lokasi.
Baca juga: Gegara Tak Dukung AS Serang Iran, Spanyol Diizinkan Lewat Selat Hormuz
Tag: #kenapa #gunakan #kekuatan #militer #untuk #buka #selat #hormuz