Survei: Anak Muda Anggap Gamer Karier Menjanjikan, Orangtua Masih Ragu
Ilustrasi pemain e-sports memainkan game MOBA.(Acer)
18:06
18 Mei 2026

Survei: Anak Muda Anggap Gamer Karier Menjanjikan, Orangtua Masih Ragu

- Bermain game kini tak lagi sekadar hobi atau pengisi waktu luang.

Bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z (Gen Z), dunia game terutama e-sports mulai dipandang sebagai jalur karier yang serius dan menjanjikan.

Namun, di tengah meningkatnya popularitas industri game kompetitif ini, masih banyak orangtua yang ragu dan menganggap profesi gamer profesional sebagai pekerjaan yang stabil dan layak untuk masa depan.

Temuan ini terungkap dalam survei global Logitech G PRO Series Survey yang melibatkan 18.000 responden di 12 negara, termasuk Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, hingga Australia.

Meski tidak memuat data Indonesia, temuan ini mencerminkan fenomena global tentang berubahnya cara anak muda memandang dunia kerja di era digital.

Nah, hasil survei di atas menunjukkan lebih dari separuh responden global (54 persen) menganggap game profesional sebagai jalur karier yang sah.

Baca juga: Karier di E-sports Tak Sekadar Jadi Pro Player

Dukungan paling besar datang dari generasi muda. Sebanyak 67 persen Gen Z dan 60 persen generasi Milenial percaya bahwa menjadi atlet e-sports atau gamer profesional merupakan profesi yang valid.

Sebaliknya, hanya 37 persen responden generasi Baby Boomers yang memiliki pandangan serupa.

Survei tersebut mengkategorikan Gen Z sebagai generasi yang lahir sekitar tahun 1997-2012. Sementara generasi Milenial lahir sekitar 1981-1996, dan Baby Boomers merupakan generasi yang lahir pada rentang 1946-1964.

Perbedaan pandangan antar generasi ini menunjukkan bahwa dunia e-sports semakin diterima oleh anak muda, tetapi belum sepenuhnya dipahami oleh generasi yang lebih tua, termasuk para orangtua.

Anak muda melihat e-sports sebagai masa depan

Beberapa temuan utama di survei Logitech tentang karier di dunia e-sports.Logitech Beberapa temuan utama di survei Logitech tentang karier di dunia e-sports.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri e-sports memang berkembang pesat. Turnamen game kini menawarkan hadiah miliaran rupiah, tim e-sports mendapat dukungan sponsor besar, dan atlet game mulai diperlakukan layaknya atlet olahraga profesional.

Fenomena ini membuat banyak anak muda mulai melihat dunia game sebagai peluang karier di era digital, bukan hanya untuk hiburan semata.

"Riset ini menunjukkan seberapa jauh e-sports dan gaming berkembang, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga jalur nyata menuju kesuksesan pribadi dan profesional," Global Communications Gaming Lead Logitech G, Derek Perez dalam sebuah pernyataan.

Meski begitu, ia menilai masih banyak hal yang perlu dilakukan agar generasi muda mendapat dukungan untuk membangun karier di industri game profesional.

Menurut Perez, dukungan perusahaan teknologi dan industri e-sports akan membuka lebih banyak peluang kerja di sektor tersebut.

"Semakin banyak perusahaan seperti Logitech mendukung atlet dan industri e-sports secara keseluruhan, maka semakin besar pula peluang bagi masyarakat di seluruh dunia untuk meniti karier di bidang e-sports," imbuh Derek.

Orangtua masih menganggap profesi gamer berisiko

Logitech resmi memboyong wireless headset dari keluarga G-series ke Indonesia, yakni Logitech G325 LIGHTSPEED yang dirancang untuk penggemar game alis gamer.Logitech Logitech resmi memboyong wireless headset dari keluarga G-series ke Indonesia, yakni Logitech G325 LIGHTSPEED yang dirancang untuk penggemar game alis gamer.

Kendati mulai diterima generasi muda, profesi gamer profesional masih kalah jauh dibanding pekerjaan konvensional dari sisi prestise.

Dalam survei yang sama, tenaga kesehatan dianggap sebagai profesi paling terhormat secara global dengan angka 55 persen. Disusul pengacara (33 persen), guru atau dosen (30 persen), dan teknisi (28 persen).

Sementara itu, profesi gamer profesional hanya memperoleh angka 8 persen dalam kategori pekerjaan yang dianggap bergengsi atau terhormat.

Bahkan hanya 1 persen responden Baby Boomers dan 3 persen Gen X (generasi yang lahir sekitar 1965-1980) yang mengatakan akan mendorong anak atau orang terdekat mereka menjadi gamer profesional.

Generasi milenial pun masih cenderung berhati-hati. Hanya 4 persen yang mengaku akan merekomendasikan profesi gamer kepada anak muda di sekitar mereka.

Lantas, kenapa generasi yang lebih tua dari Gen Z hati-hati merekomendasikan profesi gamer?

Kekhawatiran terbesar terhadap profesi ini datang dari faktor finansial dan kestabilan pekerjaan.

Sebanyak 42 persen responden menilai karier gamer profesional memiliki risiko keuangan tinggi. Selain itu, 34 persen menyebut industri ini terlalu kompetitif, sementara 31 persen mengatakan kurangnya dukungan orangtua dan masyarakat menjadi hambatan utama.

Sekitar sepertiga responden global juga menganggap profesi gamer tidak menawarkan jaminan pekerjaan jangka panjang.

Sebanyak 42 persen responden bahkan menilai profesi ini belum dianggap pekerjaan “nyata”, lantaran masih identik dengan aktivitas hobi semata.

Baca juga: 10 Turnamen E-sports Paling Populer Tahun 2025

Dianggap butuh kemampuan serius

Ilustrasi gamers memakai aksesosi dari Vention.Dok Vention Ilustrasi gamers memakai aksesosi dari Vention.

Selain belum dianggap prestisius dan dinilai berisiko, banyak responden juga memandang karier di dunia e-sports memiliki tuntutan serta tingkat kompetisi yang tinggi.

Sebanyak 84 persen responden menilai karier di dunia game kompetitif membutuhkan kemampuan mental yang kuat. Sementara itu, 55 persen responden menyebut profesi gamer profesional juga menuntut ketahanan fisik.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai memahami kerasnya latihan para atlet e-sports. Sekitar 27 persen responden memperkirakan gamer profesional dapat berlatih selama 10-12 jam per hari, lebih panjang dibanding jam kerja kantoran pada umumnya.

Dengan tuntutan tinggi seperti itu, sebagian responden menilai karier di industri e-sports perlu dipersiapkan sejak dini.

Hal ini terlihat dari dukungan terhadap pendidikan e-sports di sekolah. Hampir setengah responden global (47 persen) setuju bahwa sekolah perlu menghadirkan kelas e-sports di kurikulum, berdampingan dengan olahraga tradisional.

Dukungan terhadap gagasan ini sangat tinggi di beberapa negara seperti China (77 persen) dan Swiss (73 persen). Namun negara seperti Inggris, Prancis, dan Jerman masih cenderung lebih berhati-hati.

Secara global, sebanyak 65 persen responden juga mendukung adanya jalur pendidikan formal untuk karier e-sports dan game profesional, baik melalui universitas, perguruan tinggi, maupun kursus khusus.

Adapun beberapa hal yang dinilai dapat membuat profesi gamer lebih diterima masyarakat antara lain liputan media yang lebih luas, fasilitas pelatihan profesional, serta transparansi pendapatan atlet e-sports.

Selain itu, kehadiran e-sports di ajang olahraga global seperti Olimpiade juga dianggap dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi karier anak muda di industri tersebut, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Logitech.

Tag:  #survei #anak #muda #anggap #gamer #karier #menjanjikan #orangtua #masih #ragu

KOMENTAR